<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612</id><updated>2012-01-21T16:48:49.097-08:00</updated><category term='sholat jamaah'/><category term='tambal gigi'/><category term='puasa rajab'/><category term='sholat sunnah'/><category term='puasa daud'/><category term='sholat jumat wanita'/><category term='shodaqoh melebihi kadar'/><category term='Musyabbihah'/><category term='sutrah'/><category term='Aqiqah'/><category term='Tentang Kami'/><category term='lafadz iqomah'/><category term='zina'/><category term='media cetak'/><category term='Mengusap muka setelah berdoa'/><category term='yasinan'/><category term='ibadah yang baik'/><category term='sholat ghoib'/><category term='dzikir dengan tangan kiri'/><category term='menikah setelah berzina'/><category term='ucapan assalamualaika'/><category term='wanita'/><category term='menembok kuburan'/><category term='Perkawinan'/><category term='posisi imam wanita'/><category term='mengucapkan selamat natal'/><category term='Fiqih'/><category term='gigi palsu'/><category term='lafadz adzan'/><category term='puasa'/><category term='ibu mertua'/><category term='minum air zamzam'/><category term='nisfu aya&apos;ban'/><category term='mengadzankan mayit di liang kubur'/><category term='wanita haid'/><category term='Berita'/><category term='tuntunan sholat'/><category term='uang riba'/><category term='Bid&apos;ah'/><category term='masjid'/><category term='dakwah umum'/><category term='doa bersama'/><category term='sholat takhiyatul masjid'/><category term='mendahului gerakan imam'/><category term='sholat dan keputihan'/><category term='adzan'/><category term='tayammum'/><category term='jenazah'/><category term='qunut nazilah'/><category term='waktu membaca doa'/><category term='puasa wanita hamil'/><category term='Khitan Wanita'/><category term='menyapu kepala'/><category term='sumpah dan nadzar'/><category term='syafaat'/><category term='sujud syukur'/><category term='sholat sunnah qobliyah isya'/><category term='sholat'/><category term='intermezzo'/><category term='mengqadha puasa'/><category term='adik saudara sepersusuan'/><category term='nikah'/><category term='menyentuh wanita'/><category term='sholat wanita'/><category term='sholat pindah tempat'/><category term='muamalah'/><category term='doa sholat tarawih'/><category term='sholat di rumah'/><category term='zakat mal'/><category term='tidak taat suami'/><category term='zakat harta'/><category term='mahram'/><category term='zakat anak kepada orang tua'/><category term='macam puasa sunnah'/><category term='sutroh'/><category term='bid&apos;ah dalam aqidah'/><category term='menguburkan jenazah'/><category term='masjid quba'/><category term='uang pensiun dari riba'/><category term='radar lampung'/><category term='sholat jumat'/><category term='Shalat'/><category term='menjual kotoran hewan'/><category term='takwil mimpi'/><category term='faraidh'/><category term='niat sholat'/><category term='Al Qur#039;an'/><category term='lembaga sosial'/><category term='air kencing Rasulullah'/><category term='sifat fi&apos;aliyah'/><category term='buka puasa'/><category term='mu&apos;athilah'/><category term='sholat sunnah setelah shubuh'/><category term='isbal'/><category term='zakat barang temuan'/><category term='zakat harta warisan'/><category term='Takbirotul ihram'/><category term='sholat qashar'/><category term='khutbah jumat'/><category term='membayar zakat'/><category term='mihrab'/><category term='i&apos;tikaf'/><category term='Al Qur&apos;an'/><category term='memotong rambut'/><category term='meninggal dunia'/><category term='do&apos;a buka puasa'/><category term='wudhu'/><category term='junub'/><category term='shodaqoh'/><category term='iqomah'/><category term='zakat tanah'/><category term='Riba dan Jual Beli'/><category term='mengangkat tangan'/><category term='judi'/><category term='bid&apos;ah dalam ibadah'/><category term='zakat hasil perkebunan'/><category term='tahlilan'/><category term='sifat dzatiyah'/><category term='hukum natal bersama'/><category term='sholat sunnah sebelum asar'/><category term='tata cara tidur menurut sunnah'/><category term='mandi jum&apos;at'/><category term='puasa sunnah'/><category term='memandikan jenazah'/><category term='jabat tangan setelah sholat'/><category term='sholat sambil melihat mushaf'/><category term='tertawa saat sholat'/><category term='Meninggalkan sholat jum&apos;at'/><category term='zakat'/><category term='imam terlalu cepat bacaannya'/><category term='ramalan cuaca'/><category term='zakat pns'/><category term='bersin'/><category term='Tauhid'/><category term='menjawab adzan'/><category term='menikah di bulan syawwal'/><category term='zakat padi'/><category term='buku'/><category term='sholat sendirian'/><category term='salah bacaan sholat'/><category term='hutang'/><category term='doa'/><category term='Thoharoh'/><category term='menghadiahkan pahala'/><category term='mandi wajib'/><category term='Puasa Setiap Hari'/><category term='sujud sahwi'/><category term='menemani sholat jamaah'/><category term='air kencing bayi'/><category term='gerhana'/><category term='sholat jamaah estafet'/><category term='zakat hasil pertanian'/><category term='memotong kuku'/><category term='daging qurban'/><category term='jamaah sholat jumat'/><category term='mengusap kepala'/><category term='khurofat'/><title type='text'>Dialog Imani || RRI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>222</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4248254016001862928</id><published>2010-07-08T08:37:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T08:37:26.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa rajab'/><title type='text'>Puasa Sunnah Rajab</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;Apa benar ada puasa khusus bulan Rajab? (085664278XXX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak ada puasa sunnah khusus yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Rajab. Kalaupun ada riwayat yang menyatakan akan hal itu, para ulama ahli hadits menghukumi riwayat-riwayat tersebut lemah bahkan banyak yang palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun diantara para ulama yang menjelaskan kedudukan puasa khusus di bulan Rajab adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab berkata: "Adapun puasa, maka tidak ada hadits yang shahih yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab secara khusus dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak pula dari para sahabatnya." (Lathaiful Ma'arif 228)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ibnu Tamiyah berkata: "Adapun puasa di bulan Rajab secara khusus, maka semua haditsnya dha'if (lemah), bahkan maudhu', tidak ada ulama yang menjadikannya sebagai pegangan. Bukan termasuk dha'if yang diriwayatkan dalam fadha`il (keutamaan amal ibadah), bahkan umumnya adalah hadits-hadits maudhu' yang dusta. Ibnu Majah dalam sunannya meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam&amp;nbsp; bahwasanya beliau melarang puasa di bulan Rajab.' Dan pada isnadnya perlu ditinjau kembali. Akan tetapi shahih riwayat bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu memukul tangan manusia agar mereka meletakkan tangan pada makanan di bulan Rajab dan berkata, 'Janganlah kamu menyerupakannya dengan bulan Ramadhan.' Adapun menentukan beri'tikaf dalam tiga bulan, yaitu Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan, maka aku tidak mengetahui perintah padanya. Bahkan setiap orang yang berpuasa secara benar, dan ingin beri'tikaf dari puasa, niscaya hukumnya boleh tanpa diragukan lagi. Dan jika ia beri'tikaf tanpa berpuasa, dalam masalah ini ada dua pendapat yang terkenal di kalangan ulama. (Al-Fatawa 25/290-292)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Demikian pula pendapat para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah mereka menyimpulkan bahwa tidak ada tuntunannya melakukan puasa khusus pada bulan Rajab.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Adapun diantara riwayat yang dijadikan dalil oleh orang-orang yang melakukan puasa Rajab adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِي, وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِى. فَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْمَيْنِ فَلَهُ مِنَ الْأَجْرِ ضِعْفَانِ, وَوَزُن كُلِّ ضِعْفٍ مِثْلُ جِبَالِ الدُّنْيَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Artinya : &lt;i&gt;“Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hadits ini “Maudhu`” (Palsu)&lt;/b&gt;. Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;مَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ, كُتِبَ لَهُ صِيَامُ شَهْرٍ, مَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ, أَغْلَقَ اللهُ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ, وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ, فَتَحَ اللهُ لَهُ ثمَاَنِيَةَ أَبْوَابٍ مِنَ الْجَنَّةِ, وَمَنْ صَامَ نِصْفَ رَجَبٍ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَابًا يَسِيْرًا.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Artinya : “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِنَّ شَهْرَ رَجَبٍ شَهْرٌ عَظِيْمٌ. مَنْ صَامَ مِنْهُ يَوْمًا كُتِبَ لَهُ صَوْمُ أَلْفِ سَنَةٍ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Artinya : “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar. &lt;b&gt;[Lihat Al Fawaaid Al Majmu`ah fi Al Ahadiits Al Maudhu`ah, hal. 100-101,&lt;br /&gt;dan hal. 439-440. Karya : Syaikul Islam Muhammad Bin `Ali As &lt;br /&gt;Syaukaniy (Wafat : 1250 H]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Para Salafus Shalih baik dari kalangan sahabat, tabi'in maupun orang-orang setelah mereka mengingkari akan puasa khusus Rajab, diantara pengingkaran mereka adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Umar bin Khatab Radhiyallahu 'anhu bahwa ia memukul tangan orang-orang yang puasa Rajab hingga mereka meletakkannya pada makanan (membatalkan puasanya) seraya berkata: “Apakah Rajab itu? Bulan ini dulu dimuliakan orang-orang jahiliyah, setelah Islam datang hal ini ditinggalkan.” Dalam riwayat lain: “ia tidak suka puasa Rajab dianggap sunah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu ia melarang puasa penuh pada bulan Rajab. &lt;br /&gt;Dari Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu ia melihat keluarganya bersiap-siap untuk puasa Rajab, ia berkata: “Apakah kalian menjadikan Rajab seperti Ramadan?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu ia berpendapat untuk tidak berpuasa beberapa hari pada bulan ini sedangkan Anas bin Malik dan Said bin Jubair dan yang lainnya memakruhkannya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;(Lihat Tabiyinul 'Ajab fima warada fi fadhli Rajab, karya Ibnu hajar hal. 6. dan lihat:&amp;nbsp; as-Sunan wa al-Mubtada'at karya asy-Syuqairi hal. 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak adanya keutamaan berpuasa di bulan Rajab secara khusus tidak berarti kita tidak boleh melakukan puasa sunnah di bulan itu seperti puasa hari Senin dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa sehari dan buka sehari, puasa-puasa sunnah yang umum ini tetap dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan Rajab ini dengan catatan tidak diyakini memiliki keutamaan khusus atau memiliki fadhilah yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya. (Lihat Al-Bida' wal hawadits, ath-Tharthusyi hal. 110-111, dan lihat Tabyinul 'ajab karya Ibnu Hajar hal 37-38) &lt;br /&gt;Wallahu a'lam bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4248254016001862928?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4248254016001862928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/puasa-sunnah-rajab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4248254016001862928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4248254016001862928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/puasa-sunnah-rajab.html' title='Puasa Sunnah Rajab'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4058758006570203606</id><published>2010-07-06T17:50:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T17:50:18.963-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengusap muka setelah berdoa'/><title type='text'>Hukum Mengusap Muka Setelah Doa</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana hukumnya mengusap muka setelah berdoa sehabis sholat fardhu? (081321401XXX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo'a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kita dapati banyak riwayat yang menjelaskan tentang mengusap muka dengan kedua telapak tangan setelah berdoa, namun riwayat-riwayat tersebut tidak ada satupun yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa riwayat tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Umar bin Khattab Radliyallahu ’anhu ia berkata: "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah. &lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu 'Asakir (7/12/2). Dengan sanad Hammaad ibn 'Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn 'Abdullah dari bapaknya dari 'Umar ibn al-Khatthab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; At Tirmidzi berkata : "Hadits ini gharib, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn 'Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib At Tahdzib, menjelaskan tentang riwayat hidupnya, menukil penilaian Ibnu Ma'in berkata: 'Dia adalah Syaikh yang baik', Abu Hatim berkata: 'Lemah didalam (meriwayatkan) hadits', Abu Dawud berkata: 'Lemah, dia meriwayatkan hadits-hadits munkar'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal senada dikatakan oleh Hakim, Naqash, Ad Daraquthni dan Ibnu Hibban. (Lihat Irwaul Ghalil 2/178)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Kedua: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Said bin Yazid dari bapaknya bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika berdo'a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tersebut."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini Dha'if (lemah). &lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492) dari Ibnu Lahi'ah dari Hafsh bin Hisyam bin 'Utbah bin Abi Waqqash dari Sa'ib bin Yazid dari ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ini adalah hadits dha'if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi'ah (Taqribut Tahdzib). (Lihat Irwaul Ghalil 2/179)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Ibnu Abbas. Ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika engkau berdo'a kepada Allah, mohonlah dengan kedua telapakmu yang bagian dalam, janganlah engkau memohon dengan punggung kedua telapak tangan. Dan jika engkau sudah selesai (berdo'a) maka usapkan kedua (telapak tangan) tersebut kewajahmu". &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah. &lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir (3/98/1) &amp;amp; Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka'b dari Ibnu 'Abbas radiallaahu 'anhu (marfu'). (Lihat Irwaul Ghahlil 2/179)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Keempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;سَلُوا اللَّهَ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا فَإِذَا فَرَغْتُمْ فَامْسَحُوا بِهَا وُجُوهَكُمْ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Mohonlah kalian kepada Allah dengan kedua telapakmu yang bagian dalam, janganlah kalian memohon kepada-Nya dengan punggung kedua telapak tangan. Dan jika kalian sudah selesai (berdo'a) maka usapkan kedua (telapak tangan) tersebut kewajah kalian".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits ini Lemah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dilemahkan oleh Imam Nawawi (lihat Nazlul Abrar : 36), Al Baghawi dalam Syarah Sunnah 5/203, AL Bushiri dalam Az-Zawaid&amp;nbsp; (Misbahuz Zujajah) 1/141, Syeikh Albani dalam As-Shahihah 2/146 dan Syaikh Bakar Abu Zaid dalam Mashul Wajhi 9-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Inilah beberapa riwayat tentang mengusap wajah setelah berdoa, yang kesemuanya tidak shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, oleh karenanya riwayat-riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Justru kita dapatkan pengingkaran dari para ulama salaf tentang mengusap wajah setelah berdoa ini diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Anas Bin Malik.&lt;br /&gt;Imam AL Maruzi mengatakan dalam Kitabul Witri hal : 236 : "Imam Malik bin Anas Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusapkan kedua telapak tangannya kewajahnya setelah berdoa. Lalu beliau mengingkarinya seraya berkata: "Aku tidak tahu (sunnahnya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abdullah bin Mubarak.&lt;br /&gt;Imam Baihaqi (2/212) meriwayatkan dari Al Basyani ia berkata: "Aku bertanya kepada Abdullah yakni Ibnu Mubarak tentang orang yang berdoa kemudian mengusap wajahnya, beliau menjawab : "Aku tidak mendapati pijakan (dalil) yang kuat tentang persoalan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Izz bin Abdussalam.&lt;br /&gt;Imam Al Munawi dalam Faidhul Qadir 1/369 mengatakan: Imam Izz bin Abdussalam berkata: "Tidaklah mengusap wajahnya kecuali orang yang jahil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam An Nawawi.&lt;br /&gt;Dalam Kitab beliau al Majmu' sebagaimana dinukil oleh Ibnu Allan dalam Syarah Al Adzkar2/311, beliau mengatakan: "Tidak disunnahkan mengusap (wajah) setelah berdoa diluar sholat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;Di dalam Majmu' Fatawa (22/519) beliau mengatakan: "Banyak hadits-hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa. Sedangkan tentang mengusap wajah dengan kedua tangan beliau (setelah berdoa) tidak banyak riwayat dari beliau kecuali satu atau dua riwayat saja, dan kedua riwayat itupun tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (lantaran periwayatannya yang lemah). Wallahu A'lam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya pendapat yang paling kuat adalah tidak disyari'atkannya mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, baik itu dalam sholat seperti ketika membaca doa qunut maupun diluar sholat saat seseorang berdoa memohon kepada Allah Ta'ala. (Lihat kitab Juz Fi Mashil Wajhi Bil Yadaini ba'da Raf'ihima liddu'a, Syeikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4058758006570203606?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4058758006570203606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-mengusap-muka-setelah-doa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4058758006570203606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4058758006570203606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-mengusap-muka-setelah-doa.html' title='Hukum Mengusap Muka Setelah Doa'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3198202050290915795</id><published>2010-07-05T16:30:00.000-07:00</published><updated>2010-07-05T16:30:56.241-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puasa Setiap Hari'/><title type='text'>Hukum Puasa Setiap Hari  Berturut-turut</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apa hukum puasa setiap hari berturut-turut? (Ramli)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Puasa yang dilakukan oleh seseorang setiap hari berturut-turut disebut puasa dahr, puasa seperti ini hukumnya makruh. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/144). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt; berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidaklah dikatakan berpuasa orang yang berpuasa sepanjang masa (terus-menerus)." &lt;/i&gt;(HR. Bukhari No 1977 dan Muslim No 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam riwayat yang bersumber dari Abu Qatadah disebutkan:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الدَّهْرَ كُلَّهُ قَالَ لاَ صَامَ وَلاَ أَفْطَرَ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Umar Berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang masa? Beliau menjawab: "Ia tidak puasa dan tidak pula berbuka."&lt;/i&gt; (HR. Muslim No 2803). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika seseorang ingin memperbanyak puasa maka puasa yang paling baik adalah puasa Daud, sehari berpuasa dan sehari berbuka. Tidak ada puasa sunnah yang lebih baik dan utama dari puasa Daud. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Muslim berikut, dari Umar bin Khattab &lt;i&gt;Radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;قَالَ كَيْفَ مَنْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا قَالَ ذَاكَ صَوْمُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"(Umar) berkata: Bagaimana dengan orang yang sehari berpuasa dan sehari berbuka?" Beliau (Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam) menjawab: "Itu adalah puasa Daud&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;'alaihissalam&lt;/i&gt;." (HR. Muslim No 2803).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا ».&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Abdullah bin Amru Raadhiyallahu 'anhuma ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan sholat yang paling disukai Allah adalah sholatnya Daud 'alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun sepertiga malam dan tidur seperenam malam. Beliau sehari berpuasa dan sehari berbuka." &lt;/i&gt;(HR. Bukhari No 3420 dan Muslim No 2796)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3198202050290915795?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3198202050290915795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-puasa-setiap-hari-berturut-turut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3198202050290915795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3198202050290915795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-puasa-setiap-hari-berturut-turut.html' title='Hukum Puasa Setiap Hari  Berturut-turut'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1017151387149513864</id><published>2010-07-04T15:35:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T15:35:50.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khitan Wanita'/><title type='text'>Hukum Khitan Bagi Wanita</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apa hukumnya khitan bagi wanita? (085269913XXX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jumhur Ulama berpendapat bahwa khitan bagi wanita hukumnya disyariatkan, bahkan menurut madzab Syafi’iyah, Hanabilah (Hanbali) dan sebagian Malikiyah hukumnya adalah wajib. (Lihat Al Majmu’, An Nawawi (1/300), Al Inshaf, Al Mardawi (1/123)al Mubdi’, Ibnu Muflih (1/103-104)Al Qawanin Al Fiqhiyyah, Ibnu Jizzi : 167, Fatawa Arkanil Islam, Syeikh Utsamin : 216-217 dan Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta' 5/119,120]). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Telah shahih dari Nabi &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bukan hanya dalam satu hadits, anjuran beliau untuk mengkhitan wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diriwayatkan oleh Khalal dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Khitan itu merupakan sunnah bagi para lelaki dan kehormatan (kemuliaan) bagi para wanita" &lt;/i&gt;(HR. Ahmad No 20195 dan Baihaqi 8/325)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt; juga memerintahkan wanita yang mengkhitan untuk tidak berlebihan dalam mengkhitan anak wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Ummu Athiyyah bahwa ada seorang wanita yang berkhitan di Madinah, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam berkata kepadanya: (Khitanlah dan) jangan dihabiskan (jangan berlebih-lebihan dalam memotong bagian yang dikhitan) karena yang demikian lebih cemerlang bagi (wajah) wanita dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami"&lt;/i&gt; [HR. Abu Daud (5271), Al-Hakim (3/525), Ibnu Ady dalam Al-Kamil (3/1083) dan Al-Khatib dalam Tarikhnya 12/291 dan dihasankan oleh Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah No 722)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Juga ada riwayat yang mengisyaratkan dikhitannya kaum wanita, yaitu sabda Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ وَجَبَ الْغُسْلُ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Bila telah bertemu dua khitan (alat kelamin suami dan istri) maka sungguh telah wajib mandi (junub)."&lt;/i&gt; [Shahih, Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (108-109), Asy-Syafi'i (1/38), Ibnu Majah (608), Ahmad (6/161), Abdurrazaq (1/245-246) dan Ibnu Hibban (1173-1174 - Al Ihsan)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits diatas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menisbatkan khitan pada wanita, maka ini merupakan dalil disyariatkannya khitan bagi wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan dalam riwayat lain Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jika (seorang suami) telah duduk di antara empat anggota tubuh (istri)nya dan khitan yang satu telah menyentuh khitan yang lain maka telah wajib mandi (junub)."&lt;/i&gt; [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (1/291 - Fathul Bari), Muslim (249 - Nawawi), Abu Awanah (1/269), Abdurrazaq (939-940), Ibnu Abi Syaibah (1/85) dan Al-Baihaqi (1/164)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits ini juga mengisyaratkan dua tempat khitan yang ada pada lelaki dan wanita, maka ini menunjukkan bahwa wanita juga dikhitan. Demikian ungkapan Imam Ahmad sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud. [Lihat kitab Ahkamul Maulud fi Sunnatil Muthahharah edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak dalam Sunnah yang Suci, hal 107-110 Pustaka Al-Haura].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1017151387149513864?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1017151387149513864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-khitan-bagi-wanita.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1017151387149513864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1017151387149513864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-khitan-bagi-wanita.html' title='Hukum Khitan Bagi Wanita'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4031539797373343781</id><published>2010-07-03T09:11:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T09:11:34.669-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid'/><title type='text'>Hukum Masjid Mengeluarkan Dana Operasional</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana hukumnya masjid mengeluarkan biaya untuk transportasi khatib, marbot, panitia qurban, imam dan lain-lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika dalam upaya untuk memakmurkan masjid diperlukan dana operasional baik yang sifatnya fisik seperti untuk pembayaran rekenng listrik, air, dan lain-lain atau yang sifatnya non fisik sepertti untuk memberi santunan kepada marbot (penunggu masjid), imam, mudzin , khatib, maka mengeluarkan dana dari kas masjid untuk kepentingan ini diperbolehkan kerena ini semua masih terkait dengan kemaslahatan yang berhubungan dengan masjid.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Namun untuk panitia Qurban, atau zakat fitrah (jika ada)&amp;nbsp; jika hendak diberikan insentif pada mereka maka jangan diambilkan dari kas masjid namun hendaknya dibebankan kepada orang-orang yang menitipkan hewan kurban yang hendak disembelih dimasjid tersebut dan kepada mereka yang menyalurkan zakat fitrahnya melalui masjid. Ini akan lebih tepat karena penyembelihan hewan dan zakat fitrah tidak mesti disalurkan lewat masjid, meskipun secara hukum boleh namun tidak memiliki nilai keutamaan secara khusus. Wallahu A’lam Bish Showab.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4031539797373343781?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4031539797373343781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-masjid-mengeluarkan-dana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4031539797373343781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4031539797373343781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/07/hukum-masjid-mengeluarkan-dana.html' title='Hukum Masjid Mengeluarkan Dana Operasional'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-617362146321736227</id><published>2010-06-29T02:38:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T02:38:11.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqiqah'/><title type='text'>Orang Tua Yang Mengaqiqahi Anaknya  Boleh Memakan Daging  Aqiqahnya</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apakah orang yang melakukan aqiqah boleh memakan dagingnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ya, orang yang melakukan aqiqah boleh memakan sebagian dari kambing yang disembelihnya, sebagaimana kalau ia meyembelih hewan kurban, iapun boleh memakan sebagian dari hewan kurban yang disembelihnya. Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-617362146321736227?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/617362146321736227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/06/orang-tua-yang-mengaqiqahi-anaknya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/617362146321736227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/617362146321736227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/06/orang-tua-yang-mengaqiqahi-anaknya.html' title='Orang Tua Yang Mengaqiqahi Anaknya  Boleh Memakan Daging  Aqiqahnya'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4282275821594549267</id><published>2010-06-29T02:18:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T02:24:23.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur&apos;an'/><title type='text'>Adab-Adab Membaca Al Qur'an</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagaimana adab-adab membaca Al Qur’an? (Lina, Teluk Betung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adab-adab membaca Al Qur'an diantaranya:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memegang mushaf dalam keadaan berwudhu.&lt;br /&gt;Imam Al Aajuri berkata: "Aku menyukai bagi orang yang akan membaca Al Qur'an baik diwaktu siang ataupun malam, membacanya dalam keadaan suci dan bersiwak (menggosok gigi) terlebih dahulu, ini untuk mengagungkan Al Qur'an yang merupakan Kalamullah." (Ahklaq Hamalatil Qur'an : 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bersiwak.&lt;br /&gt;Hal ini didasarkan pada riwayat berikut ini, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا تَسَوَّكَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي قَامَ الْمَلَكُ خَلْفَهُ فَيَسْتَمِعَ لِقِرَاءَتِهِ فَيَدْنُو مِنْهُ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا حَتَّى يَضَعَ فَاهُ عَلَى فِيْهِ فَمَا يَخْرُجُ مِنْ فِيْهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ صَارَ فِي جَوْفِ الْمَلَكِ فَطَهِّرُوا أَفْوَاهَكُمْ لِلْقُرْآنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya seorang hamba jika bersiwak kemudian bangun untuk melakukan sholat, maka malaikat akan berdiri dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya, dan malaikat tersebut akan mendekatinya –atau kalimat yang mirip dengannya- lalu menempelkan mulutnya ke mulut orang tersebut,&amp;nbsp; sehingga tidaklah keluar dari mulut orang itu sesuatu dari (ayat) Al Qur'an melainkan akan masuk kedalam tubuh malaikat tersebut. Maka sucikanlah mulut-mulut kalian ketika akan membaca Al Qur'an." (HR Bazzar :496, lihat Majma' Zawaid 2/99 dan silsilah Ahadits Shahihah Syekh Albani 1/214/215)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Membaca Al Qur'an dengan menghadap qiblat.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengawali membaca al Qur'an dengan taawudz dan basmalah.&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Membaca Al Qur'an dengan membaguskan suara sebagus mungkin.&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Membaca Al Qur'an dengan penuh kekhusyu'an jika perlu hingga menitikkan air mata.&lt;br /&gt;(lihat Kitab kaifa Natadabbarul Qur'an, Fawwaz Ahmad Zamrali : 34-40)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4282275821594549267?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4282275821594549267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/06/adab-adab-membaca-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4282275821594549267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4282275821594549267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2010/06/adab-adab-membaca-al-quran.html' title='Adab-Adab Membaca Al Qur&apos;an'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5908452190726664436</id><published>2009-11-02T18:23:00.000-08:00</published><updated>2010-06-28T21:07:14.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menemani sholat jamaah'/><title type='text'>Hukum Menemani Seseorang  Untuk Sholat Berjamaah</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apa hukumnya menemani seseorang untuk sholat berjamaah? (Abdurrahman, Lampung Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menemani seseorang yang belum sholat dengan cara mengerjakan sholat berjamaah dengannya agar ia mendapatkan pahala sholat berjamaah hukumnya disyariatkan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصْحَابِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَصَلَّى مَعَهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abu Said Al Khudri bahwasanya ada seorang laki-laki yang masuk ke masjid sementara Rasulullah Shallalhu alaihi wa sallam telah selesai melakukan sholat bersama para sahabat beliau. Lalu Rasulullah Shallalhu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang ingin bersedekah kepada laki-laki ini dengan cara sholat bersamanya?” Maka berdirilah salah seorang dari jamaah dan sholat bersama laki-laki tersebut.” (HR. Ahmad No 11016)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hadits ini menjadi dasar diperbolehkannya orang yang sudah sholat untuk menemani orang lain untuk sholat bersamanya agar orang yang belum sholat tersebut mendapatkan keutamaan sholat berjamaah. Bagi orang yang sudah sholat, sholat yang kedua yang ia lakukan hukumnya sunnah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5908452190726664436?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5908452190726664436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/11/hukum-menemani-seseorang-untuk-sholat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5908452190726664436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5908452190726664436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/11/hukum-menemani-seseorang-untuk-sholat.html' title='Hukum Menemani Seseorang  Untuk Sholat Berjamaah'/><author><name>DIALOG IMANI RRI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10577639348754606021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8488572000961516186</id><published>2009-11-02T08:13:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T08:25:35.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shalat'/><title type='text'>Sifat Tarawih Nabi</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;SEBAB PENAMAANNYA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Shalat tarawih adalah shalat lail (malam) yang dikerjakan pada malam bulan Ramadhan. Sholat tarawih terkadang disebut dengan 'qiyam Ramadhan." Bila pada malam-malam selain Ramadhan biasanya disebut sholat malam (qiyamul lail), atau sholat tahajjud.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Kata tarawih adalah bentuk jama' dari dari kata “tarwihah” yang artinya istirahat. (Lihat Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Dinamakan shalat tarawih karena para salaf mengerjakan shalat malam tersebut dengan cara berhenti sejenak untuk beristirahat di tiap-tiap empat rakaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Al Baihaqi dari Aisyah Radliyallahu'anha : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam empat rakaat lalu istirahat lama sekali sehingga saya merasa iba kepada beliau”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;KEUTAMAANNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;1. Hadits dari Abu Hurairah Radliyallahu'anhu , Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt;مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;“Barangsiapa yang menegakkan qiyam ramadhan/ shalat tarawih dengan dasar iman dan ikhlas (mengharapkan pahala) maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. &lt;b&gt;(HR. Bukhari 1/499. Muslim 2/177. Malik 1/113/2. Abu Dawud 1371. An Nasa'i 1/308. At Tirmidzi 1/153. Ad Darimi 2/26. Ibnu Majah 1326)&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;2. Hadits dari Abu Dzar Radliyallahu'anhu , Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt;إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 4.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat bersama Imam hingga selesai maka dicatat baginya (seperti) dia shalat tarawih semalam penuh” &lt;b&gt;(HR. Ibnu Abi Syaibah 2190/2. Abu Dawud 1/217. At Tirmidzi 2/72-73. An Nasa'i 1/237. Ibnu Majah 11/397 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana;"&gt;TATA CARANYA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Yang paling afdhal (utama) sholat tarawih dikerjakan sebanyak sebelas rakaat, karena inilah yang menjadi kebiasaan Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, sekalipun menurut para ulama diperbolehkan sholat tarawih lebih dari sebelas rakaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Hal ini didasarkan pada pernyataan Aisyah &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt;رضي الله عنها&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam baik dibulan Ramadhan maupun lainnya tidak pernah lebih dari 11 raka'at.“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;b&gt;(HR. Bukhari 2/25, Muslim 2/16. Al Baihaqi 2/495-496 dan Ahmad 6/36)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Teknisnya, sholat ini dilakukan dua rakaat-dua rakaat sekali salam. Lalu beristirahat (tarawih) setelah rakaat keempat dan kedelapan, baru kemudian dilanjutkan dengan sholat witir tiga rakaat baik dengan sekali salam tanpa takhiyat awal atau dengan dua kali salam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Hal ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25pt; text-align: right;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt;صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;"Sholat malam itu dua rakaat dua rakaat." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;(HR. Bukhari No 946)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; Adapun dalil yang menyatakan dibenarkannya witir tiga rakaat dengan dua kali salam adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: right;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  يُصَلِّي فِي الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِي الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.95pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;"Dari Aisyah ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sholat di kamar sedangkan saya berada didalam rumah, beliau memisahkan antara rakaat yang genap dan yang ganjil dengan salam yang terdengar oleh kami." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;(HR. Ahmad No 24018 dan Ibnu Hibban No 2433)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; Sedangkan dalil tentang diperbolehkannya witir tiga rakaat dengan sekali salam tanpa ada takhiyat awal adalah perkataan Aisyah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan sholat witir tiga rakaat dan beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang terakhir."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; (HR. Malik No 466, Nasai 3/234 dan Hakim 1/204)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;Wallahu A'lam Bish Showab. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;; font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8488572000961516186?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8488572000961516186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/11/sifat-tarawih-nabi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8488572000961516186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8488572000961516186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/11/sifat-tarawih-nabi.html' title='Sifat Tarawih Nabi'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5333600446512835377</id><published>2009-10-16T16:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:55:38.321-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shalat'/><title type='text'>Sholat Sunnah Sebelum Magrib Dan Isya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sholat sunnah sebelum maghrib dan isya? (Adi, Kota Bumi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya setiap antara adzan dan iqamah ada sholat sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abdullah bin Mughaffal ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Antara dua adzan ada sholat, antara dua adzan ada sholat, kemudian pada kali yang ketiga beliau berkata “bagi yang menghendaki.” (HR. Bukhari No 601)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits di atas, seseorang dibenarkan untuk melakukan sholat sunnah sebelum sholat magrib dan isya, tentunya setelah masuk kedua waktu sholat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun anjuran untuk melakukan sholat sunnah sebelum sholat maghrib, secara khusus disebutkan dalam riwayat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abdullah AL Muzani dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: Sholatlah sebelum maghrib (hingga tiga kali). Dan pada kali yang ketiga beliau menambahkan “Bagi yang menghendaki.” karena beliau khawatir orang-orang menjadikannya sunnah (yang dilazimi).” (HR. Bukhari No 6934 dan Abu Daud No 1281)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5333600446512835377?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5333600446512835377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/sholat-sunnah-sebelum-magrib-dan-isya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5333600446512835377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5333600446512835377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/sholat-sunnah-sebelum-magrib-dan-isya.html' title='Sholat Sunnah Sebelum Magrib Dan Isya'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4424667360260176550</id><published>2009-10-16T16:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:35:34.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wudhu'/><title type='text'>Wudhu Tidak Dapat Menghilangkan Hadats Besar</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh tidak saya sholat tahajjud setelah berhubungan suami istri hanya dengan wudhu saja karena malam itu terasa dingin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami yang telah menggauli istrinya, kemudian keduanya akan melakukan sholat baik sholat tahajjud maupun sholat sunnah yang lain, maka keduanya wajib mandi janabat, tidak cukup hanya berwudhu, karena wudhu tidak dapat menghilangkan hadats besar, berwudhu hanya dapat menghilangkan hadats kecil. Adapun berhubungan suami istri termasuk hadats besar dan hanya dapat dihilangkan dengan cara mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat beikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seorang (suami) menduduki empat anggota tubuh istri(nya) dan kedua alat kelamin telah bertemu maka ia telah wajib mandi.” (HR. Muslim No 349)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: “Jika dua alat kelamin bertemu (maksudnya berhubungan intim antara suami istri) maka sungguh telah mewajibkan mandi. Aku melakukan hal tersebut dengan Rasulullah r lalu kamipun mandi.” (HR. Ibnu Majah No 608 dan dishahihkan oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi setelah melakukan hubungan intim antara suami istri maka mereka berdua harus mandi, tidak boleh diganti dengan hanya berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika cuaca sangat dingin yang jika mandi akan menyebabkan sakit bahkan binasa, sementara tidak ada alat yang dapat memanaskan air, maka dalam hal ini ia bisa mengganti mandi dengan tayammum, bukan dengan wudhu, karena tayammum dapat berfungsi juga sebagai pengganti mandi jika seseorang tidak mendapatkan air atau terhalang untuk menggunakan air karena dingin yang sangat, tempat airnya tidak aman atau karena faktor-faktor yang membolehkan lainnya. (Lihat Sholatul Mukmin, Syeikh Saad Al Qahthani 1/87)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini didasarkan pada kisah yang menimpa Amru bin ash ketika beliau junub dimalam hari dan saat itu cuaca sangat dingin, beliau mengisahkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنَ الِاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ ( وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا ) فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dari Amru bin Ash ia berkata: “Pada suatu malam yang dingin dalam pertempuran Dzati Sulasil aku mimpi basah. Aku khawatir jika aku mandi aku akan binasa, maka akupun bertayammum kemudian aku mengimami sholat shubuh sahabat-sahabatku. Merekapun lalu menyebutkan (melaporkan) hal ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Amru, engkau mengimami sholat shubuh sahabat-sahabatmu sementara engkau dalam keadaan junub?”. Lalu akupun menceritakan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang menghalangiku untuk mandi dan aku berkata: Sesungguhnya Aku mendengar Allah berfirman: “(Artinya) Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepada kalian.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa dan tidak mengucapkan sesuatupun.” (HR. Abu Daud No 334 dan dishahihkan oleh Albani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4424667360260176550?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4424667360260176550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/wudhu-tidak-dapat-menghilangkan-hadats.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4424667360260176550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4424667360260176550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/wudhu-tidak-dapat-menghilangkan-hadats.html' title='Wudhu Tidak Dapat Menghilangkan Hadats Besar'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3017130994371318241</id><published>2009-10-16T16:03:00.001-07:00</published><updated>2009-10-23T20:36:16.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wudhu'/><title type='text'>Hukum Bertayammum Setelah Khutbah</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hukumnya setelah khutbah saya bertayammum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda seorang khatib Jum’at dan ketika selesai atau ditengah-tengah khutbah anda berhadats, maka anda harus berwudhu kembali sebelum sholat dan tidak boleh diganti dengan tayammum kecuali bila anda termasuk orang yang diperbolehkan untuk bertayammum karena sakit atau tidak ada air untuk berwudhu, atau karena yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun para jamaah, kiranya diminta untuk menunggu sejenak hingga sang khatib tersebut selesai berwudhu lalu ia memimpin sholat, karena sebaiknya orang yang khutbah itu merangkap menjadi imam sekaligus. Meskipun hal ini bukanlah suatu hal yang hukumnya wajib. Namun demikianlah yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3017130994371318241?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3017130994371318241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/hukum-bertayammum-setelah-khutbah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3017130994371318241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3017130994371318241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/hukum-bertayammum-setelah-khutbah.html' title='Hukum Bertayammum Setelah Khutbah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4978037340010221303</id><published>2009-10-16T16:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:36:54.166-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shalat'/><title type='text'>Apakah Seorang Khatib Boleh Menggerakkan Tangannya Ketika Berkhutbah?</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah khatib boleh menggerak-gerakkan tangannya dalam khutbah atau hanya diam? (Abu Haitsam, Natar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Ketika sedang khutbah seorang khatib hendaknya tidak menggerak-gerakkan tangannya, baik dengan mengangkatnya, menunjuk kearah tertentu atau mengisyaratkan kepada sesuatu. (Lihat Syarh Mumti’, Syeikh Utsaimin 5/85 dan Sholatul Mukmin, Syaikh Saad Al Qahthani 2/823)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang khatib hanya boleh mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dalam khutbah, itupun ketika ia berdoa, bukan saat ditengah-tengah khutbahnya , sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dari Hushain dari ‘Umarah bin Ru’aibah (beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pent) ia berkata bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. Lalu ia (’Umarah) berkata: “Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini, sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (saat berdoa dalam khutybahnya) tidak lebih  dari mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim No 874)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan seorang khatib ketika sedang khutbah hendaknya diam dan pandangannya melihat ke arah depan, tidak menghadapkan tubuh dan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Demikianlah tuntunan yang benar yang dipraktekkan Rasulullah r dalam khutbah jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ‘Atho dan Asy-Sya’bi berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ r إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ أَقْبَلَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ قَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau telah naik keatas mimbar beliau menghadapkan wajahnya kehadapan orang-orang kemudian mengucapkan “Assalamualaikum.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Hadyu Nabi r fi Khutbatil Jum’ah, Syeikh Anis Thahir Al Indunisi, edisi Indonesia: Petunjuk Nabi Dalam Khutbah Jum’at hal : 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Imam Ibnu Hajar mengkategorikan menoleh kekanan dan kekiri dalam berkhutbah merupakan perbuatan bid’ah.(lihat Al Mughni 3/179 dan Asy-Syarhul Kabir 5/240).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4978037340010221303?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4978037340010221303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/apakah-seorang-khatib-boleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4978037340010221303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4978037340010221303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/apakah-seorang-khatib-boleh.html' title='Apakah Seorang Khatib Boleh Menggerakkan Tangannya Ketika Berkhutbah?'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1630351776695931075</id><published>2009-10-16T14:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:38:44.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Sholat Dengan Memakai Alas Kaki</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan sholat dengan memakai alas kaki? (Sukamto, GPM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat dengan memakai alas kaki maksudnya adalah melakukan sholat dengan tetap memakai terompah, sandal atau yang sejenisnya, dengan tidak melepasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya sholat dengan memakai alas kaki ini merupakan suatu amalan yang disyariatkan bagi kaum muslimin, berdasarkan &amp;nbsp;pada riwayat yang shahih berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ سَعِيدِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِك أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ قَالَ نَعَمْ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Abu Maslamah Said bin Yazid ia berkata: "Aku bertanya kepada Anas bin Malik apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sholat dengan menggunakan dua sandal?" Ia menjawab: "Ya."&lt;/i&gt; (HR. Muslim No 862)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengomentari hadits ini Imam An Nawawi mengatakan: hadits ini mengandung pelajaran tentang diperbolehkannya sholat dengan mengunakan sandal dan khuff selama diyakini benda-benda tersebut tidak terkena najis. (Lihat Syarah Shohih Muslim 2/319).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam melaksanakan sholat dengan menggunakan alas kaki ini harus memperhatikan tingkat maslahat dan mudharat yang ditimbulkan. Artinya ketika seseorang ingin mengamalkan sunnah ini ia harus mengetahui dimana ia sholat, jika ia sholat di masjid yang lantainya beralaskan karpet atau sejenisnya maka tidak sepatutnya hal itu dilakukan karena alas kaki kita akan mengotori dan mencemari karpet tersebut. Namun jika kita sholat dimasjid atau ditempat yang alasnya tanah, pasir, bebatuan, rumput atau semisalnya maka sangat baik jika hal ini diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara hikmah sholat dengan menggunakan alas kaki adalah untuk meyelisihi orang–orang Yahudi, karena mereka ketika sholat tidak menggunakan alas kaki. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Ya'la bin Syaddad bin Aus dari bapaknya ia berkata: "Rasulullah &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam &lt;/i&gt;&lt;i&gt; bersabda: "Selisihilah orang-orang Yahudi karena sesungguhnya mereka tidak sholat dengan memakai sandal dan khuff mereka." &lt;/i&gt;(HR. Abu Daud No 652 dan dishahihkan oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wallahu A'lam Bish Showab. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1630351776695931075?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1630351776695931075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/sholat-dengan-memakai-alas-kaki_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1630351776695931075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1630351776695931075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/sholat-dengan-memakai-alas-kaki_16.html' title='Sholat Dengan Memakai Alas Kaki'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3294115283893209620</id><published>2009-10-02T15:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:57:35.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Sholat Asharnya Seorang Musafir</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang melakukan safar setelah dhuhur dan pulangnya jam enam sore, bagaimana sholat asharnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang melakukan safar setelah dhuhur dan ia pulang jam enam sore atau menjelang waktu maghrib, maka praktis sholat asharnya berarti dilakukan ditengah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ia membawa kendaraan pribadi maka ia bisa singgah dimasjid atau musholla yang ia lewati untuk melakukan sholat ashar tersebut dengan cara diqashar (meringkas sholat dari empat rakaat menjadi dua rakaat). Namun jika ia naik kendaraan umum dan kendaraan tersebut tidak berhenti saat waktu ashar sudah masuk, maka hendaklah ia sholat ashar didalam kendaraan tersebut dengan cara diqashar juga, dan sholatlah sesuai dengan kemampuannya. Jika dapat menghadap kiblat maka harus menghadap kiblat dan melakukannya sambil berdiri dengan melakukan rukuk dan sujud sebagaimana di darat. Namun jika hal itu tidak memungkinkan, maka sholatlah sesuai dengan kemampuannya. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian."&lt;/i&gt; (Surat At Taghabun : 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah Ta'ala juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya&lt;/i&gt;&lt;i&gt;."&lt;/i&gt; (Surat Al Baqarah : 286).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kitab Sholatul Mukmin, Syeikh Saad bin Wahaf Al Qahthani 2/656).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3294115283893209620?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3294115283893209620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/sholat-asharnya-seorang-musafir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3294115283893209620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3294115283893209620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/sholat-asharnya-seorang-musafir.html' title='Sholat Asharnya Seorang Musafir'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4969938463398276751</id><published>2009-09-29T15:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:41:13.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thoharoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Apakah Makan Dan Minum Membatalkan Wudhu</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang setelah berwudhu kemudian ia makan dan minum apakah wudhunya batal? (085789817XXX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Makan dan minum setelah berwudhu tidak membatalkan wudhu kecuali jika seseorang setelah wudhu makan daging onta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baik yang dipanggang maupun dimasak dengan cara lainnya, maka menurut sebagian ulama hal ini membatalkan wudhunya. (lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal Sayyid Salim 1/138). Pendapat ini dikuatkan pula oleh Imam Nawawi sebagaimana disebutkan dalam Syarah Shahih Muslim (1/328). Dan merupakan pendapat Imam Ahmad, Imam Ibnu Hazm dan juga Imam Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil yang dipakai oleh para ulama yang mengkatagorikan batal wudhu seseorang yang makan daging onta adalah:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ ». قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ قَالَ « نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ ».&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Jabir bin Samurah bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam: "Apakah aku mesti berwudhu karena makan daging kambing? Beliau menjawab: "Jika engkau mau maka wudhulah, namun jika tidak maka tidak mengapa." Ia bertanya (lagi); "Apakah aku mesti berwudhu jika makan daging onta?" Beliau menjawab: "Ya, berwudhulah jika engkau makan daging onta." &lt;/i&gt;(HR. Muslim No 828)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « تَوَضَّئُوا مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ وَلاَ تَوَضَّئُوا مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ وَتَوَضَّئُوا مِنْ أَلْبَانِ الإِبِلِ وَلاَ تَوَضَّئُوا مِنْ أَلْبَانِ الْغَنَمِ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Abdullah bin Umar ia berkata : "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Berwudhulah kalian lantaran kalian makan daging onta dan kalian tidak perlu berwudhu lantaran kalian makan daging kambing. Berwudhulah kalian lantaran kalian minum susu onta dan kalian tidak perlu berwudhu lantaran kalian minum susu kambing."&lt;/i&gt; (HR. Ibnu Majah No : 536)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurut jumhur ulama, Abu Hanifah, Malik, Asy Syafii dan Ats Tsauri memakan daging onta itu tidak membatalkan wudhu. Mereka berdalil dengan hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ آخِرَ الْأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرْكُ الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتْ النَّارُ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Muhammad bin Munkadir ia berkata: "Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata: "Perkara yang terakhir dari (ketetapan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam adalah meninggalkan wudhu dari makanan yang disentuh api." &lt;/i&gt;(HR. Nasai No 185 dan dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bish showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4969938463398276751?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4969938463398276751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/apakah-makan-dan-minum-membatalkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4969938463398276751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4969938463398276751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/apakah-makan-dan-minum-membatalkan.html' title='Apakah Makan Dan Minum Membatalkan Wudhu'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4193198354620495844</id><published>2009-09-28T03:07:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:42:34.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah'/><title type='text'>Hukum Membaca Sholawat Badar</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tanya:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apakah hukum membaca sholawat badar? (Budi, Padang Ratu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jawab:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sholawat badar adalah salah satu bentuk sholawat yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah&lt;i&gt; Shallallahu 'alaihi Wasallam.&lt;/i&gt; Di dalam sholawat tersebut banyak terdapat lafadz-lafadz tawassul yang bid’ah, yaitu tawassul kepada ahli badar, mereka para sahabat yang meninggal dunia ketika perang Badar. Para Ulama telah menjelaskan bahwa tawassul dengan orang yang meninggal dunia adalah bentuk tawassul yang dilarang. (Lihat Kitabut Tauhid, Syaikh Sholih Fauzan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu tidak boleh kita membaca sholawat Badar ini,apalagi sampai meyakini keutamaan-keutamaan tertentu jika membaca sholawat badar, ini adalah keyakinan yang sama sekali tidak ada dasar dan tuntunannya dari Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt;. Dan kalau kita ingin membaca sholawat maka bacalah sholawat Ibrahimiyah, sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam&lt;/i&gt; kepada ummatnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata: “Kaab bin Ujrah bertemu denganku lalu berkata: “Maukah engkau aku beri hadiah&amp;nbsp; yang aku dengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam ?” “Mau hadiahkanlah untukku,” jawabku. Ia berkata: “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah, kami berkata: “Hai Rasulullah, bagaimana lafadz bersholawat kepadamu para ahli bait, karena sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana mengucapkan salam atasmu, Beliau bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian: “Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad… innaka hamidun majid” (Artinya) Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari No 3190)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4193198354620495844?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4193198354620495844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hukum-membaca-sholawat-badar.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4193198354620495844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4193198354620495844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hukum-membaca-sholawat-badar.html' title='Hukum Membaca Sholawat Badar'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3573939227155714106</id><published>2009-09-27T14:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:45:20.208-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Orang Yang Tertinggal Ketika Sholat Id</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana orang yang sholat id hanya mendapatkan satu rakaat atau bahkan tidak mendapatkan sholat id sama sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mendapati satu rakaat sholat id bersama imam, maka setelah imam salam hendaklah ia berdiri lalu menambah dengan satu rakaat lagi lalu salam. Bahkan jika ia mendapati sang imam sedang duduk tasyahhud, hendaklah ia duduk sepertinya lalu ketika sang imam salam hendaklah ia berdiri dan menyempurnakan sholatnya dengan menambah dua rakaat. (Lihat Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah 3/285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika ketika ia datang ke tanah lapang ia mendapati sholat id sudah selesai maka ia dapat mengqadhanya dengan melakukan sholat dua rakaat. Tentang hal ini Imam Bukhari membuat bab khusus dalam kitab Shahihnya:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;بَاب إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Bab&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Jika seseorang tidak mendapati sholat Id maka hendaklah ia sholat dua rakaat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau membawakan atsar dari salah seorang tabiin yang bernama Atho' ibnu Abi Rabah :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;قَالَ عَطَاءٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Atho' berkata: Jika seseorang tidak mendapati sholat Id maka hendaklah ia sholat dua rakaat."&lt;/i&gt; (Shahih Bukhari, Kitabul Idain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, seperti Imam Bukhari, Imam An-Nakha'i, Malik, Asy-Syafi'I, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir, Imam Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar Al Asqalani. (Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar 2/474, Al Mughni, Ibnu Qudamah 3/285 dan Sholatul Mukmin, Syeikh Al Qahthani 2/861)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa jika seseorang tertinggal dari sholat id hendaklah ia mengqadha dengan melakukan shoslat empat rakaat. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, dan Imam Ats-Tsauri. Beliau berhujjah dengan atsar dari sahabat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;مَنْ فَاتَهَ الْعِيْدُ مَعَ الْإِمَامِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa yang tidak mendapati sholat Id bersama imam, maka hendaklah ia sholat empat rakaat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam Bish Showab. (Lihat Sholatul Mukmin, Syeikh Al Qahthani 2/861)&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3573939227155714106?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3573939227155714106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/orang-yang-tertinggal-ketika-sholat-id.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3573939227155714106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3573939227155714106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/orang-yang-tertinggal-ketika-sholat-id.html' title='Orang Yang Tertinggal Ketika Sholat Id'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3129266557032373329</id><published>2009-09-26T15:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:43:21.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mandi jum&apos;at'/><title type='text'>Mandi Jum'at Bagi Wanita</title><content type='html'>Tanya:&lt;br /&gt;Apa ada mandi jum'at bagi wanita muslimah ? (Oti', Kedaton)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Wanita tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat jum'ah sebagaimana laki-laki,&lt;br /&gt;namun seandainya wanita ingin menghadiri sholat jum'at diperbolehkan selama tidak menimbulkan fitnah, akan tetapi sholat dhuhur dirumah lebih baik baginya dari pada melaksanakan sholat jum'at. Andaikata ia menghadiri jum'at maka disunnahkan untuk mandi sebagaimana kaum lelaki disunnahkan untuk mandi pada hari itu. Akan tetapi jika ia hanya melakukan sholat dhuhur dirumah maka tidak perlu harus mandi terlebih dahulu. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3129266557032373329?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3129266557032373329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/mandi-jum-bagi-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3129266557032373329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3129266557032373329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/mandi-jum-bagi-wanita.html' title='Mandi Jum&amp;#39;at Bagi Wanita'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2581104142344324804</id><published>2009-09-25T15:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T20:26:00.647-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khurofat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Seseorang Tidak Mengetahui Kapan Ajalnya Akan Tiba</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar sejak 40 hari sebelum ajal seseorang datang, orang tersebut sudah mengetahuinya? (Hamzah, Lampung Selatan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini tidak benar sama sekali, karena ajal adalah salah satu perkara ghaib yang hanya Allah Ta'ala saja yang mengetahuinya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan ia akan meninggal dunia. Seandainya seseorang mengetahui kapan ia akan meninggal dunia tentunya ia akan menyiapkan diri sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai amal sholih yang diharapkan dapat menjadi bekal baginya ketika menghadap Allah ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;قُل لآَّأَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَاشَآءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَامَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".&lt;/i&gt; (Surat Al A’raf : 188)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَافِي اْلأَرْحَامِ وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ مَاذَاتَكْسِبُ غَدًا وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”&lt;/i&gt; (Surat Luqman : 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang yang akan meninggal dunia telah mengetahui ajalnya 40 hari sebelumnya, niscaya ia akan banyak berbuat kebaikan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal shalih untuk menghadapi hari H kematian tersebut. Dan jika ini terjadi maka tidak ada hikmahnya Allah ta'ala menciptakan Neraka, karena semua orang pasti akan menjadi baik. Mereka akan menghindarkan semua hal yang mengakibatkan murka Allah dipenghujung hidupnya agar terhindar dari Neraka. Ini adalah sebuah pendapat atau keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.  Wallahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2581104142344324804?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2581104142344324804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/seseorang-tidak-mengetahui-kapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2581104142344324804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2581104142344324804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/seseorang-tidak-mengetahui-kapan.html' title='Seseorang Tidak Mengetahui Kapan Ajalnya Akan Tiba'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1285300226276215918</id><published>2009-09-25T15:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.721-07:00</updated><title type='text'>Cara Taubat Nashuha</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana cara taubat nasuha sedang kita telah melakukan dosa besar yang dalam hukum Islam harus kena sangsi yang besar? (085669697XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebelum menjelaskan tentang syarat taubat nashuha, terlebih dulu kita bahas pengertian taubat nashuha itu sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Umar bin Khattab ditanya tentang taubat nashuha, beliau mengatakan: Seseorang bertaubat dari perbuatan yang buruk dan ia tidak kembali mengulangi perbuatan itu selamanya (Tafsir Al Qurthubi 18/197). Hal senada diungkapkan oleh Ibnu Abbas t (Lihat Tafsir Ath-Thabari 28/168)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sedangkan menurut Imam Ibnu Katsir, taubat nashuha adalah taubat yang tulus yang dengannya dapat menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya dengan menghentikan perbuatan-perbuatan buruk yang ia lakukan sebelumnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/393).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan Tuabat Nasuha adalah taubat yang terkumpul di dalamnya 5 syarat, yaitu:&lt;br/&gt;Pertama.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;/strong&gt;, dengan menunjukkan taubatnya keharibaan Wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk mendapatkan pahala-Nya serta selamat dari adzab-Nya.&lt;br/&gt;Kedua.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Menyesali perbuatan maksiatnya&lt;/strong&gt; dengan sebenar-benarnya penyesalan serta berkemauan keras untuk tidak berbuat lagi.&lt;br/&gt;Ketiga.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Segera meninggalkan maksiat&lt;/strong&gt;. jika ia merupakan hak Allah, maka ia harus meninggalkannya jika itu perbuatan yang diharamkan serta bersegera menunaikan jika itu kewajiabn yang ditinggalkan.&lt;br/&gt;Keempat.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Bercita-cita untuk tidak akan kembali lagi kepada perbuatan maksiat tersebut&lt;/strong&gt; di masa mendatang.&lt;br/&gt;Kelima.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Tidak berhenti bertaubat sebelum &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;datangnya ajal&lt;/strong&gt; atau terbitnya matahari dari arah barat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dan, tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;antara mereka, (barulah) ia mengatakan: 'sesungguhnya saya bertaubat sekarang ..."&lt;/em&gt; [An-Nisa : 18]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Siapa yang bertaubat sebelum terbit matahari dari arah barat, niscaya Allah terima taubatnya"&lt;/em&gt; [Hadits Riwayat Muslim No 4872]&lt;br/&gt;[Lihat Fatawa Hammah wa Risalah Fii Sifati Sholatin Nabi r (Edisi Indonesia: Sifat Shalat Nabi r ) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Pustaka Al-Kautsar, hal 69-72]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apabila seseorang melakukan perbuatan dosa besar, sebesar apapun dosa yang ia lakukan maka hendaklah ia bersegera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala, jangan menunda-nunda taubatnya, karena sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim AL Jauziyah bahwa menunda-nunda taubat termasuk perbuatan maksiat. (Lihat Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim 1/178)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyak anjuran dan perintah dalam Al Qur'an agar kita segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala , sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat berikut ini :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dan bersegeralah kamu untuk meraih ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."&lt;/em&gt; (Surat Ali Imran : 133)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun."&lt;/em&gt; (Surat Nuh : 10)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمُُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."&lt;/em&gt; (Surat Al Baqarah : 199)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pun telah menjelaskan dalam haditsnya tentang masalah  ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Anas bin Malik ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Wahai Anak Adam, sesungguhnya apabila engkau memohon (ampun) dan berharap kepada-Ku maka Aku akan mengampunimu tidak peduli seberapapun banyaknya dosa-dosamu. Wahai Anak Adam, seandainya dosa-dosamu menjulang sampai menutupi awan di langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu tanpa mempedulikan banyaknya dosa-dosamu. Wahai Anak Adam, seandainya engkau menghadap-Ku dengan membawa dosa yang memenuhi bumi kemudian Engkau menghadap-Ku dengan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku akan mendatangkan kepadamu ampunan yang besarannya dapat menutupi bumi (juga)." &lt;/em&gt;(HR. Turmudzi No 3540 dan dishahihkan oleh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika dosa yang ia lakukan merupakan dosa besar yang hukumannya sudah Allah Ta'ala tetapkan seperti mencuri hukumnya dipotong tangannya, atau berzina jika ia sudah menikah maka hukumnya dirajam atau yang lainnya, jika urusannya belum sampai ketingkat mahkamah syar'iyah (pengadilan agama) maka cara taubatnya adalah dengan menyesali perbuatan tersebut dan bertekad untuk tidak mengulangi kembali dan memperbanyak amal shalih baik berupa sholat, shadaqah, dzikir, tilawah Al Quran dan lain-lainnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1285300226276215918?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1285300226276215918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/cara-taubat-nashuha.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1285300226276215918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1285300226276215918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/cara-taubat-nashuha.html' title='Cara Taubat Nashuha'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-9121169255413123805</id><published>2009-09-24T14:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.712-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumpah dan nadzar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Melanggar Sumpah Dan Kaffarat (Denda)nya</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa hukumnya melanggar sumpah yang pernah kita ucapkan? Dan apa kaffaratnya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika seseorang bersumpah untuk mengerjakan atau meninggalkan sesuatu, kemudian ia mendapati bahwa akan lebih maslahat jika ia tidak mengerjakan sumpahnya, maka lebih utama baginya untuk membatalkan sumpahnya. Akan tetapi ia harus membayar denda atau kaffarat atas sumpahnya yang ia langgar atau yang ia batalkan tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam riwayat yang shahih dari beliau :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dan apabila engkau bersumpah tentang sesuatu sementara engkau memandang selainnya lebih baik dari (yang engkau sumpahkan) maka hendaklah ia membayar kaffarat sumpahnya dan melakukan yang lebih baik tersebut." &lt;/em&gt;(HR. Bukhari No 6248 dan Muslim 1652)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun macam-macam kaffarat (denda) sumpah adalah melakukan salah satu dari empat hal berikut, namun dilakukan secara berurutan, maknanya harus dilakukan yang pertama, jika tidak mampu maka berpindah kepada yang kedua, jika tidak mampu kepada yang ketiga, demikian seterusnya, tidak boleh seseorang memilih salah satu dari empat hal ini yang disukainya atau yang mudah baginya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan urutan keempat hal tersebut adalah :&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Memberi makan kepada sepuluh fakir miskin dengan makanan yang kita makan sehari-hari, kadarnya setiap orang mendapat satu mudd (560 gram), atau mengumpulkan mereka dengan diberi makan satu kali yang mengenyangkan.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin dengan pakaian yang dapat digunakan untuk sholat.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Memerdekaan seorang budak.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Puasa tiga hari, kalau bisa berturut-turut, kalau tidak maka tidak mengapa terpisah-pisah. (Lihat Minhajul Muslim, Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi : 392)&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil tentang denda sumpah ini adalah firman Allah Ta'ala dalam Al Qur'an :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ اْلأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُم ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).&lt;/em&gt; (Surat Al Maidah : 89)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;br/&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-9121169255413123805?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/9121169255413123805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/melanggar-sumpah-dan-kaffarat-dendanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/9121169255413123805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/9121169255413123805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/melanggar-sumpah-dan-kaffarat-dendanya.html' title='Melanggar Sumpah Dan Kaffarat (Denda)nya'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4775797946635806131</id><published>2009-09-23T17:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thoharoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Orang Yang Melakukan Onani Wajib Mandi Janabat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah orang yang dimalam harinya melakukan onani pada pagi harinya ia harus mandi?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Onani meskipun menurut tinjaun syar'i hukumnya tidak diperbolehkan,&lt;em&gt; (Lihat Fatawa Syaikh Bin Baz, Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130 dan Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, [edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 406-409 Darul Haq]),&lt;/em&gt; namun jika perbuatan itu dilakukan maka pelakunya harus mandi janabat, karena ia telah mengeluarkan air mani atau sperma.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mewajibkan mandi bagi orang yang mengeluarkan mani, baik keluarnya mani dengan disengaja seperti dengan berhubungan suami istri atau dengan onani, maupun dengan tidak disengaja seperti keluar ketika ia mimpi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abu Said Al Khudri dari Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; beliau bersabda: "Sesungguhnya air (maksudnya mandi) itu karena air (mengeluarkan mani)."&lt;/em&gt; (HR.Muslim No 343)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan lebih lanjut Syeikh Bin Bazz menyatakan bahwa dalil yang dijadikan hujjah oleh jumhur ulama ketika mengharamkan onani ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya, Dia Ta'ala berfirman:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ {5} إِلاَّعَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْمَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ {6} فَمَنِ ابْتَغَى وَرَآءَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”&lt;/em&gt; [Al-Mu’minun : 5-7]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; Al-‘Adiy &lt;/strong&gt;artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.&lt;br/&gt;Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.&lt;br/&gt;Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter. Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Maka, kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih dapat menundukkan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari No 4778 dan Muslim No 1400 dan lafadz hadits ini dalam shahih Muslim)&lt;br/&gt;Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”&lt;br/&gt;Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :&lt;br/&gt;Pertama : Segera menikah bagi yang mampu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kedua : Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.&lt;br/&gt;Maka hendaklah anda, wahai pemuda, bersungguh-sungguhlah dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Allah Ta'ala akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.&lt;br/&gt;Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; tegaskan di dalam haditsnya:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Mujahid (pejuang) di jalan Allah, Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya dan laki-laki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya.”&lt;/em&gt; [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi No 1655, Nasa’i dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Albani]&lt;br/&gt;[Fatawa Syaikh Bin Baz, dimual di dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130]&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4775797946635806131?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4775797946635806131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/orang-yang-melakukan-onani-wajib-mandi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4775797946635806131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4775797946635806131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/orang-yang-melakukan-onani-wajib-mandi.html' title='Orang Yang Melakukan Onani Wajib Mandi Janabat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3494707946640032459</id><published>2009-09-23T17:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkawinan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Proses Thalaq Yang Benar Menurut Syari'at</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana proses thalaq yang benar menurut syariat Islam? (081541239XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Thalaq adalah melepaskan kembali ikatan pernikahan antara suami dan istri dengan lafadz yang sharih (jelas) atau kinayah (sindiran) dengan disertai niat. (Lihat Minhajul Muslim Bab Thalaq, Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Thalaq merupakan perkara yang halal namun dibenci oleh Allah Ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ibnu Umar dari Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: “Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah Thalaq (perceraian).”&lt;/em&gt; (HR. Abu Daud No 2174, didhaifkan oleh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karenanya, hendaknya janganlah seorang suami menjadikannya sebagai solusi bagi problematika rumah tangganya kecuali jika tidak ada lagi jalan atau solusi lain yang lebih maslahat yang dapat ditempuh untuk memperbaiki hubungannya dengan istrinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Disisi lain, seorang suami juga tidak boleh main-main dan bercanda dengan istrinya dengan mengeluarkan kata-kata thalaq/ cerai kepadanya, karena jika kata thalaq atau cerai sudah meluncur dari lisan sang suami kendatipun ia mengucapkannya hanya untuk bercanda atau main-main belaka tanpa disertai dengan niat, namun itu sudah dikategorikan jatuh thalaq untuk istrinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam riwayat berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: “Tiga perkara yang baik seriusnya atau main-main (bercanda)-nya akan menimbulkan kepastian hukum, yaitu nikah, thalaq dan rujuk." &lt;/em&gt; (HR. Abu Daud No 2194 dan dihasankan oleh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun jika sang suami mengeluarkan lafadz yang bernada sindiran seperti pulanglah engkau kerumah orang tuamu, maka kata-kata ini tidak dikategorikan thalaq kecuali jika ia mengucapkannya dengan berniat menthalaq istrinya, jika ia tidak meniatkannya sebagai thalaq maka tidak jatuh thalaq kepada istrinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Walhasil, thalaq dengan menggunakan lafadz apapun baik yang sharih (jelas) seperti engkau saya cerai, atau berbentuk kinayah (sindiran/kiasan) seperti pulanglah engkau ke rumah orang tuamu, itu dihitung thalaq sejak kata-kata tersebut terucap. Dan sejak saat itulah sang istri memulai masa iddahnya sampai waktu yang ditentukan tergantung dengan keadaan istri yang dicerai tersebut, jadi masa iddahnya bisa berupa tiga kali suci, atau tiga bulan, atau sampai melahirkan kandungannya jika ia hamil, demikian seterusnya. Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3494707946640032459?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3494707946640032459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/proses-thalaq-yang-benar-menurut-syari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3494707946640032459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3494707946640032459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/proses-thalaq-yang-benar-menurut-syari.html' title='Proses Thalaq Yang Benar Menurut Syari&amp;#39;at'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-654689410468926105</id><published>2009-09-23T16:34:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.664-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Makmum Masbuq Yang Sempat Mendapati Rukuknya Imam</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seorang makmum yang masbuq yang tidak sempat mendapatkan imam membaca surat namun ia dapat rukuk bersamanya, apakah ia dihitung mendapat rakaat tersebut?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, makmum yang masbuq yang dapat rukuk bersama imam, maka ia dikategorikan mendapatkan rakaat tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ini adalah pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf, yaitu pendapatnya Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah dan Imam Ahmad, juga diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Zaid dan Ibnu Umar. (Lihat Sholatul Mukmin, Syaikh Saad Al Qahthani 1/460)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil yang digunakan para ulama dalam hal ini adalah hadits berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَهَا قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الإِمَامُ صُلْبَهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Barangsiapa mendapatkan satu rakaat sholat (bersama imam), maka sungguh ia telah mendapatkan sholat tersebut. (Ia mendapatkan rakaat tersebut) jika ia mendapati imam belum meluruskan tulang sulbinya (maksudnya belum bangkit dari rukuk)."&lt;/em&gt; [HR. Ad Daru Quthni (1/346) Baihaqi dalam Sunan Kubra (2/89) dan Ibnu Khuzaimah (3/45)]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mungkin ada yang bertanya, bukankah seorang makmum diwajibkan membaca al Fatihah dalam sholat dan bukankah jika ia tidak membacanya maka sholatnya tidak sah kerana Al Fatihah merupakan rukun sholat? Dan dalam kasus diatas bukankah orang yang masbuq tersebut tidak membaca al fatihah?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Maka jawabnya, memang orang tersebut tidak membaca AL Fatihah bahkan mungkin ia juga tidak mendapati berdirinya imam. Namun ia tidak membaca AL Fatihah bukan karena sengaja untuk tidak membacanya tetapi lebih kerana ia tidak dapat melakukannya lantaran keterlambatannya tersebut. Dan keabsahannya ia mendapatkan rakaat bersama imam dikarenakan ada dalil (riwayat) diatas yang mengkhususkan keumuman perintah membaca Al Fatihah. Seandainya dalil di atas tidak ada, maka orang yang masbuq tersebut memang tidak dikatakan mendapatkan rakaat tersebut bersama imam lantaran ia luput membaca Al Fatihah yang merupakan salah satu dari rukun sholat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;br/&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-654689410468926105?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/654689410468926105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/makmum-masbuq-yang-sempat-mendapati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/654689410468926105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/654689410468926105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/makmum-masbuq-yang-sempat-mendapati.html' title='Makmum Masbuq Yang Sempat Mendapati Rukuknya Imam'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8345773594860215023</id><published>2009-09-20T07:12:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.657-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thoharoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Masak Bagi Orang Yang Sedang Junub</title><content type='html'>&lt;p style="text-align:left;"&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah orang yang junub tidak boleh memasak?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak ada larangan bagi orang junub untuk memasak, membersihkan rumah dan belanja dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya, yang tidak boleh bagi orang yang sedang junub adalah melakukan sholat, membaca atau menyentuh Al Qur'an dan berdiam di masjid. (Lihat Kitab Sholatul Mukmin, Syeikh Saad bin Wahaf Al Qahthani 1/71-74 dan Shahih Fiqh Sunnah 1/183-188)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8345773594860215023?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8345773594860215023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/masak-bagi-orang-yang-sedang-junub.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8345773594860215023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8345773594860215023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/masak-bagi-orang-yang-sedang-junub.html' title='Masak Bagi Orang Yang Sedang Junub'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8309339553987872594</id><published>2009-09-15T15:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.642-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i&apos;tikaf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hal-hal Yang Membatalkan I’tikaf</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt; Apakah hal-hal yang membatalkan I’tikaf?  &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt; I’tikaf artinya berdiam diri dimasjid dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Ibadah ini disyariatkan khususnya dibulan Ramadhan, tepatnya disepuluh hari yang terakhir pada bulan tersebut.  &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Ada beberapa hal membatalkan I’tikaf seseorang, diantaranya adalah sebagai berikut:  &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Pertama:&lt;/strong&gt; Sengaja keluar dari masjid tanpa suatu keperluan walaupun hanya sebentar. Keluar dari masjid akan menjadikan batal i’tikaafnya, karena tinggal di masjid sebagai rukun i’tikaaf. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kedua:&lt;/strong&gt; Murtad karena bertentangan dengan makna ibadah, dan juga berdasarkan firman Allah:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ {65}&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada-mu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter-masuk orang-orang yang merugi.”&lt;/em&gt; [Az- Zumar : 65] &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Ketiga:&lt;/strong&gt; Hilang akal disebabkan gila atau mabuk. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Keempat:&lt;/strong&gt; Haidh.  &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kelima:&lt;/strong&gt;Nifas.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Keenam:&lt;/strong&gt; Bersetubuh/bersenggama, berdasarkan firman Allah Subahanhu wa Ta’ala:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسُُ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسُُ لَّهُنَّ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْئَانَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَاكَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.&lt;/em&gt; [ Al-Baqarah: 187]  [Lihat Fiqhus Sunnah I/406.]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut pendapat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu&lt;em&gt;: “Apabila seorang mu’takif (yang i’tikaaf) bersetubuh, maka batal i’tikaafnya dan ia mulai dari awal lagi”.&lt;/em&gt; [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan ‘Abdurrazzaq, dengan sanad yang shahih. Lihat Qiyamur Ramadhan hal. 41 oleh Imam al-Albani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8309339553987872594?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8309339553987872594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hal-hal-yang-membatalkan-itikaf.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8309339553987872594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8309339553987872594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hal-hal-yang-membatalkan-itikaf.html' title='Hal-hal Yang Membatalkan I’tikaf'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7305642859827265140</id><published>2009-09-13T23:52:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.634-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Fidyah Harus Berupa Beras</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah membayar fidyah itu harus berupa beras? Dan apakah fidyah tersebut tetap wajib dibayar jika yang bersangkutan telah meninggal dunia? (081541082XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Membayar fidyah itu berupa makan pokok. Jika makanan pokok suatu tempat berupa beras maka fidyah yang harus dibayarkan berupa beras pula. Demikian pula jika makanan pokok suatu tempat berupa sagu maka membayar fidyahnya berupa sagu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ukuran fidyah yang harus dibayarkan yaitu satu mudd atau seperempat sha’ (seperempat takaran zakat fitrah). Jika berupa beras kira-kira beratnya 650 gram. Ada juga sejumlah ulama yang menyebutkan ukurannya setengah mudd atau seberat 1,250 kg. Wallahu Ta’ala A’lam Bish Showab.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil tentang fidyah puasa ini adalah firman Allah Ta'ala :&lt;br/&gt;&lt;h1 style="text-align:right;"&gt;وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ&lt;/h1&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”&lt;/em&gt; (Surat Al Baqarah: 184  )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7305642859827265140?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7305642859827265140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/fidyah-harus-berupa-beras.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7305642859827265140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7305642859827265140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/fidyah-harus-berupa-beras.html' title='Fidyah Harus Berupa Beras'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6155452749606784872</id><published>2009-09-13T23:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i&apos;tikaf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Merasakan Lailatul Qadar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika sama-sama melakukan I’tikaf di masjid, lalu seandainya orang yang disebelah saya merasakan lailatul qadar, apakah saya juga bisa merasakannya? (081977977XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lailatul qadar adalah suatu malam yang sangat mulia. Diantara kemuliaan malam ini adalah nilai ibadah yang dilakukan pada malam ini lebih baik dari beribadah selama seribu bulan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala dalam Al Qur’an :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Lailatul Qadar (Malam kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin dari Rabb-nnya untuk mengatur segala urusan.”&lt;/em&gt; (Surat Al Qadar : 3-4)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun waktunya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah&lt;em&gt; Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; adalah pada malam-malam ganjil dikisaran sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tentang lailatul qadar ini banyak terdapat tanda-tandanya, namun sebagaimana dijelaskan dalam beberapa riwayat tanda-tanda tersebut diketahui dipagi harinya. Jadi kalau seseorang menghidupkan malam tersebut dengan berbagai bentuk ibadah, maka mudah-mudahan ia akan mendapatkan kemuliaan malam Qadar tersebut. Demikian pula orang yang ada disampingnya, ia akan mendapatkan kemuliaan malam tersebut dengan catatan iapun menghidupkan malam tersebut dengan beragam amalan, bukan menghabiskannya dengan tidur atau mengobrol dengan obrolan yang tidak ada menfaatnya. Wallahu Ta’ala A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6155452749606784872?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6155452749606784872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/merasakan-lailatul-qadar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6155452749606784872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6155452749606784872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/merasakan-lailatul-qadar.html' title='Merasakan Lailatul Qadar'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-520057381922320145</id><published>2009-09-11T15:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.611-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Sholat Ba'diyah Jum'at</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah ada tuntunannya mengerjakan sholat ba’diyah jum’at? (Hamba Allah, Banjit)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sholat sunnah ba'diyah sholat ada tuntunannya dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;. Jika dikerjakan dimasjid lebih utama jika melakukan sholat ba'diyah jum'at sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam. Namun jika dikerjakan dirumah cukup mengerjakan sholat ba'diyah jum'at sebanyak dua rakaat. Demikian dikatakan Imam Ibnul Qayyim mengutip pendapat gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Lihat Zadul Ma'ad, Ibnul Qayyim 1/440)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini berdasarkan riwayat-riwayat berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abu Hurairah ia berkata: "Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Jika salah seorang diantara kalian telah melakukan sholat jum'at maka hendaklah ia sholat empat rakaat setelahnya." &lt;/em&gt;(HR. Muslim No 881)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam riwayat lain masih dalam shahih Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُصَلِّيًا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Barangsiapa diantara kalian mengerjakan sholat setelah jum'at maka kerjakanlah sholat sebanyak empat rakaat." &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Adapun dalil yang menunjukkan bahwa jika sholat ba'diyah jum'at dilakukan dirumah maka dilakukan sebanyak dua rakaat adalah riwayat berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abdullah (bin Umar) bahwasanya jika ia telah melakukan sholat jum'at iapun pulang dan mengerjakan sholat dua rakaat dirumahnya kemudian ia berkata; "Adalah Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; telah melakukan hal seperti ini." &lt;/em&gt;(HR. Muslim No 882)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun ada juga ulama lain yang berpendapat bahwa sholat ba'diyah Jum'at itu minimal dikerjakan dua rakaat dan maksimal empat rakaat baik dikerjakan dirumah atau di masjid. Pendapat yang terakhir ini dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz. (Lihat Kitab Sholatul Mukmin, Syaikh Saad Al Qahthani 1/305-306)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-520057381922320145?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/520057381922320145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/sholat-ba-jum.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/520057381922320145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/520057381922320145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/sholat-ba-jum.html' title='Sholat Ba&amp;#39;diyah Jum&amp;#39;at'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2131718145244799438</id><published>2009-09-10T09:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.603-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Mengqadha Sholat Qabliyah Dhuhur</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalau kita tidak sempat qabliyah dhuhur bolehkah kita melakukannya setelah dhuhur?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika kita tidak sempat melakukan sholat qabliyah dhuhur, maka diperbolehkan kita mengqadhanya setelah sholat dhuhur.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu alaihi wasallam&lt;/em&gt; sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah Radliyallahu 'anha:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلَّاهُنَّ بَعْدَهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Aisyah bahwasanya Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; jika belum mengerjakan sholat qabliyah dhuhur empat rakaat, beliau melakukannya setelahnya."&lt;/em&gt; (HR. Turmudzi No 426, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Sunan Turmudzi 2/291)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diantara hikmah disyariatkannya mengqadha sholat rawatib qabliyah dhuhur ini adalah menunjukkan pentingnya sholat tersebut. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam riwayat berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي أَرْبَعًا بَعْدَ أَنْ تَزُولَ الشَّمْسُ قَبْلَ الظُّهْرِ وَقَالَ إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abdullah bin Sa'ib bahwasanya Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; melakukan sholat empat rakaat setelah tergelincir matahari sebelum mengerjakan sholat dhuhur dan beliau berkata: "Sesungguhnya (saat tergelincirnya matahari) tersebut adalah saat dibukakannya pintu-pintu langit dan aku suka pada saat tersebut amal shalih(ku) diangkat naik (ke langit)." &lt;/em&gt;(HR. Turmudzi No 478, dishahihkan oleh Syeikh Albani).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2131718145244799438?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2131718145244799438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/mengqadha-sholat-qabliyah-dhuhur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2131718145244799438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2131718145244799438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/mengqadha-sholat-qabliyah-dhuhur.html' title='Mengqadha Sholat Qabliyah Dhuhur'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5629564074182345815</id><published>2009-09-09T15:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jenazah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadits Tentang Larangan Berkumpul Dan Makan Dirumah Ahli Mayyit</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah hadits yang menyatakan bahwa berkumpul dan membuat makanan dirumah ahli mayit adalah meratap, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah itu shahih?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Riwayat yang menyatakan bahwa berkumpul dan membuat makanan dirumah ahli mayit adalah meratap merupakan atsar yang bersumber dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Jarir bin Abdillah Al Bajali ia berkata: "Kami mengkategorikan berkumpul-kumpul di keluarga mayyit dan dibuatnya makanan setelah dikuburkannya termasuk meratap." &lt;/em&gt;(HR. Ahmad No 6866)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Kami memandang berkumpul-kumpul di keluarga mayyit dan dibuatnya makanan setelah dikuburkannya termasuk meratap."&lt;/em&gt; (HR. Ibnu Majah No 1612)&lt;br/&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kedua riwayat diatas shahih, dishahihkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Albani dalam kitab Shahih Ibnu Majah 2/48 dan dalam kitab Ahkam Al Janaiz : 210&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Syeikh As-Sindi dalam menjelaskan riwayat ini beliau mengatakan bahwa kedudukan lafadz "Kunna Nauddu" (Kami mengkategorikan) atau "Kunna Naro" (Kami Memandang)  sebanding dengan Ijma' (kesepakatan) para sahabat atau taqrir (ketetapan) Rasul r. Jika dimaknai yang kedua (yakni ketetapan Rasul r) maka riwayat tersebut dihukumi marfu' (disandarkan kepada Rasulullah r). Namun baik makna yang pertama maupun yang kedua kedua-duanya dapat menjadi hujjah. (Lihat Hasyiyatus Sindi 'Ala Sunan Ibni Majah 2/275).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5629564074182345815?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5629564074182345815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hadits-tentang-larangan-berkumpul-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5629564074182345815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5629564074182345815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hadits-tentang-larangan-berkumpul-dan.html' title='Hadits Tentang Larangan Berkumpul Dan Makan Dirumah Ahli Mayyit'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1279760739216824679</id><published>2009-09-08T15:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.575-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doa'/><title type='text'>Menengadahkan Tangan Dalam berdoa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kapankah kita disyariatkan untuk menengadahkan tangan ketika berdoa? (Sujono, Yukum Jaya)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada dasarnya mengangkat dan menengadahkan tangan dalam berdoa merupakan etika yang baik dan memiliki keutamaan yang mulia serta menjadi salah satu penyebab terkabulnya doa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini didasarkan pada keumuman riwayat yang shahih berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa".&lt;/em&gt; [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No. 1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68 No 3556. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan  Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].&lt;br/&gt;Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa lafazh hayiyyun berasal dari lafazh haya' yang bermakna malu. Allah memiliki sifat malu yang sesuai dengan keagungan dzat-Nya  kita beriman tanpa menggambarkan sifat tersebut. Lafazh kariim yang  berarti Maha  Memberi tanpa diminta dan dihitung atau Maha Pemurah lagi Maha Memberi yang tidak  pernah habis pemberian-Nya, Dia dzat yang Maha Pemurah secara mutlaq. Lafazh &lt;strong&gt;"an  yarudahuma shifron"&lt;/strong&gt; artinya kosong tanpa ada sesuatu. (Mur'atul Mafatih  7/363).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Dari Anas Radhiyalahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa kecuali dalam shalat Istisqa."&lt;/em&gt; [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa' 2/12. Shahih Muslim, kitab Istisqa' 3/24].&lt;br/&gt;Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hadits tersebut tidak menafikan berdoa dengan mengangkat tangan akan tetapi menafikan sifat dan cara tertentu dalam mengangkat tangan pada saat berdoa, artinya mengangkat tangan dalam doa istisqa' memiliki  cara tersendiri dengan cara mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak seperti  pada saat doa-doa yang lain yang hanya mengangkat  kedua tangan sejajar dengan wajah  saja.&lt;br/&gt;Adapun hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari 'Amarah bin Ruwaibah bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangan dalam berdoa, lalu mengingkarinya kemudian berkata : "Saya melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  tidak lebih dari ini sambil mengisyaratkan jari telunjuknya. Imam At-Thabari  meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa disunnahkan berdoa dengan mengisyaratkan jari  telunjuk.&lt;br/&gt;Akan tetapi hadits di atas terjadi pada saat khutbah Jum'at dan bukan berarti hadits tersebut menafikan hadits-hadits yang menganjurkan mengangkat tangan dalam  berdoa. [Fathul Bari 11/146-147].&lt;br/&gt;Akan tetapi dalam masalah ini terjadi kekeliruan, sebagian orang ada yang berlebihan dan tidak pernah sama sekali mau meninggalkan mengangkat tangan, dan sebagian  yang lainnya tidak pernah sama sekali mengangkat tangan kecuali waktu-waktu khusus  saja, serta sebagian yang lain di antara keduanya, artinya mengangkat tangan pada  waktu berdoa yang memang dianjurkan dan tidak mengangkat tangan pada waktu berdoa  yang tidak ada anjurannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam Al-'Izz bin Abdussalam berkata bahwa tidak  dianjurkan mengangkat tangan pada waktu membaca doa iftitah atau doa diantara dua sujud. Tidak ada satu haditspun yang shahih yang membenarkan pendapat tersebut. Begitupula tidak disunahkan mengangkat tangan tatkala membaca doa tasyahud dan tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan kecuali waktu-waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengangkat tangan. [Fatawa Al-Izz bin Abdussalam hal. 47].&lt;br/&gt;Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz berkata: "Tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan bila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu berdoa seperti berdoa pada  waktu sehabis salam dari shalat, membaca doa di antara dua sujud dan membaca doa  sebelum salam dari shalat serta pada waktu berdoa dalam khutbah Jum'at dan Idul fitri,  tidak pernah ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa  sallam mengangkat tangan pada waktu waktu tersebut.&lt;br/&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah panutan kita dalam segala hal, apa yang ditinggalkan dan apa yang dilaksanakan semuanya suatu yang terbaik buat umatnya, akan tetapi jika dalam khutbah Jum'at khatib membaca doa istisqa',  maka dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa sebagaimana yang telah dilakukan  oleh Rasulullah Shallallah 'alaihi wa sallam. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa', bab Jamaah Mengangkat Tangan Bersama Imam 2/21].&lt;br/&gt;Dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat sunnah tetapi lebih baik jangan rutin melakukannya karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak rutin melakukan perbuatan tersebut dan seandainya demikian, maka pasti kita menemukan riwayat dari beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam terlebih para sahabat selalu menyampaikan segala tindakan dan ucapan beliau baik dalam keadaan mukim  atau safar." [Fatawa Muhimmmah hal. 47-49].&lt;br/&gt;Dan tidak dianjurkan mengangkat tangan dalam membaca doa thawaf sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkali-kali melakukan thawaf tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau berdoa mengangkat tangan pada saat thawaf. Sesuatu yang terbaik adalah mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sesuatu yang terburuk adalah mengikuti perbuatan bid'ah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun cara mengangkat tangan dalam berdoa, Ibnu Abbas berpendapat bahwa kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua pundak, dan beristighfar berisyarat  dengan satu jari, adapun ibtihal (istighasah) dengan mengangkat kedua tangan  tinggi-tinggi. [Sunan Abu Daud, bab Witir, bab Doa 2/79 No. 14950. Dishahihkan oleh Al-Albani  dalam Shahih Sunan Abu Daud].&lt;br/&gt;Imam Al-Qasim bin Muhammad berkata bahwa saya melihat Ibnu Umar berdoa di Al-Qashi dengan mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua  telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya. [Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam  Fathul Bari 11/147]. (Lihat Jahalatun nas fid du'a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 61-69]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1279760739216824679?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1279760739216824679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/menengadahkan-tangan-dalam-berdoa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1279760739216824679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1279760739216824679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/menengadahkan-tangan-dalam-berdoa.html' title='Menengadahkan Tangan Dalam berdoa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6131729516785997351</id><published>2009-09-07T07:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.568-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur#039;an'/><title type='text'>Antara Al Qur'an Terjemahan Dengan Mushaf Biasa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Manakah yang lebih utama membaca Al Qur’an terjemah atau mushafnya? (Lathifah)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika yang dimaksud dengan penanya &lt;strong&gt;"membaca Al Qur'an terjemah"&lt;/strong&gt; adalah membaca terjemahannya saja tanpa membaca ayatnya yang berbahasa arab, maka yang lebih utama adalah membaca Al Qur'an dari mushaf meskipun tidak diterjemahkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun jika pertanyaan yang dimaksud adalah "Mana yang lebih utama antara membaca Al Qur'an dari mushaf Al Qur'an yang ada terjemahannya dengan membaca al Qur'an dari mushaf yang tidak ada terjemahannya seperti mushaf cetakan Arab Saudi?", maka keduanya memiliki nilai keutamaan yang sama, selama yang ia baca adalah lafadz Al Qur'an yang berbahasa arab, bukan hanya terjemahannya saja, bahkan bisa jadi membaca Al Qur'an yang ada terjemahannya memiliki nilai yang labih maslahat, karena jika kita ingin mengetahui makna ayat yang kita baca, kita dapat mengetahuinya dengan mudah melalui terjemahannya yang ada dalam mushaf tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6131729516785997351?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6131729516785997351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/antara-al-qur-terjemahan-dengan-mushaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6131729516785997351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6131729516785997351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/antara-al-qur-terjemahan-dengan-mushaf.html' title='Antara Al Qur&amp;#39;an Terjemahan Dengan Mushaf Biasa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6128296330913122000</id><published>2009-09-06T14:59:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.560-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur#039;an'/><title type='text'>Keutamaan Membaca Ayat Kursi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah keutamaan membaca ayat kursi? (Hamba Allah)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyak sekali keutamaan-keutamaan yang dijelaskan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; tentang ayat kursi, diantaranya adalah :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Dapat menjauhkan diri kita      dari godaan setan, terutama jika dibaca sebelum tidur.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Abu Hurairah &lt;em&gt;Radhiyallahu anhu&lt;/em&gt; dalam kisah yang dialaminya ketika ada setan yang menjelma menjadi seorang manusia , lalu menemuinya dan meminta segenggam makanan dan sebelum pulang memberi nasehat kepada Abu Hurairah &lt;em&gt;Radhiyallahu anhu&lt;/em&gt; . Selengkapnya kisah tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abu Hurairah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Radhiyallahu anhu&lt;/em&gt;&lt;em&gt; ia berkata: "Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; mewakilkan kepadaku untuk menjaga zakat Ramadhan. Lalu datanglah seseorang menemuiku meminta segenggam makanan, lalu akupun mengambilkannya untuknya dan berkata sungguh aku akan mengangkat perihalmu kepada Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; . Maka laki-laki itupun berkisah, jika engkau pergi kepembaringanmu maka bacalah ayat kursi, engkau senantiasa akan dijaga oleh Malaikat penjaga dari Allah dan engkau tidak didekati setan hingga datang waktu pagi. Lalu Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Ia berbicara benar kepadamu padahal ia pendusta, ia adalah setan." &lt;/em&gt;(HR. Bukhari No 3101)&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Dimudahkan masuk ke dalam      jannah bagi yang membacanya.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Ayat kursi dianjurkan juga untuk dibaca setiap ba'da sholat lima waktu. Jika seseorang melaziminya, maka ini menjadi garansi bagainya untuk dapat meraih jannah, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِي قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَحُلْ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ الْمَوْتُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abu Umamah Al-Bahili &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Radhiyallahu anhu&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt; ia berkata: "Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Barangsiapa membaca Ayat Kursi dipenghujung setiap sholat maka tidak ada yang menghalangi orang tersebut dengan surga kecuali maut. " &lt;/em&gt;(HR. Ibnu Sunni No 121 dan di shahihkan oleh Albani dalam Silsilah Shahihah No 972)&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Ayat kursi merupakan ayat Al      Qur'an yang paling agung.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana hasil dialog yang dilakukan antara Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dan Abu Mundzir &lt;em&gt;Radhiyallahu anhu&lt;/em&gt; :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ ( اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ) قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ubay bin Kaab ia berkata : Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Hai Abu Mundzir, tahukah engkau ayat mana dari AL Qur'an yang menurutmu paling agung? Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bertanya lagi: " Hai Abu Mundzir, tahukah engkau ayat mana dari Al Qur'an yang menurutmu paling agung? Aku menjawab: "Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuum." Ia (Abu Mundzir) berkata: "Lalu beliaupun menepuk dadaku seraya berkata: "Demi Allah, mudah-mudahan engkau dimudahkan untuk memperoleh ilmu hai Abu Mundzir."&lt;/em&gt; (HR. Muslim No 810, Abu Daud No 1460)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Inilah beberapa keutamaan ayat kursi berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; . Mudah-mudahan kita dikaruniai keistiqomahan untuk dapat melaziminya sehingga kita memperoleh keutamaan-keutamaan yang telah dijanjikan. Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6128296330913122000?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6128296330913122000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/keutamaan-membaca-ayat-kursi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6128296330913122000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6128296330913122000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/keutamaan-membaca-ayat-kursi.html' title='Keutamaan Membaca Ayat Kursi'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6755794724778830331</id><published>2009-09-05T14:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.541-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Sholat Tahajjud Secara Berjamaah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bolehkah sholat tahajjud atau sholat malam dilakukan secara berjamaah? (081977973XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sholat tahajjud atau sholat malam boleh dilakukan secara berjamaah namun hendaknya hal ini tidak dilakukan secara terus menerus, tapi hanya kadang-kadang saja, mengingat kebanyakan sholat sunnah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dikerjakan secara sendirian. (lihat Syarah Shahih Muslim karya Imam An Nawawi 5/168, Nailul Authar, Imam Asy-Syaukani 2/275, Al Mughni, Ibnu Qudamah 2/567 dan Syarhul Mumti', Syeikh Utsaimin 4/83).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil diperbolehkannya sholat tahajjud secara berjamaah adalah:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّه عَنْهمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu&lt;/em&gt;&lt;em&gt; ia berkata: "Suatu malam aku sholat bersama Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;, aku berdiri disamping kiri beliau, lalu dari belakangku Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; menarik kepalaku dan memposisikanku disebelah kanannya." &lt;/em&gt; HR. Bukhari No 693)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَذَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abdullah Radhiyallahu 'anhu&lt;/em&gt;&lt;em&gt; ia berkata: "Suatu malam aku sholat bersama Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;. Beliau masih terus berdiri hingga terbersit dalam diriku untuk melakukan sesuatu yang tidak baik (karena lamanya beliau berdiri). Lalu apa yang ada dibenakmu (saat itu)? Ia menjawab: Saat itu aku ingin duduk dan membiarkan Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; (berdiri sendirian)."&lt;/em&gt; (HR. Bukhari No 1084)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6755794724778830331?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6755794724778830331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/sholat-tahajjud-secara-berjamaah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6755794724778830331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6755794724778830331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/sholat-tahajjud-secara-berjamaah.html' title='Sholat Tahajjud Secara Berjamaah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7175320229181181821</id><published>2009-09-04T03:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.497-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur#039;an'/><title type='text'>Hukum Membaca Surat Yusuf Dan Maryam Ketika Istri Sedang Hamil</title><content type='html'>Tanya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah disyari'atkan seorang suami membaca surat Yusuf dan surat Maryam ketika istrinya sedang hamil? (081272427XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak ada tuntunannya bagi wanita yang sedang hamil dibacakan surat Yusuf atau Maryam, apalagi kalau diyakini dengan membaca kedua surat anak yang akan lahir menjadi anak yang gagah seperti Nabi Yusuf atau berbakti serta shalihah seperti Maryam. Ini semua adalah keyakinan yang tanpa ada dasarnya yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, maka hendaknya hal seperti ini ditinggalkan dan jangan diyakini apalagi diamalkan. Wallahu a'lam bish showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7175320229181181821?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7175320229181181821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hukum-membaca-surat-yusuf-dan-maryam.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7175320229181181821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7175320229181181821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/hukum-membaca-surat-yusuf-dan-maryam.html' title='Hukum Membaca Surat Yusuf Dan Maryam Ketika Istri Sedang Hamil'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2612059080602930602</id><published>2009-09-03T16:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.464-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doa'/><title type='text'>Mengangkat Tangan Dalam Berdoa Setelah Sholat Malam</title><content type='html'>Tanya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bolehkah setelah sholat malam kita berdoa sambil mengangkat tangan? (081991360XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, diperbolehkan ketika kita berdoa setelah sholat malam sambil mengangkat kedua tangan, berdasarkan keumuman anjuran untuk mengangkat tangan ketika berdoa, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِىِّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ ».&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Salman Al Farisi dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya, Dia mengembalikannya dalam keadaan hampa."&lt;/em&gt; (HR. Turmudzi No 3904)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2612059080602930602?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2612059080602930602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/mengangkat-tangan-dalam-berdoa-setelah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2612059080602930602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2612059080602930602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/mengangkat-tangan-dalam-berdoa-setelah.html' title='Mengangkat Tangan Dalam Berdoa Setelah Sholat Malam'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8988773815721150223</id><published>2009-09-02T01:34:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.441-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Menelan Ludah Saat Berpuasa</title><content type='html'>Tanya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah menelan ludah membatalkan puasa? (081369588XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menelan ludah tidak membatalkan puasa, karena hal ini merupakan perkara yang sulit untuk dihindari oleh seseorang yang berpuasa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Adapun ludah, sedikit maupun banyak tidak ada perbedaan pendapat (dikalangan para ulama) bahwa sengaja menelan ludah tersebut tidaklah membatalkan puasa”. Demikian pula ungkapan Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu’ 6/317.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Syarhul ‘Umdah 1/473 berkata: “Dan Apa-apa yang terkumpul dimulut dari ludah dan semisalnya apabila ia menelannya tidaklah membatalkan puasa dan tidak dianggap makruh. Sama saja apakah ia menelannya dengan keinginannya atau ludah tersebut mengalir ketenggorokannya di luar keinginannya …”.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu a'lam bish showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8988773815721150223?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8988773815721150223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/menelan-ludah-saat-berpuasa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8988773815721150223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8988773815721150223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/menelan-ludah-saat-berpuasa.html' title='Menelan Ludah Saat Berpuasa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3960932909724909109</id><published>2009-09-01T14:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.429-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Bacaan Tasbih Ketika Rukuk Dan Sujud</title><content type='html'>Tanya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimanakah bacaan tasbih ketika rukuk dan sujud? (081279365XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada beberapa macam bacaan tasbih yang kita baca saat sedang rukuk dan sujud dalam sholat, baik itu sholat fardhu yang lima waktu maupun sholat-sholat sunnah pada umumnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diantara bacaan-bacaan tasbih yang dibaca saat rukuk adalah sebagai berikut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيم&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Maha Suci Rabbku Yang Agung."&lt;/em&gt; (dibaca tiga kali). (HR. Muslim No 1580, Ibnu Majah No 938 dan Ibnu Huzaimah No 580)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Atau dengan tambahan "wabihamdih" dipenghujungnya sehingga menjadi:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِه&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(HR. Abu Daud No 870 dan Baihaqi No 2658, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kedua-duanya dibenarkan karena semua riwayatnya shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sedangkan ketika sujud membaca :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Maha Suci Rabbku Yang Tinggi." &lt;/em&gt;(dibaca tiga kali). (HR. Muslim No 1580, Ibnu Majah No 938 dan Ibnu Huzaimah No 580)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Atau dengan tambahan "wabihamdih" dipenghujungnya sehingga menjadi:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِه&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(HR. Abu Daud No 870 dan Baihaqi No 2658, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Juga dibenarkan ketika rukuk dan sujud membaca:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Maha Suci (Allah), Maha Quddus, Rabbnya para malaikat dan Rabbnya Arruh (Jibril)." &lt;/em&gt;(HR. Muslim No 1119)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Atau membaca :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Maha Suci Engkau Ya Allah, Engkau Rabb kami, dan dengan memuji-Mu Ya Allah, ampunilah aku." &lt;/em&gt;(HR.Bukhari No 794)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dianjurkan untuk membaca doa tersebut lebih dari sekali (Lihat Shahih Bukhari no 817)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demikianlah beberapa alternatif tasbih yang dibaca saat kita sedang rukuk dan sujud. Kita boleh memilih satu dari sekian lafadz yang ada, tidak boleh membaca dengan menghimpung semuanya dalam satu gerakan rukuk maupun sujud, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3960932909724909109?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3960932909724909109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/bacaan-tasbih-ketika-rukuk-dan-sujud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3960932909724909109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3960932909724909109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/09/bacaan-tasbih-ketika-rukuk-dan-sujud.html' title='Bacaan Tasbih Ketika Rukuk Dan Sujud'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4971437067114545053</id><published>2009-08-30T15:29:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.421-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Dzikir Dan Bacaan Khusus Disela-sela Sholat Tarawih</title><content type='html'>Tanya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah ada dzikir atau bacaan khusus setelah sholat empat dan delapan rakaat dalam sholat tarawih? (085669610XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak ada dzikir atau bacaan tertentu yang dikhususkan untuk dibaca setelah selesai melakukan sholat empat dan delapan rakaat dari sholat tarawih. Oleh karenanya untuk memanfaatkan jeda waktu yang ada tersebut kita dapat menggunakannya untuk melafadzkan dzikir-dzikir apa saja yang bersifat mutlak yang kita kehendaki, atau kita dapat menggunakannya untuk berdoa atau membaca Al Qur'an hingga imam bangkit untuk melanjutkan kerakaat berikutnya. Wallahu a'lam bish showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4971437067114545053?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4971437067114545053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/dzikir-dan-bacaan-khusus-disela-sela.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4971437067114545053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4971437067114545053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/dzikir-dan-bacaan-khusus-disela-sela.html' title='Dzikir Dan Bacaan Khusus Disela-sela Sholat Tarawih'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4397866986850520279</id><published>2009-08-29T14:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Sunnah Digabung Dengan Puasa Nadzar</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Boleh tidak puasa sunnah tiga hari digabung dengan puasa nadzar tiga hari? (081585481XXX)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puasa nadzar hukumnya wajib sedangkan puasa tiga hari setiap bulan hukumnya sunnah. Maka tidak boleh jika seseorang berniat puasa sunnah tiga hari digabung dengan puasa nadzar tiga hari, karena niatan awalnya adalah mengerjakan yang sunnah maka yang wajib belum gugur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun dibenarkan jika seandainya seseorang yang ingin menunaikan puasa nadzar tiga hari dikerjakan pada tanggal 13, 14 dan 15 pada bulan hijriyah, yang berarti bertepatan dengan pelaksanaan puasa putih, maka Insya Allah ia akan mendapatkan keutamaan dari keduanya. Wallahu Ta’ala A’lam Bis Showab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4397866986850520279?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4397866986850520279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/puasa-sunnah-digabung-dengan-puasa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4397866986850520279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4397866986850520279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/puasa-sunnah-digabung-dengan-puasa.html' title='Puasa Sunnah Digabung Dengan Puasa Nadzar'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6752875370953612527</id><published>2009-08-28T15:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.385-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Menyimpan Jimat Dan Rajah Pemberian Dari Kyai</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah boleh menyimpan jimat atau rajah yang diberikan oleh kyai?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jimat atau rajah termasuk syirik, sehingga janganlah benda tersebut disimpan, karena kalau disimpan sekalipun kini orang tersebut tidak meyakininya lagi namun bisa jadi pada saat-saat ia dalam kesulitan setan akan membisikkan kepadanya untuk mencoba kembali keampuhan jimat pemberian kyai tersebut, dengan begitu ia akan terjeremab kedalam kesyirikan lagi. Atau ia memang tidak menggunakannya, namun lantaran tidak dimusnahkan bisa jadi anak cucunya akan menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan yang berujung kepada kesyirikan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karenanya hendaklah jimat-jimat tersebut segera dimusnahkan agar tidak menjadi wasilah (sarana) terjadinya kesyirikan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah memerintahkan seorang laki-laki yang memakai sebuah gelang yang diyakininya bisa menghilangkan penyakit agar membuang gelang tersebut dan mengancam sekiranya ia meninggal dunia sementara gelang tersebut masih melekat dalam dirinya dia tidak akan beruntung selamanya, maksudnya dia akan dimasukkan ke dalam Neraka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini disebutkan dalam riwayat berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Imran bin Hushain bahwasanya Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam &lt;/em&gt;&lt;em&gt;melihat sebuah gelang terbuat dari kuningan yang dikenakan oleh seorang laki-laki dilengannya. Lalu beliau bersabda: "Celakalah engkau, benda apa ini?" Ia (laki-laki) tersebut menjawab: "Untuk tolak bala." Beliau bersabda: "Sesungguhnya benda itu hanya membuatmu menjadi semakin lemah, lepaskanlah ia darimu karena sesungguhnya seandainya engkau meninggal dunia sementara benda itu masih ada padamu maka engkau tidak akan beruntung selamanya." &lt;/em&gt;(HR. Ahmad No 19498)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil lain tentang syiriknya mengunakan jimat yang digantungkan ditubuh seseorang adalah:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عُقْبَةَ ابْنِ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Uqbah bin Amir ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan mengabulkan permohonannnta." &lt;/em&gt;(HR. Ahmad No 16951)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hadits lain Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Barangsiapa yang menggantungkan jimat sungguh ia telah melakukan kesyirikan." &lt;/em&gt;(HR. Ahmad No 16969)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6752875370953612527?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6752875370953612527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/menyimpan-jimat-dan-rajah-pemberian.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6752875370953612527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6752875370953612527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/menyimpan-jimat-dan-rajah-pemberian.html' title='Menyimpan Jimat Dan Rajah Pemberian Dari Kyai'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3409081327884662862</id><published>2009-08-28T02:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Yang Wajib Dalam Setahun</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Puasa apa saja yang wajib dilakukan dalam kurun satu tahun? (Sri, Kedaton)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Puasa yang wajib dilakukan dalam kurun satu tahun hanya puasa di bulan Ramadhan. (Shahih Fiqh Sunnah 2/88-89). Selebihnya adalah sunnah, seperti puasa Senin Kamis, puasa Daud, puasa Arafah, puasa Asy-syura, dan lain-lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini didasarkan pada riwayat  shahih yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim ketika ada seorang arab Badui yang datang menemui Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dan bertanya kepada beliau tentang puasa apa yang diwajibkan Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, ia berkata kepada Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;أَخْبِرْنِى مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصِّيَامِ فَقَالَ  شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Kabarkan kepadaku puasa apa yang Allah wajibkan atas diriku? Beliau &lt;/em&gt;&lt;em&gt;r&lt;/em&gt;&lt;em&gt; menjawab: "(Puasa) pada bulan Ramadhan, kecuali bila engkan ingin puasa sunnah." &lt;/em&gt;(HR Bukhari No 1891 dan Muslim No 8).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3409081327884662862?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3409081327884662862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/puasa-yang-wajib-dalam-setahun.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3409081327884662862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3409081327884662862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/puasa-yang-wajib-dalam-setahun.html' title='Puasa Yang Wajib Dalam Setahun'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7876150218516271638</id><published>2009-08-26T14:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Apa Yang Diperbuat Oleh Makmum Yang Masbuq</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apabila kita ketinggalan sholat berjamaah, ketika masuk imam sedang dalam posisi tasyahud, bagaimana posisi kita yang ketinggalan, apa sekedar mengikuti gerakannya atau ikut membaca tasyahud? (081379053XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apabila seseorang menjadi masbuq dalam sholat berjamaah dan ketika masuk imam sedang dalam posisi tasyahud, maka ia hendaknya membaca tasyahud seperti yang dilakukan oleh imam dan makmum  lainnya. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia bertakbir maka bertakbirlah kalian. Apabila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan apabila ia sujud maka sujudlah kalian.” &lt;/em&gt;(HR. Bukhari No 371)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi disamping makmum dituntut untuk mengikuti gerakan imam, maka ia dituntut pula  untuk membaca doa pada setiap gerakan yang ia lakukan bersama sang imam, meskipun ia tidak digolongkan mendapat rakaat tersebut bersama imam. Seperti orang yang masuk ketika imam sudah I’tidal, ia diperintahkan untuk langsung bergabung dengan imam tidak menunggu sampai imam berdiri pada rakaat berikutnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dalam sebuah haditsnya:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Muadz Bin Jabal ia berkata: “Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: “Jika salah seorang diantara kalia mendatangi sholat (berjamaah) sedangkan imam sedang dalam suatu keadaan, maka berbuatlah sebagaimana diperbuat oleh imam.” &lt;/em&gt;(HR. Turmudzi No 591 dan dishahihkan oleh Albani)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: “Jika kalian mendatangi sholat sementara kami sedang sujud maka sujudlah kalian namun kalian tidak mendapatkan rakaat tersebut. Dan barangsiapa yang mendapat satu rakaat (bersama imam) sungguh ia telah mendapatkan sholat tersebut.” &lt;/em&gt;(HR. Abu Daud No 893, dan dihasankan oleh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(Lihat kitab Sholatul Mu’min [Panduan Sholat Lengkap] Syeikh Said bin Ali Wahaf Al Qahthani : 423-426 dan 614)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7876150218516271638?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7876150218516271638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/apa-yang-diperbuat-oleh-makmum-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7876150218516271638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7876150218516271638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/apa-yang-diperbuat-oleh-makmum-yang.html' title='Apa Yang Diperbuat Oleh Makmum Yang Masbuq'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4651354586857545613</id><published>2009-08-25T15:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.285-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Lafadz Hadits Bahwa Suara Wanita Itu Aurat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana lafadz hadits yang menyatakan bahwa suara wanita adalah aurat? Dan bagaimana asbabul wurudnya? (081578721XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pendapat yang menyatakan bahwa suara wanita adalah aurat adalah tidak benar, dan kami belum mendapatkan adanya hadits atau riwayat tentang hal ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Riwayat yang kami dapatkan tentang wanita adalah bahwa &lt;strong&gt;“wanita itu aurat”&lt;/strong&gt; bukan &lt;strong&gt;“suara wanita itu aurat.”&lt;/strong&gt; Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Abdullah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; beliau bersabda: “Wanita adalah aurat, maka jika ia keluar ia diiringi oleh setan.”&lt;/em&gt; (HR. Tirmidzi No 1173 dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan didalam Al Qur’anpun Allah Ta'ala membolehkan para istri Nabi &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; untuk berbicara, namun tidak dengan suara yang lembut yang dapat menggoda kaum laki-laki.&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Surat Al Ahzab : 32)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dengan demikian jelaslah bahwa pada dasarnya wanita tetap diperbolehkan untuk berbicara dengan lawan jenisnya, namun ada batasan-batasan yang harus ditaatinya agar tidak menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki. Wallahu A’lam Bish Showab. (Lihat Majmu’ fatawa Wa Rasa’il karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 12/269)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4651354586857545613?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4651354586857545613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/lafadz-hadits-bahwa-suara-wanita-itu.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4651354586857545613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4651354586857545613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/lafadz-hadits-bahwa-suara-wanita-itu.html' title='Lafadz Hadits Bahwa Suara Wanita Itu Aurat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1202904558491895303</id><published>2009-08-24T15:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Hal-hal Yang MembatalkanTauhid</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tolong jelaskan hal-hal yang membatalkan tauhid ?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan hal-hal yang membatalkan tauhid adalah sama dengan hal-hal yang membatalkan keislaman atau hal-hal yang menjadikan seseorang murtad, keluar dari Islam. Semua ini adalah ungkapan yang memiliki makna yang sama, yaitu mengeluarkan seseorang dari Islam atau murtad.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad (keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman baik berupa keyakinan, perkataan maupun berupa perbuatan, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.&lt;br/&gt;Yang paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang di sebutkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, syeikh Abdul Aziz bin Bazz dan para ulama lainnya. Berikut ini adalah point-point yang kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit penjelasan agar kita berhati hati dari hal ini dan tidak terjebak didalamnya, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Pertama:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Mempersekutukan Allah Ta'ala&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; dalam beribadah.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tidak mengampuni dosa syirik (menyekutukan) dengan-Nya, dan mengampuni dosa selain itu bagi orang – orang yang dikehendaki-Nya&lt;/em&gt;.” (An-nisa’ ayat : 116)&lt;br/&gt;Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim”&lt;/em&gt; .( Al- Maidah : 72).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kedua:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Ta'ala&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;, meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal (berserah diri) kepada perantara tersebut.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ (kesepakatan) ulama  para ulama, adalah kafir.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Ketiga :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Tidak menganggap kafir orang- orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Keempat:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Berkeyakinan bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad &lt;em&gt;Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti : mereka yang mengutamakan aturan - aturan thaghut (aturan–aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah), dan mengesampingkan hukum Rasulullah &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;, maka orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Termasuk dalam point ini adalah orang yang berkeyakinan bahwa aturan- aturan dan perundang – undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam, atau bahwa syariat Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke dua puluh ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.&lt;br/&gt;Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Ta'ala dan memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina ( muhsan) yang telah kawin tidak sesuai lagi di masa kini.&lt;br/&gt;Demikian juga orang yang berkeyakinan diperbolehkannya pengetrapan hukum selain hukum Allah I dalam segi mu’amalat syar’iyyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya, atau dalam menentukan hukum pidana, atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dangan keyakinan bahwa hukum- hukum tersebut lebih utama dari pada syariat Islam.&lt;br/&gt;Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah Ta'ala, menurut kesepakatan para ulama’.sedangkan setiap orang yang telah menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah Ta'ala dalam agama, seperti zina, minum arak, riba dan penggunaan perundang- undangan selain Syariat Allah Ta'ala, maka ia adalah kafir, merurut kesepakatan para umat Islam.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kelima :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;, meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang sedemikian ini adalah kafir.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karena Allah Ta'ala telah berfirman :&lt;br/&gt;&lt;em&gt;”Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka”.&lt;/em&gt; ( Muhammad : 9).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Keenam:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Memperolok–olok sesuatu dari ajaran Rasulullah &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; , atau memperolok–olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama Allah Ta'ala&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; , maka orang yang demikian menjadi kafir,&lt;/strong&gt; karena Allah Ta'ala telah berfirman :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُم&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;”Katakanlah ( wahai Muhammad ) terhadap Allah kah dan ayat– ayat Nya serta RasulNya kalian memperolok–olok ? tiada arti kalian meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.”&lt;/em&gt; (At- Taubah : 65- 66).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Sihir, termasuk didalamnya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami terhadap istrinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara syaitani. &lt;/strong&gt;Orang yang melakukan hal ini adalah kafir, karena Allah Ta'ala telah berfirman :&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِّنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآأُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.&lt;/em&gt;( Al-Baqarah : 102)&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kedelapan:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Membantu dan menolong orang–orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Allah Ta'ala berfirman:&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dan barang siapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang–orang yang zhalim” .&lt;/em&gt;( Al- Maidah: 51).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kesembilan:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;, maka yang berkeyakinan seperti ini adalah kafir. &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Allah Ta'ala berfirman :&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Barang siapa menghendaki suatu agama selain Islam, maka tidak akan diterima agama itu dari padanya, dan ia di akhirat tergolong orang- orang yang merugi”.&lt;/em&gt;( Ali- Imran: 85).&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kesepuluh :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Berpaling dari&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Agama Allah Ta'ala&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya. &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Allah Ta'ala berfirman :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِئَايَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَآ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Tiada yang lebih zhalim dari pada orang yang telah mendapatkan peringatan melalui ayat–ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling dari padanya. Sesungguhnya Kami akan menimpakan pembalasan kepada orang yang berdosa “.&lt;/em&gt; ( As- Sajadah : 22).&lt;br/&gt;Dalam hal- hal yang membatalkan keislaman ini, tak ada perbedaan hukum antara yang main-main, yang sungguh- sungguh (yang sengaja melanggar) ataupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Semua itu merupakan hal- hal yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari hal- hal yang mendatangkan kemurkaan Nya dan kepedihan siksaan-Nya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(Lihat Kitab Nawaqidhul Islam [edisi Indonesia: Hal-hal yang membatalkan Keislaman] oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz)&lt;br/&gt;&lt;div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:818px;width:1px;height:1px;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&amp;gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &amp;lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--&gt;&lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;} @font-face 	{font-family:"AGA Arabesque"; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h2 	{mso-style-next:Normal; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:22.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho"; 	mso-bidi-font-family:"Traditional Arabic"; 	font-weight:normal;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Verdana; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Traditional Arabic";} p.MsoBodyText3, li.MsoBodyText3, div.MsoBodyText3 	{margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:1.0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:22.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Traditional Arabic";} span.fnu2 	{mso-style-name:fnu2;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&amp;gt; &amp;lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&amp;quot;Table Normal&amp;quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&amp;quot;&amp;quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tanya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tolong jelaskan hal-hal yang membatalkan tauhid ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Jawab&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan hal-hal yang membatalkan tauhid adalah sama dengan hal-hal yang membatalkan keislaman atau hal-hal yang menjadikan seseorang murtad, keluar dari Islam. Semua ini adalah ungkapan yang memiliki makna yang sama, yaitu mengeluarkan seseorang dari Islam atau murtad.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad (keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman baik berupa keyakinan, perkataan maupun berupa perbuatan, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Yang paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang di sebutkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, syeikh Abdul Aziz bin Bazz dan para ulama lainnya. Berikut ini adalah point-point yang kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit penjelasan agar kita berhati hati dari hal ini dan tidak terjebak didalamnya, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Pertama:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:5pt;font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;M&lt;span class="fnu2"&gt;empersekutukan Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; dalam beribadah.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoBodyText3" style="margin:0 1cm .0001pt 0;"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا {116}&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-size:13pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tidak mengampuni dosa syirik (menyekutukan) dengan-Nya, dan mengampuni dosa selain itu bagi orang – orang yang dikehendaki-Nya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;.” (An-nisa’ ayat : 116)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:22pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ {72}&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim”&lt;/em&gt; .( Al- Maidah : 72).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Kedua:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:6pt;font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal (berserah diri) kepada perantara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ (kesepakatan) ulama&lt;span&gt; &lt;/span&gt;para ulama, adalah kafir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Ketiga :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-size:7pt;font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Tidak menganggap kafir orang- orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Keempat:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:7pt;font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Berkeyakinan bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti : mereka yang mengutamakan aturan - aturan thaghut (aturan–aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah), dan mengesampingkan hukum Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, maka orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Termasuk dalam point ini adalah orang yang berkeyakinan bahwa aturan- aturan dan perundang – undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam, atau bahwa syariat Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke dua puluh ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Ta'ala dan memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina ( muhsan) yang telah kawin tidak sesuai lagi di masa kini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Demikian juga orang yang berkeyakinan diperbolehkannya pengetrapan hukum selain hukum Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; dalam segi mu’amalat syar’iyyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya, atau dalam menentukan hukum pidana, atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dangan keyakinan bahwa hukum- hukum tersebut lebih utama dari pada syariat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, menurut kesepakatan para ulama’.sedangkan setiap orang yang telah menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; dalam agama, seperti zina, minum arak, riba dan penggunaan perundang- undangan selain Syariat Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, maka ia adalah kafir, merurut kesepakatan para umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Kelima :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang sedemikian ini adalah kafir.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-size:7pt;font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Karena Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; telah berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;h2&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَآأَنزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ {9}&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;”Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka”.&lt;/em&gt; ( Muhammad : 9).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Keenam:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Memperolok–olok sesuatu dari ajaran Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; , atau memperolok–olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama Allah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; , maka orang yang demikian menjadi kafir,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; karena Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; telah berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:22pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُم&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;”Katakanlah ( wahai Muhammad ) terhadap Allah kah dan ayat– ayat Nya serta RasulNya kalian memperolok–olok ? tiada arti kalian meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.”&lt;/em&gt; (At- Taubah : 65- 66).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Sihir, termasuk didalamnya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami terhadap istrinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara syaitani. &lt;/strong&gt;Orang yang melakukan hal ini adalah kafir, karena Allah &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; telah berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:22pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِّنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآأُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;( Al-Baqarah : 102)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Kedelapan:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Membantu dan menolong orang–orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:22pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {51}&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:22pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;“Dan barang siapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang–orang yang zhalim” .&lt;/em&gt;( Al- Maidah: 51).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Kesembilan:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, maka yang berkeyakinan seperti ini adalah kafir. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText3" style="margin:0 1cm .0001pt 0;"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ {85}&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Barang siapa menghendaki suatu agama selain Islam, maka tidak akan diterima agama itu dari padanya, dan ia di akhirat tergolong orang- orang yang merugi”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;( Ali- Imran: 85).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;Kesepuluh :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Berpaling dari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Agama Allah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:22pt;font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِئَايَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَآ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ {22}&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Tiada yang lebih zhalim dari pada orang yang telah mendapatkan peringatan melalui ayat–ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling dari padanya. Sesungguhnya Kami akan menimpakan pembalasan kepada orang yang berdosa “.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; ( As- Sajadah : 22).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;Dalam hal- hal yang membatalkan keislaman ini, tak ada perbedaan hukum antara yang main-main, yang sungguh- sungguh (yang sengaja melanggar) ataupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Semua itu merupakan hal- hal yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;"&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; dari hal- hal yang mendatangkan kemurkaan Nya dan kepedihan siksaan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"&gt;&lt;span class="fnu2"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;(Lihat Kitab Nawaqidhul Islam [edisi Indonesia: Hal-hal yang membatalkan Keislaman] oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1202904558491895303?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1202904558491895303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hal-hal-yang-membatalkantauhid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1202904558491895303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1202904558491895303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hal-hal-yang-membatalkantauhid.html' title='Hal-hal Yang MembatalkanTauhid'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7477346036549310487</id><published>2009-08-23T14:47:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hukum Memakai Cadar Bagi Wanita</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya membaca sebuah buku bahwa hadits yang memperbolehkan wanita menampakkan wajah dan telapak tangannya adalah dhaif, yang shahih memakai cadar, benar tidak? (081379312XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mengenai hukum memakai cadar bagi wanita muslimah telah terjadi perbedaan pendapat tentangnya. Sebagian ulama menghukuminya wajib dan sebagian yang lain tidak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hal ini jumhur ulama berpendapat bahwa memakai cadar tidak wajib bagi muslimah namun merupakan sebuah keutamaan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun  dalil yang dipakai oleh jumhur ulama yang tidak mewajibkan adalah hadits Asma sebagaimana yang disebutkan oleh saudara penanya diatas.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lafadz hadits ini adalah sebagai berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari `Aisyah dia berkata,&lt;em&gt; Bahwa Asma' bintu Abi Bakar menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; berpaling darinya dan berkata, "Wahai Asma', sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.” &lt;/em&gt;(HR Abu Daud No 4104)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sanad hadits ini lemah, tetapi Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan bahwa hadits ini dikuatkan dengan beberapa penguat (Lihat Jilbab Al Mar'atil Muslimah, karya beliau hal. 58), yaitu:&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Riwayat &lt;strong&gt;mursal shahih&lt;/strong&gt; dari Qatadah dari      Nabi &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِنَّ الْجَارِيَةَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا وَجْهَهَا وَيَدَاهَا إِلَى الْمِفْصَلِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Jika seorang gadis kecil telah haidh, maka tidak pantas terlihat sesuatu darinya kecuali wajahnya dan tangannya sampai pergelangan." &lt;/em&gt;(HR. Abu Daud dala Al Maraasiil No 437 dengan sanad shahih)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Diriwayatkan      oleh Thabrani dan Al Baihaqi dari jalan Ibnu Luhai'ah, dari `Iyadh bin      Abdullah, bahwa dia mendengar Ibrahim bin `Ubaid bin Rifa'ah Al Anshari      menceritakan dari bapaknya, aku menyangka dari Asma' binti `Umais yang      berkata, "Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; masuk menemui `Aisyah,      dan di dekat `Aisyah ada saudarinya, yaitu Asma bintu Abi Bakar. Asma      memakai pakaian buatan Syam yang longgar lengan bajunya. Ketika Rasulullah      melihatnya, beliau bangkit lalu keluar. Maka `Aisyah berkata kepada Asma,      "Menyingkirlah engkau, sesungguhnya Rasulullah telah melihat perkara      yang tidak beliau sukai. Maka Asma menyingkir. Kemudian Rasulullah masuk,      lalu Aisyah bertanya kenapa beliau bangkit (dan keluar). Maka beliau menjawab,      "Tidakkah engkau melihat keadaan Asma, sesungguhnya seorang wanita      muslimah itu tidak boleh tampak darinya kecuali ini dan ini", lalu      beliau memegangi kedua lengan bajunya dan menutupkan pada kedua telapak      tangannya, sehingga yang nampak hanyalah jari-jarinya, kemudian meletakkan      kedua telapak tangannya pada kedua pelipisnya sehingga yang nampak      hanyalah wajahnya."&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Al-Baihaqi menyatakan, &lt;em&gt;"Sanadnya dha'if." &lt;/em&gt;Kelemahan hadits ini karena perawi yang bernama Ibnu Luhai'ah sering keliru setelah menceritakan dengan hafalannya, yang sebelumnya dia seorang yang utama dan terpercaya ketika menceritakan dengan bukunya. Namun Syeikh Albani menyatakan bahwa haditsnya ini dapat dijadikan penguat karena disebutkan oleh Haitsami dalam Majmu’ Zawaid (5/137) dengan periwayatan dari Thabrani dalam Mu’jam AL Kabir dan Mu’jam Al Ausath.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;c.  Kemudian Syeikh Albani menyebutkan bebarapa dalil penguat lain yang beliau uraikan dalam buku beliau Jilbabul Mar’ah Muslimah  : 60-73.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7477346036549310487?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7477346036549310487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-memakai-cadar-bagi-wanita.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7477346036549310487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7477346036549310487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-memakai-cadar-bagi-wanita.html' title='Hukum Memakai Cadar Bagi Wanita'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4813826877986055045</id><published>2009-08-22T04:42:00.000-07:00</published><updated>2009-12-06T15:04:04.953-08:00</updated><title type='text'>Kontak Kami</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Form kontak ini hanya dipergunakan untuk mengirimkan saran dan kritik Anda seputar website dialogimani.blogspot.com atau tentang acara dialog imani itu sendiri. Dilarang mengirimkan pertanyaan (sudah disediakan di form kirim pertanyaan) melalui form ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;form method="post" action="http://kontactr.com/euser.php"&gt;&lt;input name="id" type="hidden" value="38385" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="10px" border="0" style="font-size: 13px; font-family: Tahoma, Verdana;"&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right"&gt;Nama : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="sender_name" type="text" style="width: 250px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right"&gt;Email : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="sender_email" type="text" style="width: 250px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right"&gt;Judul : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="subject" type="text" style="width: 250px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="top"&gt;Pesan/Saran : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea rows="10" cols="40" name="message" style="font-size: 13px; padding: 3px; font-family: Tahoma, Verdana;"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="middle"&gt;Image (case-sensitive): &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;img src="http://kontactr.com/captcha.php" /&gt; &lt;input type="text" name="captcha_code" style="margin-bottom: 10px; font-size: 13px; padding: 3px; font-family: Tahoma, Verdana;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td colspan="2" align="center"&gt;&lt;input name="send" type="submit" id="send" value="Kirim" style="font-size: 18px; width: 100px; letter-spacing: 5px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/form&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4813826877986055045?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4813826877986055045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/kontak-kami_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4813826877986055045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4813826877986055045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/kontak-kami_22.html' title='Kontak Kami'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8979914315171272571</id><published>2009-08-22T04:34:00.000-07:00</published><updated>2009-12-06T15:05:32.361-08:00</updated><title type='text'>Kirim Pertanyaan Anda</title><content type='html'>Form ini digunakan untuk mengirimkan pertanyaan, kirimkan pertanyaan anda seputar agama dan lainnya. Pertanyaan Anda akan dijawab oleh para pengasuh Dialog Imani secara langsung di Radio RRI pada acara dialogimani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;form method="post" action="http://kontactr.com/euser.php"&gt;&lt;input name="id" type="hidden" value="38385" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="10px" border="0" style="font-size: 13px; font-family: Tahoma, Verdana;"&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right"&gt;Nama : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="sender_name" type="text" style="width: 250px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right"&gt;Email : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="sender_email" type="text" style="width: 250px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right"&gt;Judul : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;input name="subject" type="text" style="width: 250px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="top"&gt;Pertanyaan : &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;textarea rows="10" cols="40" name="message" style="font-size: 13px; padding: 3px; font-family: Tahoma, Verdana;"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="middle"&gt;Image (case-sensitive): &lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;img src="http://kontactr.com/captcha.php" /&gt; &lt;input type="text" name="captcha_code" style="margin-bottom: 10px; font-size: 13px; padding: 3px; font-family: Tahoma, Verdana;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;td colspan="2" align="center"&gt;&lt;input name="send" type="submit" id="send" value="Kirim" style="font-size: 18px; width: 100px; letter-spacing: 5px;" /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/form&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8979914315171272571?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8979914315171272571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/kirim-pertanyaan-anda.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8979914315171272571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8979914315171272571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/kirim-pertanyaan-anda.html' title='Kirim Pertanyaan Anda'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6659881618545868600</id><published>2009-08-20T16:27:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zakat'/><title type='text'>Cara Membagi Zakat Fithrah</title><content type='html'>&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana cara membagi zakat fitrah kalau mustahiq ada hanya ada lima ashnaf, bolehkah sisanya dikembalikan ke baitul mal?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ibnu Rusyd Al Andalusy dalam kitab Bidayatul Mujtahid menyatakan bahwa para ulama sepakat zakat fithrah diberikan kepada orang-orang muslim yang fakir. (Al Bidayah 3/141) dan boleh diberikan kepada orang fakir yang berada diluar wilayahnya seandainya sudah tidak ada lagi orang fakir yang ada diwilayahnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi mustahiq zakat fitrah tidak seperti mustahiq zakat mal yang berjumlah delapan ashnaf. Mustahiq zakat fitrah adalah orang-orang fakir miskin. Hal ini didasarkan pada riwayat yang shahih dari Abdullah bin Abbas t sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ibnu Abbas ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; mewajibkan zakat fithrah urituk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan yang tidak terpuji serta untuk member&lt;sup&gt;-&lt;/sup&gt;i makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa membayarkannya sebelum sholat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang membayarkannya setelah sholat maka itu hanya bernilai sedekah saja." &lt;/em&gt;(HR. Abu Daud No 1371 dan Ibnu Majah No 1831 dan dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Irwaul Ghalil No 834)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hadits diatas terdapat petunjuk yang jelas bahwa zakat fitrah itu diberikan kepada orang-orang miskin, tidak kepada ashnaf- ashnaf lain sebagaimana zakat mal. Namun sekiranya ada kemaslahatan lain maka boleh dialokasikan kepada salah satu atau beberapa golongan lainnya yang berhak menerima zakat, setelah fakir miskin mendapatkan hak dan bagian mereka. (Lihat Az-Zakat : 129 dan Minhajul Muslim : 383)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6659881618545868600?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6659881618545868600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/cara-membagi-zakat-fithrah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6659881618545868600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6659881618545868600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/cara-membagi-zakat-fithrah.html' title='Cara Membagi Zakat Fithrah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4278306515514275488</id><published>2009-08-19T16:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.205-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zakat'/><title type='text'>Zakat Fitrah Untuk Modal Usaha</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bolehkah zakat fitrah disalurkan/diberikan untuk modal usaha? (Yusuf)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; telah menjelaskan hikmah dikeluarkannya zakat fithrah, yaitu agar orang-orang fakir dan miskin turut dapat bergembira pada hari raya dan tidak perlu meinta-minta lagi. Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah riwayat:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ibnu Abbas ia berkata: "Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; mewajibkan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan yang tidak terpuji serta untuk member&lt;sup&gt;-&lt;/sup&gt;i makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa membayarkannya sebelum sholat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang membayarkannya setelah sholat maka itu hanya bernilai sedekah saja." &lt;/em&gt;(HR. Abu Daud No 1371 dan Ibnu Majah No 1831 dan dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Irwaul Ghalil No 834)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(lihat Fiqhuz-Zakat, Dr. Yusuf Qardhawi 2/922 dan Az-Zakat, Ath-thayyar 125­-126)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Orang yang ingin membayar zakat fitrah hendaknya membayarnya dalam bentuk makanan pokok bukan dalam bentuk uang. Karena demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan para sahabat beliau, meskipun pada saat itu uang juga sudah ada dan berfungsi sebagai alat pembayaran.&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعٌ مِنْ بُرٍّ أَوْ قَمْحٍ عَلَى كُلِّ اثْنَيْنِ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى أَمَّا غَنِيُّكُمْ فَيُزَكِّيهِ اللَّهُ وَأَمَّا فَقِيرُكُمْ فَيَرُدُّ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِمَّا أَعْطَى &lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; &lt;em&gt;bersabda: "(Zakat fitrah itu adalah) satu sha' gandum bagi masing-­masing aanak-kecil atau orang dewasa, orang merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau wanita. Adapun orang yang kaya dar&lt;sup&gt;-&lt;/sup&gt;i kalian maka akan Allah sucikan dirinya, adapun orang yang miskin dari kalian maka Allah akan kembalikan kepadanya lebih banyak dari apa yang telah ia bayarkan." &lt;/em&gt;(HR. Abu Daud No 1379 dan Ahmad)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللَّه عَنْه يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Dari Abu Said t ia berkata: &lt;em&gt;'Kami mengeluarkan zakat fithrah (pada zaman Nabi) berupa satu sha' makanan." &lt;/em&gt;(HR. Bukhari No 1506)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika seseorang telah memberikan zakat fitrahnya kepada seseorang dalam bentuk makanan pokok lalu setelah terkumpul oleh orang yang menerimanya sebagian beras zakat tersebut ia jual untuk modal usaha yang akan dirintisnya, maka hal demikian tidaklah mengapa. Karena ketika ia telah menerima zakat, maka barang tersebut menjadi miliknya ia berhak memperlakukannya sesuai yang dikehendakinya, apakah akan ia simpan semuanya, atau sebagiannya ia jual, atau sebagiannya ia infaqkan atau dihibahkan atau yang lainnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yang jelas ketika seseorang membayar zakat fitrah ia harus membayarnya dengan makanan pokok, bukan dalam bentuk uang. Karena jumhur ulama yaitu Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad dan Ibnu Hazm Rahimahumullah berpendapat tidak sah membayarkan zakat fitrah dengan uang. (Lihat Al-Mughni 4/295 dan Al-muhalla, Ibnu Hazm 6/137).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu Ta’ala A’lam Bis Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4278306515514275488?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4278306515514275488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/zakat-fitrah-untuk-modal-usaha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4278306515514275488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4278306515514275488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/zakat-fitrah-untuk-modal-usaha.html' title='Zakat Fitrah Untuk Modal Usaha'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4847488825239814430</id><published>2009-08-18T16:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Muntah Ketika Sedang Berpuasa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya sedang berpuasa tetapi kemudian muntah karena masuk angin, apakah puasa saya batal? (085669943XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika seseorang sedang berpuasa kemudian ia muntah dengan tidak sengaja, seperti muntah karena masuk angin atau yang lainnya, maka hal itu tidak membatalkan puasanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;‘Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa muntah dengan tidak sengaja maka ia tidak perlu mengqadha (puasanya). Namun barangsiapa muntah dengan sengaja maka hendaklah ia mengqadha (puasanya).” &lt;/em&gt;(HR. Turmudzi No 720, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Muntah yang membatalkan puasa adalah muntah yang dilakukan dengan sengaja berdasarkan hadits diatas. (Lihat Minhajul Muslim, Syeikh Al Jazairi) Jika ia muntah dengan tidak sengaja, maka ia tetap meneruskan puasanya karena puasanya tidak batal lantaran muntah yang tidak sengaja tersebut. Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4847488825239814430?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4847488825239814430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/muntah-ketika-sedang-berpuasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4847488825239814430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4847488825239814430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/muntah-ketika-sedang-berpuasa.html' title='Muntah Ketika Sedang Berpuasa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1574925449398833630</id><published>2009-08-17T15:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jenazah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Perihal Mentalkinkan Mayyit di Kuburan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Larangan mentalqinkan mayit setelah dikuburkan itu terdapat disurat apa dan ayat berapa? (Suwito, Way Abung)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mengenai larangan mentalqinkan mayit setelah dikuburkan tidak terdapat di dalam al Qur'an, dan juga secara tekstual juga tidak kita dapatkan dalam hadits-hadits Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Namun larangan mentalqinkan mayit setelah dikuburkan ini merupakan kesimpulan para ulama yang didasarkan pada amaliyah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam memprosesi jenazah sejak meninggal sampai dikuburkan, dimana tidak didapati bahwa Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; melakukan hal tersebut padahal ini merupakan ibadah dan ibadah tidak boleh kita lakukan kecuali ada tuntunannya dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Maka ketika kita tidak mendapati adanya tuntunan dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; tentang mentalqinkan mayit setelah dikuburkan berarti ini termasuk amalan yang tidak boleh dilakukan. Jika tetap dilakukan maka ini termasuk perbuatan bid'ah yang diada-adakan dalam Dien. Sementara setiap bid'ah adalah sesat sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam sabda beliau :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;َإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; “Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham (kalian). Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang baru (dalam persoalan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”&lt;/em&gt; (HR. Abu Daud No 4607, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(Lihat Fatawa Arkanil Islam, Syeikh Utsaimin : 404)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1574925449398833630?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1574925449398833630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/perihal-mentalkinkan-mayyit-di-kuburan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1574925449398833630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1574925449398833630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/perihal-mentalkinkan-mayyit-di-kuburan.html' title='Perihal Mentalkinkan Mayyit di Kuburan'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6168976956349861983</id><published>2009-08-16T16:27:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Posisi Imam Wanita Dalam Sholat Berjamaah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana posisi imam wanita yang benar dalam sholat berjamaah, karena ada yang mengatakan imam berada didepan dan ada pula yang mengatakan imam sejajar dengan makmumnya? (Iza)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika kaum wanita mengerjakan sholat berjamaah dan imam mereka adalah seorang wanita maka posisi sang imam adalah ditengah-tengah shof yang pertama. Jadi bukan berada didepan seperti jika imamnya seorang laki-laki. (Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazam 3/172 dam Musnad Imam Asy-Syafii 6/82)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini sebagaimana dipraktekkan oleh Ummu Salamah Radliyallahu anha ketika ia menjadi imam sebagaimana dikisahkan oleh Hujairah binti Hushain:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ حُجَيْرَةَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَتْ : أَمَّتْنَا أُمُّ سَلَمَةَ فِي صَلاَةِ الْعَصْرِ قَامَتْ  بَيْنَنَا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Hujairah binti Hushain ia berkata: “Ummu Salamah mengimami kita dalam sholat ashar, beliau berdiri diantara kita.” &lt;/em&gt;(HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf No 5082 (3/140), Ibnu Abi Syaibah II/131 dan Dar Quthni I/404)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan dalam sebuah atsar Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;تَؤُمُّ الْمَرْأَةُ النِّسَاءَ تَقُوْمُ فِي وَسَطِهِنَّ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Seorang wanita (bila) menjadi imam bagi kaum wanita maka ia berdiri ditengah-tengah mereka.”&lt;/em&gt; (HR. Abdurrazaq No 5083)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demikian pula Aisyah Radliyallahu anha apabila mengimami kaum wanita beliau berdiri ditengah-tengah mereka. (Lihat Mushannaf Abdurrazaq 3/140)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan apabila jamaahnya hanya satu orang maka posisi sang imam sejajar dengan makmumnya. Sang makmum berada disebelah kanan imam. Posisi ini sama seperti jika seorang laki-laki berjamaah dengan seorang laki-laki. (lihat Al Kaafi, Ibnu Qudamah 1/434, Syarah Al Mumti’ , Syeikh Utsaimin 4/389, Majmu Fatawa Bin Bazz 12/131).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6168976956349861983?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6168976956349861983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/posisi-imam-wanita-dalam-sholat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6168976956349861983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6168976956349861983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/posisi-imam-wanita-dalam-sholat.html' title='Posisi Imam Wanita Dalam Sholat Berjamaah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6687949018763751790</id><published>2009-08-15T14:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Masbuq Yang Mendapati Satu Rakaat Sholat Jum’at</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Benarkah jika sholat jum’at hanya mendapat satu rokaat yang terakhir kemudian menyempurnakannya dengan ditambah tiga rakaat menjadi dhuhur? (07217507XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika seseorang mendapati satu rakaat bersama imam pada sholat juma’at, maka ia cukup hanya menambah satu rakaat lagi, tidak menambah tiga rakaat, karena orang yang mendapati satu rakaat bersama imam maka ia dikategorikan mendapat sholat bersama imam tersebut, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصَّلَاةِ رَكْعَةً فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu a'laihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; beliau bersabda: “Barangsiapa mendapati satu rakaat dalam sholat (bersama imam) maka ia telah mendapatkan sholat tersebut.” &lt;/em&gt;(HR. Turmudzi No 524, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan dalam riwayat lain juga disebutkan:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْجُمُعَةِ أَوْ غَيْرِهَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Salim dari bapaknya dari nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu a'laihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt; beliau bersabda: "Barangsiapa mendapati satu rakaat dari sholat jum'at atau sholat lainnya maka sungguh telah sempurna sholatnya&lt;/em&gt;." (HR. Nasa’i No 557, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Maksud sempurna disini adalah ia mendapatkan sholat jum'at bersama imam, sehingga tinggal menyempurnakan satu rakaat yang tertinggal dan tidak menambah tiga rakaat menjadi sholat dhuhur.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun jika ia tidak mendapati rukuknya imam pada rakaat yang kedua saat sholat Jum’at atau mendapati imam sedang duduk takhiyat, maka ia harus menyempurnakan dengan menambah empat rakaat lagi. Demikianlah pendapat kebanyakan ulama dari kalangan sahabat dan para imam setelah mereka semisal Sufyan Ats Tsauri, Ibnu Mubarak, Imam Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. (lihat Sunan Tirmidzi N0 524 dan Minhajul Muslim : 195 serta Fatawa Arkanil Islam, Syeikh Utsaimin : 391-392)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6687949018763751790?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6687949018763751790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/masbuq-yang-mendapati-satu-rakaat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6687949018763751790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6687949018763751790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/masbuq-yang-mendapati-satu-rakaat.html' title='Masbuq Yang Mendapati Satu Rakaat Sholat Jum’at'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3676177298890289817</id><published>2009-08-14T16:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Pengertian Bid'ah Dalam Aqidah Dan Bid'ah Dalam Ibadah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah yang disebut dengan bid'ah dalam aqidah dan bid'ah amaliah (dalam ibadah)?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya sebelumnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sedangkan secara istilah bid'ah adalah segala tata cara yang baru dalam beribadah kepada Allah Ta'ala yang menyimpang dari yang dituntunkan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bid'ah dalam urusan Dien dibagi menjadi dua yaitu bid'ah dalam aqidah dan bid'ah dalam amaliyah atau ibadah. (Lihat Kitabut Tauhid, Syeikh Shalih Fauzan : 81)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bid'ah dalam aqidah artinya adalah keyakinan-keyakinan yang menyimpang yang berbeda dengan keyakinan yang di yakini oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dan para sahabatnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bid'ah dalam aqidah yang paling berbahaya adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;kesyirikan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memang, nampaknya secara langsung kita tidak mendapatkan ada seorang muslim yang nyata-nyata menyembah berhala, sujud kepada patung, atau menyembah pohon dan batu besar yang dianggap keramat. Namun ada beberapa fenomena yang secara sekilas tampaknya tidak menyimpang, akan tetapi pada hakekatnya hal itu hukumnya sama seperti menyembah patung, dalam arti termasuk perbuatan syirik, seperti mengakui adanya kekuatan lain selain Allah Ta'ala , mengganti bukum Allah Ta'ala dengan hukum buatan manusia, memasang sesaji, jimat dan mempercayai seseorang yang mengaku memiliki ilmu ghaib serta mengkultuskan para hamba­-hamba Allah yang shalih. Semua ini mengakibatkan rusaknya tauhid dan aqidah kita lantaran syubhat-syubhat tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sisi lain yang termasuk dalam bid'ah dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti &lt;em&gt;Mu'tazilah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah &lt;/em&gt;dan aliran-aliran menyimpang lainnya. Masing-masing aliran keagamaan ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat. Dan untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil-dalil dari Al-Qur'an As-sunnah dan mencocokkannya dengan pemikiran dan    hawa nafsu mereka, yang sesuai dengan hawa nafsu mereka mereka ambil, sementara yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Inilah diantara bid'ah-bid'ah yang berbahaya dibidang aqidah, dan tidak diragukan lagi bahwa &lt;em&gt;orang-orang yang mengikuti aliran­aliran tersebut berarti mereka telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar, ajaran yang dipahami dan diamalkan oleh Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;; para sahabat beliau, para tabiin, tabiit-tabiin dan para imam yang terpercaya.&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diantara bid'ah-bid'ah yang dilontarkan dan dipropagandakan oleh firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang menyimpang tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-         &lt;strong&gt;Mu'tazilah&lt;/strong&gt;, mereka terlalu mendewakan akal, tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah, menta'wilkan ayat ayat tentang sifat Allah Ta'ala  dan berpendapat bahwa Al-Qur'an itu makhluk.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-         &lt;strong&gt;Syi'ah&lt;/strong&gt;, mereka mengkafirkan sebagian besar sahabat termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat besar lainnya, meyakini bahwa Al-Qur'an yang dimiliki mereka berbeda dengan Al-Qur'an yang dimiliki oleh orang-orang Sunni pada umumnya, membolehkan nikah mut'ah (kawin kontrak) dan masih banyak lagi ajaran-ajaran mereka yang menyimpang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-         &lt;strong&gt;Khawarij&lt;/strong&gt;, mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan membolehkan keluar dari Imam jamaah kaum muslimin.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-         &lt;strong&gt;Qadariyah&lt;/strong&gt;, mereka menyatakan bahwa manusia adalah pencipta seluruh apa yang diperbuatnya, sedikitpun mereka tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa-apa yang dilakukan manusia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;-  Jabariyah, &lt;/strong&gt;mereka&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;berpendapat bahwa    manusia tidak memiliki kehendak sedikitpun, menurut mereka manusia itu ibarat robot yang gerak-geriknya dikendalikan Allah Ta'ala .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-         &lt;strong&gt;Jahmiyah, &lt;/strong&gt;mereka tidak mengakui keberadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta'ala.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demikianlah beberapa contoh bid'ah dalam bidang Aqidah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan &lt;em&gt;agar kita selamat dari fitnah ini, maka marilah kita berpegang teguh kepada aqidah yang benar, aqidah yang diyakini oleh Rasululllah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; , para sahabat beliau, para tabi'in dan tabiit tabiin serta para imam-imam yang terpercaya. &lt;/em&gt;Dalam hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Katakanlah: Inilah jalan (dien)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." &lt;/em&gt;(Surat Yusuf : 108)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kata-kata: &lt;strong&gt;"Bashirah" &lt;/strong&gt;menurut Imam Thabari dalam tafsirnya berarti &lt;em&gt;"Keyakinan dan ilmu" (Lihat Tafsir Thabari 7/315)&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu berkata:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعَلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَالتَّنَطّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya kalian akan mendapati sejumlah kaum yang mengklaim bahwa mereka menyeru kalian kepada Kitabullah, padahal mereka mencampakkannya dibelakang punggung mereka. Maka hendaklah kalian berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bid'ah, janganlah kalian berlebih-lebihan dan jangan kelewatan dan hendaklah kalian berpegang teguh kepada pendapat orang orang terdahulu (yakni kaum salafus shalih)" &lt;/em&gt;(Syarh Ushuli'I-I'tiqad, Imam AI-Lalika'iy)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun bid'ah yang kedua adalah bid'ah dalam &lt;strong&gt;bidang ibadah.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bid'ah ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan bentuk bid'ah yang pertama, karena bid'ah ini juga akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan.&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;Pengertian bid'ah dalam bidang ibadah adalah &lt;em&gt;melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Orang yang terjebak dalam kubangan fitnah ini atau dengan kata lain orang yang melaksanakan bid'ah amaliah ini berada pada posisi yang sangat berbahaya, karena lantaran  syubhat yang ada padanya, ia tidak merasa bersalah atas apa-apa yang ia lakukan, sehingga tidak mungkin ia bertaubat darinya, padahal apa yang dilakukannya itu bertentangan dengan sunnah Rasululah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;, dan tidak ada tuntunannya dari beliau &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karenanya, fitnah syubhat dalam bentuk ini lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang. Sebagaimana diungkapkan oleh Sufyan Ats-Tsaury Rahimahullah:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Perbuatan bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena orang yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya." &lt;/em&gt;(Syarh ushuli'I-I'tiqad, Al-Lalika'iy 1/132)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka otomatis ia merasa tidak perlu untuk bertaubat darinya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan satu hal yang perlu kita ingat, bahwa &lt;strong&gt;semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bi'dah tersebut, maka Allah Ta'ala&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; akan semakin jauh darinya&lt;/strong&gt;. Hal ini dituturkan oleh        seorang ulama salaf yang bernama &lt;strong&gt;Ayyuub As­-Sikhtiyani&lt;/strong&gt; rahimahullah beliau berkata:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَاازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةْ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Tidaklah seseorang yang melakukan bid'ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid'ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah. "(AI-Amru bi'I-Ittiba' wa'n-Nahyu 'ani'I-Ibtida', Imam As-Suyuthi : 66)&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Walhasil, bid'ah dengan semua macamnya adalah fitnah syubhat yang harus kita hindari agar ibadah kita kepada Allah Ta'ala benar-benar murni dan bersih dari noda-noda yang mengotorinya, karena semua jenis bid’ah dalam dien adalah sesat meskipun menurut pandangan kita adalah baik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hal ini Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;(كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً  (المدخل إلى السنن الكبري للبيهقي رقم 191&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Setiap bid'ah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandangnya hal itu tampaknya baik." &lt;/em&gt;(Al-Madkhal ila's­Sunani'l-Kubra, Imam Baihaqi, No 191)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3676177298890289817?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3676177298890289817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/pengertian-bid-dalam-aqidah-dan-bid.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3676177298890289817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3676177298890289817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/pengertian-bid-dalam-aqidah-dan-bid.html' title='Pengertian Bid&amp;#39;ah Dalam Aqidah Dan Bid&amp;#39;ah Dalam Ibadah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-1467768885265786672</id><published>2009-08-13T14:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.104-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Waktu Membaca Doa Buka Puasa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Doa berbuka puasa dibaca sesudah atau sebelum makan atau minum (081321523XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Doa buka puasa dibaca ketika kita akan berbuka puasa. Adapun doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  kepada kita ketika akan berbuka puasa adalah:&lt;br/&gt;&lt;h3 style="text-align:right;"&gt;ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ&lt;/h3&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Hilanglah rasa dahaga, basah kembali urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah"&lt;/em&gt; (HR. Abu Daud No 3257)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim 2/101)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu 'alam Bish Showab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-1467768885265786672?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/1467768885265786672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/waktu-membaca-doa-buka-puasa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1467768885265786672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/1467768885265786672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/waktu-membaca-doa-buka-puasa.html' title='Waktu Membaca Doa Buka Puasa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8428429333844277643</id><published>2009-08-11T07:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Mengqadha Puasa Orang Yang Telah Meninggal Dunia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ibu saya meninggal dunia empat bulan yang lalu dan punya tanggungan puasa, apakah harus diganti puasanya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, jika ada seseorang yang meninggal dunia sementara ia memiliki tanggungan puasa yang belum sempat dibayarnya, maka ahli warisnya hendaklah berpuasa dengan diniatkan untuk orang yang meninggal dunia tersebut. Dalam hal ini hendaklah anda sebagai anak berpuasa untuk ibu anda yang telah meninggal dunia tersebut sebanyak hari yang ditinggalkannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini berdasarkan riwayat yang shahih dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwasanya Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: "Barangsiapa meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa maka hendaklah ahli warisnya berpuasa untuknya." &lt;/em&gt;(HR. Bukhari No 1851, Muslim No 1147 dan Abu Daud No 2400)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8428429333844277643?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8428429333844277643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/mengqadha-puasa-orang-yang-telah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8428429333844277643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8428429333844277643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/mengqadha-puasa-orang-yang-telah.html' title='Mengqadha Puasa Orang Yang Telah Meninggal Dunia'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4745077078192007164</id><published>2009-08-11T07:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.074-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkawinan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Menceraikan Isteri Ketika Hamil</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada seorang suami yang menceraikan istrinya, dan ia tidak mengetahui ternyata istrinya hamil, sah atau tidak perceraian tersebut? Dan jika ingin rujuk kembali apakah perlu menikah dipenghulu lagi? (081369579XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika seorang suami menceraikan istrinya yang saat itu belum atau tidak diketahui kalau ia sedang hamil, maka asal iddahnya adalah tiga kali suci jika sang istri masih aktif haidnya atau tiga bulan jika ia sudah menopause. Jika dalam masa iddah ini ternyata sang istri diketahui hamil maka iddahnya berubah dari riga kali suci menjadi sampai melahirkan anaknya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.”&lt;/em&gt; (Surat Ath Thalaq : 4)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun perceraiannya tetap sah, tidak terpengaruh dengan hamil atau tidaknya sang istri yang dicerai tersebut. Dan jika ia ingin rujuk dengan istrinya, jika masih dalam masa iddah (yaitu selama belum melahirkan anaknya) maka ia tidak perlu menikah ulang dipenghulu lagi, cukup ia mengatakan kepada istrinya aku akan rujuk denganmu atau dengan melakukan hubungan badan dengan istrinya, maka itu sudah dikategorikan rujuk. Namun apabila ia ingin rujuk dengan istrinya setelah masa iddah sang istri habis (yakni ia telah melahirkan kandungannya), maka ia harus menikah lagi dengannya seperti aqad nikah pada umumnya dengan menghadirkan wali, saksi dan adanya mahar yang harus dibayarkan. Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4745077078192007164?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4745077078192007164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/menceraikan-isteri-ketika-hamil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4745077078192007164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4745077078192007164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/menceraikan-isteri-ketika-hamil.html' title='Menceraikan Isteri Ketika Hamil'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2641952767183175830</id><published>2009-08-10T15:27:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:19.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Pengertian Baiat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa yang dimaksud dengan baiat?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Baiat secara bahasa ialah berjabat tangan atas terjadinya transaksi jual beli, atau berjabat tangan untuk berjanji setia dan taat. Baiat juga mempunyai arti : janji setia dan taat. Dan kalimat "qad tabaa ya'uu 'ala al-amri" seperti ucapanmu (mereka saling berjanji atas sesuatu perkara). (Lihat Lisanul Arab al-Muhith (I/299) dan an-Nihayah (I/174)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sedangkan “Bai'at” Secara Istilah (Terminologi) adalah "Berjanji untuk taat". Seakan-akan orang yang berbaiat memberikan perjanjian kepada amir (pimpinan)nya untuk menerima pandangan tentang masalah dirinya dan urusan-urusan kaum muslimin, tidak akan menentang sedikitpun dan selalu mentaatinya untuk melaksanakan perintah yang dibebankan atasnya baik dalam keadaan suka atau terpaksa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika membaiat seorang amir dan mengikat tali perjanjian, maka manusia meletakkan tangan-tangan mereka pada tangannya (amir) sebagai penguat perjanjian, sehingga menyerupai perbuatan penjual dan pembeli, maka dinamakanlah baiat yaitu isim masdar dari kata baa 'a, dan jadilah baiat secara bahasa dan secara ketetapan syari'at. (Muqaddimah, Ibnu Khaldun, hal : 299)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan tentang baiat, baik yang berisi aturan untuk berbaiat maupun ancaman bagi yang meninggalkannya. (Lihat Hayah as-Shahabah (I/28-239) dan Miftah Kunuz al-Sunnah, hal. 80-86)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tetapi yang disepakati ialah bahwa baiat yang terdapat di dalam hadits-hadits yang mengisahkan tentang baiat tersebut adalah baiat kolektif dan tidak diberikan kecuali kepada pemimpin muslim yang tinggal di bumi dan menegakkan khilafah (pemerintah) Islam sesuai dengan manhaj kenabian yang penuh dengan berkah. (Al-Furqan baina al-Kufri wa al-Iman, hal.63, Abdul Muta'al Muhammad Abdul Wahid).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berikut ini adalah beberapa ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang disyariatkannya baiat tersebut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[a]. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللهَ يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَاعَاهَدَ عَلَيْهُ اللهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang berbait (berjanji setia) kepadamu, mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberi pahala yang besar"&lt;/em&gt; [Al-Fath : 10]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan dalam surat yang lain disebutkan:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)" &lt;/em&gt;[Al-Fath : 18]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[b]. Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Barangsiapa yang berlepas tangan dari ketaatan, maka ia bertemu dengan Allah pada hari Kiamat kelak dalam keadaan tidak punya hujjah (alasan) kepada (Allah). Dan barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka matinya adalaha (seperti) mati jahiliyah."&lt;/em&gt; [Dikeluarkan oleh Muslim No 1851]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam riwayat lain Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Barangsiapa berbaiat (berjanji setia) kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Dan jika datang orang lain untuk menentangnya, maka tebaslah leher orang (lain) tersebut"&lt;/em&gt; [Dikeluarkan oleh Muslim No 1844 dan Abu Dawud dari Abdillah bin Amr bin Ash]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Salah seorang imam yang agung, Ahmad bin Hanbal, imam Ahlu Sunnah wal-Jama'ah ditanya tentang riwayat dari hadits kedua yang tersebut di atas. Di dalamnya terdapat kata imam. Beliau menjawab: "Tahukah kamu, apakah imam itu? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan: "Inilah imam", maka inilah makna imam." (Masa'il al-Imam Ahmad (2/185) riwayat Ibnu Hani')&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kemudian setelah hilangnya kekhalifahan, terjadilah perbedaan yang sangat tajam tentang ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut. Dr. Abdul Muta'al Muhammad Abdul Wahid mengatakan: "Ketiadaan imam adalah menjadi sebab munculnya kelompok-kelompok yang diantaranya ada yang mengklaim bahwa dirinyalah yang berhak dibaiat dan menjadi imam. Kelompok-kelompok ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang mendasar, yaitu :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[1]. Kelompok Pertama Mengatakan : &lt;strong&gt;"Sesungguhnya orang yang meninggalkan baiat adalah kafir".&lt;/strong&gt; Lalu mereka menetapkan kepemimpinan bagi dirinya. Sedang orang yang tidak membaiatnya adalah kafir menurut pandangan mereka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ucapan ini tidak benar, sebab Ali bin Abi Thalib t beliau tidak membaiat Abu Bakar selama kurang lebih setengah tahun dan tidak seorang sahabatpun yang mengatakan bahwa ia telah kafir karena ia telah meninggalkan baiat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[2]. Kelompok Kedua Mengatakan :&lt;strong&gt;"Sesunguhnya baiat adalah wajib, barangsiapa yang meninggalkannya berarti dosa"&lt;/strong&gt;. Dari sinilah mereka menetapkan seorang amir bagi diri-diri mereka, sehingga gugurlah dosa-dosa tadi dari mereka ketika membaiatnya. Padahal yang benar adalah bahwa dosa meninggalkan baiat tidak menjadi gugur dengan cara membaiat amir tersebut. Karena baiat yang wajib dan berdosa orang yang meninggalkannya ialah baiat terhadap imam (pemimpin) muslim yang menetap di bumi dan menegakkan khilafah Islamiyyah dengan syarat-syarat yang benar walaupun dia (khilafah) berlaku zhalim. Dan ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah. (Lihat Kitab Syarh 'Aqidah al-Thahawiyyah, hal : 379)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[3]. Kelompok Ketiga adalah mereka (kaum muslimin) yang tidak membaiat seorangpun. Mereka mengatakan: &lt;strong&gt;"Sesungguhnya meninggalkan baiat adalah berdosa, tetapi baiat adalah hak seorang pemimpin (Khalifah/imam) kaum muslimin di bumi ini kendatipun  kenyataannya tidak ada di masa sekarang".&lt;/strong&gt; (Al-Furqan Baina al-Kufri wa al-Iman, hal.64, Abdul Muta'al Muhammad Abdul Wahid).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Jadi baiat yang syar'i hanyalah ditujukan kepada seorang khalifah atau amirul mukminin, orang yang memimpin kaum muslimin dimuka bumi ini. Ketika kekhilafahan tidak ada maka baiat yang syar'i dimana orang yang meninggalkannya jika mati dikatakan matinya jahiliyah, tidak ada pula.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun tidak mengapa jika ada sekelompok orang yang beriman yang berhimpun dalam suatu wadah dalam rangka tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa serta agar dapat lebih melazimi bentuk-bentuk ketaatan kepada Allah Ta'ala secara lebih maksimal untuk bermu'ahadah (semacam janji setia untuk taat) kepada seseorang yang dipandang dapat membantu mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, dengan catatan dia tidak memberikan wala dan baro'nya kepada wadah tersebut, tetapi wala dan baro'nya kepada Islam. Maknanya ia tidak hanya memberikan kecintaan kepada orang yang berada dalam wadah yang sama dengannya saja, jika tidak maka ia akan menganggapnya sebagai musuh, tetapi kecintaan dan kebenciannya kepada seseorang itu didasarkan pada sejauh mana komitmen  orang tersebut kepada Islam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Juga muahadah memiliki perbedaan dengan baiat yang syar'i, dimana baiat yang syar'i jika ditinggalkan maka pelakunya terancam mati dalam keadaan jahiliyah sementara muahadah tidak demikian, karena muahadah dilakukan hanya dalam rangka tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa serta agar dapat lebih melazimi bentuk-bentuk ketaatan kepada Allah Ta'ala secara lebih maksimal. (Lihat Ats-Tsawabit Wal Mutagharrarot, Dr. Sholah Shawi : 226-242) wallahu A'lam Bish Showab.&lt;br/&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2641952767183175830?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2641952767183175830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/pengertian-baiat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2641952767183175830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2641952767183175830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/pengertian-baiat.html' title='Pengertian Baiat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2957025615488447109</id><published>2009-08-08T16:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.971-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur#039;an'/><title type='text'>Menyela Bacaan Al Qur'an Dengan Melafadzkan Kata "Allah"</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana hukumnya bila ada orang yang membaca ayat suci al-Qur’an kemudian diantara ayat-ayat itu ada yang menjawab dengan “Allah”? (085669993xxx)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak ada tuntunannya bagi orang yang mendengarkan orang lain yang sedang membaca Al Qur'an ia menjawabnya dengan membaca "Allah" atau kalimat-kalimat lainnya. Ini adalah kebiasaan orang-orang shufi dan penganut ajaran tarekat, sebuah amalan yang dilakukan tanpa dasar yang jelas baik dari AL Qur'an maupun dari Hadits Rasulullah Shallahu alaihi wasallam .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yang dituntunkan kepada kita jika kita mendengar seseorang membaca Al Qur'an adalah kita diam dan mendengarkannya dengan seksama agar kita mendapat rahmat dari Allah Ta'ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam AL Qur'an :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik dan diamlah agar kalian mendapat rahmat."&lt;/em&gt; (Surat Al A'raf : 204)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab. (Lihat Kitab Tashihud Du'a, Syaikh Bakar Abu Zaid, edisi Indonesia Koreksi Dzikir dan Doa Sehari-hari, hal 305)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2957025615488447109?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2957025615488447109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/menyela-bacaan-al-qur-dengan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2957025615488447109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2957025615488447109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/menyela-bacaan-al-qur-dengan.html' title='Menyela Bacaan Al Qur&amp;#39;an Dengan Melafadzkan Kata &amp;quot;Allah&amp;quot;'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3888081941830099557</id><published>2009-08-08T16:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.934-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doa'/><title type='text'>Hukum Mengusap Muka Setelah Doa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana hukumnya mengusap muka setelah berdoa sehabis sholat fardhu? (081321401XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo'a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memang kita dapati banyak riwayat yang menjelaskan tentang mengusap muka dengan kedua telapak tangan setelah berdoa, namun riwayat-riwayat tersebut tidak ada satupun yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berikut ini beberapa riwayat tersebut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Hadits Pertama:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Umar bin Khattab Radliyallahu ’anhu ia berkata: "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya."&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Hadits ini lemah. &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu 'Asakir (7/12/2). Dengan sanad Hammaad ibn 'Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn 'Abdullah dari bapaknya dari 'Umar ibn al-Khatthab.&lt;br/&gt;At Tirmidzi berkata : "Hadits ini gharib, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn 'Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya."&lt;br/&gt;Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib At Tahdzib, menjelaskan tentang riwayat hidupnya, menukil penilaian Ibnu Ma'in berkata: 'Dia adalah Syaikh yang baik', Abu Hatim berkata: 'Lemah didalam (meriwayatkan) hadits', Abu Dawud berkata: 'Lemah, dia meriwayatkan hadits-hadits munkar'.&lt;br/&gt;Hal senada dikatakan oleh Hakim, Naqash, Ad Daraquthni dan Ibnu Hibban. (Lihat Irwaul Ghalil 2/178)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Hadits Kedua: &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Said bin Yazid dari bapaknya bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika berdo'a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tersebut."&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Hadits ini Dha'if (lemah). &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492) dari Ibnu Lahi'ah dari Hafsh bin Hisyam bin 'Utbah bin Abi Waqqash dari Sa'ib bin Yazid dari ayahnya.&lt;br/&gt;Ini adalah hadits dha'if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi'ah (Taqribut Tahdzib). (Lihat Irwaul Ghalil 2/179)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Hadits Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ibnu Abbas. Ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika engkau berdo'a kepada Allah, mohonlah dengan kedua telapakmu yang bagian dalam, janganlah engkau memohon dengan punggung kedua telapak tangan. Dan jika engkau sudah selesai (berdo'a) maka usapkan kedua (telapak tangan) tersebut kewajahmu". &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Hadits ini lemah. &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir (3/98/1) &amp;amp; Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka'b dari Ibnu 'Abbas radiallaahu 'anhu (marfu'). (Lihat Irwaul Ghahlil 2/179)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Hadits Keempat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;سَلُوا اللَّهَ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا فَإِذَا فَرَغْتُمْ فَامْسَحُوا بِهَا وُجُوهَكُمْ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Mohonlah kalian kepada Allah dengan kedua telapakmu yang bagian dalam, janganlah kalian memohon kepada-Nya dengan punggung kedua telapak tangan. Dan jika kalian sudah selesai (berdo'a) maka usapkan kedua (telapak tangan) tersebut kewajah kalian".&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; Hadits ini Lemah.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dilemahkan oleh Imam Nawawi (lihat Nazlul Abrar : 36), Al Baghawi dalam Syarah Sunnah 5/203, AL Bushiri dalam Az-Zawaid  (Misbahuz Zujajah) 1/141, Syeikh Albani dalam As-Shahihah 2/146 dan Syaikh Bakar Abu Zaid dalam Mashul Wajhi 9-21.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Inilah beberapa riwayat tentang mengusap wajah setelah berdoa, yang kesemuanya tidak shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, oleh karenanya riwayat-riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam masalah ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Justru kita dapatkan pengingkaran dari para ulama salaf tentang mengusap wajah setelah berdoa ini diantaranya:&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Imam Anas Bin Malik.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Imam AL Maruzi mengatakan dalam Kitabul Witri hal : 236 : "Imam Malik bin Anas Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusapkan kedua telapak tangannya kewajahnya setelah berdoa. Lalu beliau mengingkarinya seraya berkata: "Aku tidak tahu (sunnahnya)."&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Abdullah bin Mubarak.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Imam Baihaqi (2/212) meriwayatkan dari Al Basyani ia berkata: "Aku bertanya kepada Abdullah yakni Ibnu Mubarak tentang orang yang berdoa kemudian mengusap wajahnya, beliau menjawab : "Aku tidak mendapati pijakan (dalil) yang kuat tentang persoalan itu."&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Imam Izz bin Abdussalam.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Imam Al Munawi dalam Faidhul Qadir 1/369 mengatakan: Imam Izz bin Abdussalam berkata: "Tidaklah mengusap wajahnya kecuali orang yang jahil."&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Imam An Nawawi.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Dalam Kitab beliau al Majmu' sebagaimana dinukil oleh Ibnu Allan dalam Syarah Al Adzkar2/311, beliau mengatakan: "Tidak disunnahkan mengusap (wajah) setelah berdoa diluar sholat."&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;br/&gt;	&lt;li&gt;Imam Ibnu Taimiyah.&lt;/li&gt;&lt;br/&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;Di dalam Majmu' Fatawa (22/519) beliau mengatakan: "Banyak hadits-hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa. Sedangkan tentang mengusap wajah dengan kedua tangan beliau (setelah berdoa) tidak banyak riwayat dari beliau kecuali satu atau dua riwayat saja, dan kedua riwayat itupun tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (lantaran periwayatannya yang lemah). Wallahu A'lam."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karenanya pendapat yang paling kuat adalah tidak disyari'atkannya mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, baik itu dalam sholat seperti ketika membaca doa qunut maupun diluar sholat saat seseorang berdoa memohon kepada Allah Ta'ala. (Lihat kitab Juz Fi Mashil Wajhi Bil Yadaini ba'da Raf'ihima liddu'a, Syeikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3888081941830099557?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3888081941830099557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-mengusap-muka-setelah-doa.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3888081941830099557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3888081941830099557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-mengusap-muka-setelah-doa.html' title='Hukum Mengusap Muka Setelah Doa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8160767426111598244</id><published>2009-08-08T15:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='faraidh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Makna Wala dalam Ilmu Waris</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa yang dimaksud dengan wala dalam ilmu waris? (Slamet Pujiono, Metro)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wala dalam ilmu waris adalah orang yang mendapatkan warisan semua harta dari bekas budak yang pernah dimerdekakannya ketika bekas budak tersebut meninggal dunia sementara ia tidak meninggalkan seorangpun dari ahli waris yang akan mewarisi harta peninggalannya.  Karena ahli waris yang memiliki hubungan darah tidak ada maka yang mewarisinya adalah orang yang dahulu memerdekakan budak tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Mewarisi dengan cara wala adalah bagi orang yang memerdekakan (budak)."&lt;/em&gt;(HR. Bukhari No 2377).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wallahu a'lam bish Showab.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8160767426111598244?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8160767426111598244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/makna-wala-dalam-ilmu-waris.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8160767426111598244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8160767426111598244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/makna-wala-dalam-ilmu-waris.html' title='Makna Wala dalam Ilmu Waris'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7294551097047394823</id><published>2009-08-06T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.905-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Hukum Suntik Ketika Sedang Puasa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bolehkah kita disuntik ketika kita sedang berpuasa? (081379098XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hal ini para ulama seperti syeikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syeikh Muhammad bin Shalih AL Utsaimin membedakan hukumnya dengan melihat pada jenis suntikan yang digunakan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika suntikan tersebut berisi antibiotik maka tidak mengapa dan tidak membatalkan puasanya. Namun jika suntikan itu berisi vitamin atau nutrisi maka hal ini membatalkan puasanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun infus maka ini membatalkan karena merupakan pengganti makanan yang dimasukkan lewat selang dan jarum suntik. (Lihat Al Mufaththirat Al Muashirah, (Pembatan Syiam Kekinian) Isa Abdurrahman Al Atiyyi : 95-96 dalam kitab Panduan Shiyam Ramadhan , penyunting naskah Abu Umar Abdillah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7294551097047394823?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7294551097047394823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-suntik-ketika-sedang-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7294551097047394823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7294551097047394823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-suntik-ketika-sedang-puasa.html' title='Hukum Suntik Ketika Sedang Puasa'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5779770505743429602</id><published>2009-08-05T09:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.886-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hukum Khitan Bagi Wanita</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa hukumnya khitan bagi wanita? (085269913XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jumhur Ulama berpendapat bahwa khitan bagi wanita hukumnya disyariatkan, bahkan menurut madzab Syafi’iyah, Hanabilah (Hanbali) dan sebagian Malikiyah hukumnya adalah wajib. (Lihat Al Majmu’, An Nawawi (1/300), Al Inshaf, Al Mardawi (1/123)al Mubdi’, Ibnu Muflih (1/103-104)Al Qawanin Al Fiqhiyyah, Ibnu Jizzi : 167, Fatawa Arkanil Islam, Syeikh Utsamin : 216-217 dan Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta' 5/119,120]).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Telah shahih dari Nabi &lt;em&gt;shallalahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bukan hanya dalam satu hadits, anjuran beliau untuk mengkhitan wanita.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seperti yang diriwayatkan oleh Khalal dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah &lt;em&gt;shallalahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Khitan itu merupakan sunnah bagi para lelaki dan kehormatan (kemuliaan) bagi para wanita"&lt;/em&gt; (HR. Ahmad No 20195 dan Baihaqi 8/325)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Beliau &lt;em&gt;shallalahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; juga memerintahkan wanita yang menyunat untuk tidak berlebihan dalam menyunat.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ummu Athiyyah bahwa ada seorang wanita yang berkhitan di Madinah, lalu Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;shallalahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; berkata kepadanya: (Khitanlah dan) jangan dihabiskan (jangan berlebih-lebihan dalam memotong bagian yang dikhitan) karena yang demikian lebih cemerlang bagi (wajah) wanita dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami"&lt;/em&gt; [HR. Abu Daud (5271), Al-Hakim (3/525), Ibnu Ady dalam Al-Kamil (3/1083) dan Al-Khatib dalam Tarikhnya 12/291 dan dihasankan oleh Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah No 722)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[Lihat Kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, hal 162-163, Pustaka At-Tauhid]&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ وَجَبَ الْغُسْلُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Bila telah bertemu dua khitan (alat kelamin suami dan istri) maka sungguh telah wajib mandi (junub).&lt;/em&gt;" [Shahih, Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (108-109), Asy-Syafi'i (1/38), Ibnu Majah (608), Ahmad (6/161), Abdurrazaq (1/245-246) dan Ibnu Hibban (1173-1174 - Al Ihsan)]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hadits diatas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menisbatkan khitan pada wanita, maka ini merupakan dalil disyariatkannya khitan bagi wanita.&lt;br/&gt;Dan dalam riwayat lain Rasulullah &lt;em&gt;shallalahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Jika (seorang suami) telah duduk di antara empat anggota tubuh (istri)nya dan khitan yang satu telah menyentuh khitan yang lain maka telah wajib mandi (junub)."&lt;/em&gt; [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (1/291 - Fathul Bari), Muslim (249 - Nawawi), Abu Awanah (1/269), Abdurrazaq (939-940), Ibnu Abi Syaibah (1/85) dan Al-Baihaqi (1/164)]&lt;br/&gt;Hadits ini juga mengisyaratkan dua tempat khitan yang ada pada lelaki dan wanita, maka ini menunjukkan bahwa wanita juga dikhitan. Demikian ungkapan Imam Ahmad sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud. [Lihat kitab Ahkamul Maulud fi Sunnatil Muthahharah edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak dalam Sunnah yang Suci, hal 107-110 Pustaka Al-Haura].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5779770505743429602?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5779770505743429602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-khitan-bagi-wanita.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5779770505743429602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5779770505743429602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/hukum-khitan-bagi-wanita.html' title='Hukum Khitan Bagi Wanita'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8929216186702881200</id><published>2009-08-05T09:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.879-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Perihal Puasa Orang Yang Sakit Perut</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Orang yang sakit perut sebaiknya puasa atau tidak?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Pada dasarnya orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan (musafir) diperbolehkan untuk berbuka dan tidak berpuasa, namun ia harus mengqadha puasa yang ia tinggalkan selama ia sakit atau safar tersebut setelah bulan Ramadhan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini berdasarkan keumuman ayat yang terdapat dalam surat Al Baqarah:&lt;br/&gt;&lt;h1 style="text-align:right;"&gt;&lt;/h1&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." &lt;/em&gt;(Surat Al Baqarah : 184)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun tidak berarti setiap orang yang sakit boleh leluasa untuk tidak berpuasa, jika penyakitnya ringan seperti pusing-pusing, sariawan, panas dalam, dan semisalnya maka hendaknya ia tetap berpuasa dan tidak berbuka. Atau penyakit yang dideritanya tidak berpengaruh terhadap puasanya seperti gatal-gatal, keseleo, luka-luka dan semisalnya ini juga tidak membolehkan seseorang untuk berbuka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun sakit perut, jika dengan berpuasa akan semakin menambah parah sakitnya maka hendaklah ia berbuka dan mengganti puasanya dihari yang lain berdasarkan keumuman ayat di atas, namun jika tidak maka hendaklah ia tetap berpuasa. Nah dalam hal ini hendaknya ia berkonsultasi kepada dokter yang lebih mengetahui tentang penyakitnya dan mohon pertimbangan darinya apakah ia tetap diperbolehkan berpuasa atau harus berbuka. Wallahu a'lam bish showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8929216186702881200?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8929216186702881200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/perihal-puasa-orang-yang-sakit-perut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8929216186702881200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8929216186702881200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/perihal-puasa-orang-yang-sakit-perut.html' title='Perihal Puasa Orang Yang Sakit Perut'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7332740146452889025</id><published>2009-08-04T12:12:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Tentang Sholat Nisfu Sya'ban</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah shahih riwayat yang menyatakan tentang keutamaan shalat nisfu sya'ban?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada beberapa riwayat yang   menjelaskan tentang keutamaan sholat nisfu Sya'ban, diantaranya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Aisyah ia berkata: "Suatu malam aku kehilangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu akupun keluar, ternyata beliau ada di Baqi (areal kuburan di kota Madinah). Beliau &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt; berkata: "Apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan berbuat aniaya terhadapmu?" Aku (Aisyah ) berkata: "Aku kira engkau sedang mendatangi sebagian dari istri-istrimu. " Lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah azza wajalla turun kelangit dunia pada malam nisfu sya'ban (pertengahan bulan sya'ban) dan Dia akan memberi ampunan melebihi banyaknya jumlah    bilangan bulu domba anjing." &lt;/em&gt;(HR. Tirmidzi No 743. Hadits ini dlaif, lihat Dhaif Sunan Tirmidzi No 119)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ali bin Abi Thalib ia berkata: &lt;/em&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bersabda: &lt;/em&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Jika malam nisfu Sya'ban datang, maka sholatlah dimalam harinya dan puasalah pada siang harinya karena sesungguhnya Allah pada saat itu bersamaan dengan tenggelamnya matahari turun ke langit dunia seraya berkata: &lt;/em&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku sehingga Aku ampuni, adakah orang yang meminta rizki kepada-Ku sehingga Aku beri kepadanya rizki, adakah orang yang sakit sehingga Aku sembuhkan, adakah orang yang begini dan begini hingga terbit fajar. " &lt;/em&gt;(H R. Ibnu Majah No 1388)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hadits ini sanadnya maudhu (palsu). Didalamnya ada perawi yang bernama Ibnu Abi Sabrah ia dituduh pemalsu hadits sebagaimana diungkapkan oleh imam Ibnu Hajar AI Asqalani dalam Taqrib. (Lihat Silsilah Ahadits Dhaifah No 2132)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; bahwasanya beliau bersabda: "Wahai Ali, barangsiapa sholat seratus rakaat pada malam nisfu (sya'ban) pada setiap rakaatnya membaca surat Al Fatihah dan Qulhuwallahu ahad sepuluh kali, wahai Ali, tidaklah seorang hamba melakukan sholat-sholat ini melainkan Allah akan memenuhi semua keinginan yang ia minta pada malam itu. Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; ditanya: "Hai Rasulullah, Sekalipun Allah telah mencapnya celaka apakah Dia akan merubahnya menjadi bahagia?" Beliau &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; menjawab: "Demi yang jiwaku Ada pada Yang Haq, hai Ali, sesungguhnya telah tertulis di lauhil mahfudz bahwa Fulan bin Fulan diciptakan dengan taqdir binasa lalu Allah menghapus taqdir tersebut dan menjadikannya bahagia. "&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Riwayat ini palsu, terdapat dalam kitab: Al Maudhuat (Kumpulan hadits-hadits palsu) yang disusun oleh Imam Ibnul Jauzi (2/50-51). Juga terdapat dalam kitab Tanzihus Syariah 2/92-93 dan Al Fawaidul Majmuah 50-51.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam Ibnul Jauzi berkata: Tidak diragukan lagi bahwa hadits ini palsu, karena mayoritas perawinya majhul (tidak dikenal) sementara yang lainnya sangat lemah sekali. (AI Maudhuat 2/51)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Abu Hurairah dari Nabi &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; : "Barangsiapa sholat dua belas rakaat pada malam nisfu sya'ban pada setiap rakaat membaca qul huwallahu ahad tiga puluh kali, tidaklah ia keluar sehingga ditampakkan padanya tempat duduknya di surga dan ia dapat memberi syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya yang semuanya sudah dicap masuk neraka. "&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Riwayat ini juga palsu, terdapat dalam kitab: Al Maudhuat (Kumpulan hadits-hadits palsu) yang disusun oleh Imam Ibnul Jauzi (2/51-52). Juga terdapat dalam kitab Tanzihus Syariah 2/93 dan Al Laaliul Mashnu'ah 2/59.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam Ibnul Jauzi berkata: "Hadits ini palsu. Diantara perawinya terdapat Baqiyyah dan Laits. Mereka berdua lemah, sementara sebelum keduanya banyak perawi yang majhul (tidak dikenal." (Kitabul Maudhuat (2/52).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Walhasil, semua hadits tentang keutamaan shalat atau puasa nisfu sya'ban tidak ada yang shahih dari Rasulullah r , semuanya lemah, bahkan mayoritasnya palsu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam al Mubarokfuri, pensyarah kitab Sunan Tirmidzi berkata: "Ali bin Ibrahim berkata: "Diantara perkara baru yang dilakukan di malam nisfu Sya'ban adalah mengerjakan sholat alfiyah, sholat seratus rakaat, pada setiap rakaat membaca surat al Ikhlas sebanyak sepuluh kali secara berjamaah. (Disebut sholat alfiyah {sholat seribu} karena orang yang melakukannya membaca surat Al Ikhlash sebanyak seribu kali). Mereka menaruh perhatian terhadap amalan ini  melebihi perhatian mereka terhadap sholat Jum'at dan sholat Ied. Tentang hal ini tidak ada satupun hadits (yang shahih), yang ada hadits dhaif atau palsu. Maka janganlah engkau tertipu oleh penyusun kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin. Banyak orang awam yang terfitnah besar dengan sholat ini." (Tuhfatul Ahwadzi syarh Sunan Tirmidzi 3/383)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal senada    dikatakan oleh Imam Fatani dalam kitab As-Sunan Wal Mubtada'at : 144-145 dan syeikh Ali Mahfudz dalam kitab AI Ibda' fi Mudlaril Ibtida'. (Lihat Al Masaa'il 1/246-248)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut AL Mubarokfuri sholat ini pertama kali dilakukan di Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Namun sebenarnya sholat ini sudah ada pada abad ketiga hijriyah. Ini dapat kita ketahui bahwa diantara perawi hadits yang meriwayatkan sholat ini adalah Ibnu Majah beliau hidup dari tahun 207-275 H.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7332740146452889025?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7332740146452889025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/tentang-sholat-nisfu-sya.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7332740146452889025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7332740146452889025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/tentang-sholat-nisfu-sya.html' title='Tentang Sholat Nisfu Sya&amp;#39;ban'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7987861495934137665</id><published>2009-08-04T12:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.791-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Bermakmum Dengan Orang Yang Memiliki Jimat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimanakah hukumnya apabila kita bermakmum dengan orang yang mempunyai jimat?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalau kita telah mengetahui bahwa imam itu berbuat kesyirikan, seperti memiliki jimat atau yang lainnya, maka kita tidak boleh bermakmun dengan orang tersebut dan hendaknya kita mencari imam yang lain atau pindah ke masjid atau musholla yang lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan hendaknya persoalan ini kita sampaikan kepada pengurus masjid agar dimusyawarahkan untuk mengangkat imam yang sesuai dengan ketentuan syar'i. Wallahu Ta'ala a'lam bish showab. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 7/362-363).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7987861495934137665?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7987861495934137665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/bermakmum-dengan-orang-yang-memiliki.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7987861495934137665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7987861495934137665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/bermakmum-dengan-orang-yang-memiliki.html' title='Bermakmum Dengan Orang Yang Memiliki Jimat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-849135000902043021</id><published>2009-08-03T16:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa bagi Wanita yang Sedang Hamil</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana baiknya bagi ibu yang sedang hamil apakah ia boleh tidak berpuasa? Kalau tidak puasa maka bagaimana cara menggantinya? (Yuni, Kemiling)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalau menurut pertimbangan dokter yang jujur dengan berpuasa akan melemahkan fisiknya dan membahayakan janin yang dikandungnya, maka ibu tersebut harus berbuka dan tidak boleh berpuasa, ia termasuk orang-orang yang dikategorikan merasa berat untuk berpuasa, dan untuk itu cukuplah baginya membayar fidyah, berupa memberi makan kepada fakir miskin setiap hari sebanyak satu atau dua mudd bahan makanan pokok atau kalau ditimbang berkisar antara 650-1250 gram beras.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta'ala :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (puasa) untuk membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin." &lt;/em&gt;(Surat Al-Baqarah : 184)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wanita hamil dan menyusui tidak wajib berpuasa. Berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik Al Ka'by bahwasanya beliau berkata:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلَاةِ وَعَنِ الْحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya     Allah memberikan keringanan bagi musafir untuk tidak berpuasa dan mengqasar sholatnya dan&lt;/em&gt; &lt;em&gt;bagi wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa." &lt;/em&gt;(Hasan, HR. Turmudzi No 715)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Bahkan sebagian mereka telah menukil adanya ijma' bahwa orang yang hamil dan menyusui tidak boleh berpuasa, jika ditakutkan terjadi bahaya pada janinnya. Imam Tirmidzi berkata: "Mayoritas Ahlul Ilmi mengamalkan hadits ini."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan tidak ada kewajiban bagi wanita hamil dan menyusui untuk mengganti puasa yang ditinggalkan sekaligus membayar fidyah apabila tidak berpuasa. Tetapi cukup baginya sekedar membayar fidyah sebanyak satu mud makanan pokok kepada fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkan. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya wanita hamil dan menyusui ia berbuka dan tidak ada kewajiban mengqadla"' &lt;/em&gt;(Hasan, HR. Daruqutni)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam riwayat yang lain beliau berkata:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"la (wanita hamil dan menyusui) boleh berbuka dan memberi makan satu mud gandum kepada seorang miskin sebagai ganti puasa yang telah dia tinggalkan" &lt;/em&gt;(Shahih)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-849135000902043021?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/849135000902043021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/puasa-bagi-wanita-yang-sedang-hamil.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/849135000902043021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/849135000902043021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/08/puasa-bagi-wanita-yang-sedang-hamil.html' title='Puasa bagi Wanita yang Sedang Hamil'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3271662686323750356</id><published>2009-07-11T16:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.767-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Hukum Puasa Setiap Hari Berturut-turut</title><content type='html'>&lt;p style="text-align:left;"&gt;&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Apa hukum puasa setiap hari berturut-turut? (Ramli)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Puasa yang dilakukan oleh seseorang setiap hari berturut-turut disebut puasa dahr, puasa seperti ini hukumnya makruh. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/144).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi Wasallam &lt;/em&gt;berikut ini :&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;&lt;em&gt;"Tidaklah dikatakan berpuasa orang yang berpuasa sepanjang masa (terus-menerus)."&lt;/em&gt; (HR. Bukhari No 1977 dan Muslim No 186)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam riwayat yang bersumber dari Abu Qatadah disebutkan:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الدَّهْرَ كُلَّهُ قَالَ لاَ صَامَ وَلاَ أَفْطَرَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;&lt;em&gt;"Umar Berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang masa? Beliau menjawab: "Ia tidak puasa dan tidak pula berbuka."&lt;/em&gt; (HR. Muslim No 2803).&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;Jika seseorang ingin memperbanyak puasa maka puasa yang paling baik adalah puasa Daud, sehari berpuasa dan sehari berbuka. Tidak ada puasa sunnah yang lebih baik dan utama dari puasa Daud. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Muslim berikut, dari Umar bin Khattab radhiyallahu  'anhu :&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;قَالَ كَيْفَ مَنْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا قَالَ ذَاكَ صَوْمُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;&lt;em&gt;"(Umar) berkata: Bagaimana dengan orang yang sehari berpuasa dan sehari berbuka?" Beliau (Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam) menjawab: "Itu adalah puasa Daud alaihissalam.&lt;/em&gt;" (HR. Muslim No 2803).&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا ».&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;&lt;em&gt;"Dari Abdullah bin Amru &lt;/em&gt;radhiyallahu  'anhu&lt;em&gt; ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan sholat yang paling disukai Allah adalah sholatnya Daud &lt;/em&gt;&lt;em&gt;alaihissalam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;. Beliau tidur separuh malam dan bangun sepertiga malam dan tidur seperenam malam. Beliau sehari berpuasa dan sehari berbuka."&lt;/em&gt; (HR. Bukhari No 3420 dan Muslim No 2796)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3271662686323750356?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3271662686323750356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/07/hukum-puasa-setiap-hari-berturut-turut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3271662686323750356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3271662686323750356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/07/hukum-puasa-setiap-hari-berturut-turut.html' title='Hukum Puasa Setiap Hari Berturut-turut'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-196634988746624656</id><published>2009-06-22T02:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T03:46:07.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Kami'/><title type='text'>Tentang Kami</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dialog Imani adalah salah satu rangkaian acara kuliah subuh yang disiarkan oleh RRI Bandar Lampung setiap pagi ba’da subuh, pukul 05.15 sampai 06.00 WIB, disiarkan langsung (on air) pada setiap hari Selasa, Kamis dan Ahad. Diasuh oleh para ustadz, yaitu Ust. Drs. Madrus MGS, Ust. Ir. Muhammad Nurdin, M.Si, dan Ust. Agus Supriadi, Lc. Adapun pada hari Rabu dan Sabtu diisi acara ceramah monolog (kuliah shubuh) yang diasuh oleh Ust. Drs. Madrus MGS.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-196634988746624656?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/196634988746624656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/tentang-kami.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/196634988746624656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/196634988746624656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/10/tentang-kami.html' title='Tentang Kami'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-6998973478059432980</id><published>2009-04-02T19:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.648-07:00</updated><title type='text'>Hukum Membaca Surat Yasiin</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana hukum membaca surat Yaasin? (Abdullah, Metro)&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Surat Yaasiin adalah salah satu diantara 114 surat yang ada dalam Al Qur’an. Membacanya adalah ibadah dan berpahala seperti membaca surat-surat lainnya dalam Al Qur’an. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Akan tetapi kita tidak boleh mengkhususkan untuk membacanya pada malam-malam tertentu, dengan keyakinan-keyakinan tertentu. Karena tidak ada satu hadits shahihpun yang menjelaskan tentang keutamaan membaca surat Yaasiin pada malam tertentu. Kalaupun ada riwayat tentang hal itu, riwayat tersebut tidak shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh meyakini dan mengamalkannya. Wallahu Ta’ala A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-6998973478059432980?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/6998973478059432980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/04/hukum-membaca-surat-yasiin.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6998973478059432980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/6998973478059432980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/04/hukum-membaca-surat-yasiin.html' title='Hukum Membaca Surat Yasiin'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-291005626471111001</id><published>2009-02-17T04:06:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa Sunnah Dibulan Muharram</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;	Puasa dibulan Muharram bagusnya di hari yang keberapa? (Nashir, Bandar Lampung)&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada bulan Muharam ini umat islam sangat dianjurkan melaksanakan Ibadah yang sangat disukai oleh Allah ta'ala , yaitu Puasa pada hari As Syura. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ مَارَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَىالله عَلَيْهِ وَسَلَمَ صَامَ يَوْمًا يَتَحَرَّى فَضْلَهُ عَلَى اْلأَيَّامِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَعْنِى يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;“Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, bahwasanya beliau ditanya tentang puasa hari As Syura, lalu dia berkata : Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari yang beliau ingin betul-betul mengharap fadhilah hari itu atas hari-hari lainnya kecuali puasa hari As Syura.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Artinya puasa tersebut sangat diharapkan keutamaannya. Bahkan para Nabi yang hidup sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam juga melakukan puasa tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ كَانَتْ تَصُوْمُهُ اْلأَنْبِيَاءُ فَصُوْمُوْهُ أَنْتُم&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Hari As Syura adalah hari dimana para Nabi berpuasa, maka berpuasalah kalian. (HR Baqi' bin Mahlad)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda yang artinya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Nabi Musa 'alaihi salam bepuasalah pada hari 10 Asysyura, karena pada hari itu Allah telah menenggelamkan fir’aun”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demikian juga nabi Nuh ‘Alaihissallam berpuasa pada hari tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada hari Asy Syura orang-orang Yahudi juga melakukan puasa. Imam Bukhori dan Muslim menyebutkan:  &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Ibnu Abbas ia berkata”ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di madinah, beliau mendapatkan orang-orang yahudi berpuasa pada hari asy syura. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambertanya kepada mereka:”hari apakah ini, mengapa kalian berpuasa?” mereka menjawab :”ini adalah hari agung, hari dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, dan kamipun berpuasa juga.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallamberkata: ”Kami(orang-orang islam)lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi daripada kalian.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan (para sahabat)untuk berpuasa.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Fadhilah Puasa Asy Syura&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Abu Qotadah  bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hari Asy Syura. Lalu beliau bersabda:”Saya memohon kepada Allah agar berpuasa Asy Syura dapat menghapus dosa-dosa selama satu tahun yang lalu.”  (HR Tirmidzi No 752 dan dishahihkan oleh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam hadits lain masih dalam shahih Muslim, dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada tanggal 10 dan beliau memerintahkan para sahabatnya. Para sahabat berkata: ”Hari ini orang-orang yahudi berpuasa juga” maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada hari yang kesembilan”  (HR Muslim)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Thowus Rahimahullah berkata: “Tahun berikutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah wafat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karenanya pada bulan Muharram ini, puasa Asy Syra dikerjakan bukan saja pada tanggal 10, tetapi juga pada tanggal 9. Jumhur ulama menyimpulkan: sunnah puasa Asy Syura selama 2 hari (tanggal 9-10 Muharram). Hal ini telah diamalkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhu, Abu Ishaq Rahimahullah, dan Imam Ahmad Rahimahullah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun ada juga yang mengatakan sebaiknya berpuasa selama tiga hari, yaitu tranggal 9,10 dan 11 Muharram. Hal ini sesuai perkataan Ibnu Sirin Rahimahullah, beliau berpuasa selama tiga hari, karena untuk kehati-hatian, sebab kita tidak mengerti secara pasti masuknya tanggal 1 Muharram. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah memakruhkan berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram saja. Dasarnya perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits Muslim:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Kalau aku masih hidup tahun depan aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan” (HR Muslim No 1134)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu mengatakan: “Hari Asy Syura adalah pada tanggal 9 Muharram. Tetapi jumhur  tetap berpendapat pada tanggal 10 Muharram. Dan yang paling baik adalah selama tiga hari. Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَ بَعْدَهُ يَوْمًا &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Berpuasalah pada hari asy syura dan selisilah orang-orang yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya”(HR Ahmad No 2047, sanadnya hasan) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini menguatkan pendapat Ibnu Sirin.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Orang-orang yahudi di Khaibar juga menjadikan 10 Muharram sebagai hari raya mereka. Pada hari itu orang-orang yahudi Khaibar memakaikan perhiasan pada isteri dan anak-anak mereka untuk merayakan hari besar tersebut dan orang-orang jahiliyahpun mengikuti mereka. Pada hari itu orang-orang musyrik menutupi Ka’bah dengan kain. Maka disunnahkan berpuasa pada hari itu, untuk menyelisihi mereka, sebab hari itu hari rayanya mereka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصُومُوهُ أَنْتُمْ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Abu Musa ia berkata: “Adalah orang-orang yahudi mengagung-agungkan hari As Syura dan menjadikannya sebagai hari raya.” Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “(kalau begitu) puasalah kalian (pada hari itu),” (HR. Bukhari)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;	Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’I dan Ibnu Hibban Rahimahullah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad melebihi puasa pada hari lainnya. Dua hari tersebut merupakan hari raya orang musyrik, hal tersebut dimaksudkan untuk menyelisihi mereka.&lt;br/&gt;Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-291005626471111001?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/291005626471111001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/02/puasa-sunnah-dibulan-muharram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/291005626471111001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/291005626471111001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2009/02/puasa-sunnah-dibulan-muharram.html' title='Puasa Sunnah Dibulan Muharram'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5963041986844651492</id><published>2008-12-03T08:59:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.603-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkawinan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menikah di bulan syawwal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Adakah Larangan Nikah Di Bulan Syawwal?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Ada seorang ustadz yang melarang menikah dibulan Syawwal, karena kedua anak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menikah dibulan Syawwal meninggal dunia, apakah pendapat beliau ini benar?&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Menikah atau menikahkan seseorang pada bulan Syawal adalah perbuatan yang terpuji dan disunnahkan dalam Islam. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencontohkannya dalam kehidupan beliau dimana beliau shallallahu 'alaihi wasallam menikahi beberapa istri beliau di bulan Syawal. (Lihat Minhajul Muslim, Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi, hal : 340)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu Imam Muslim dalam Shahihnya menyebutkan sebuah bab yang bunyinya:&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;بَاب اسْتِحْبَابِ التَّزَوُّجِ وَالتَّزْوِيجِ فِي شَوَّالٍ وَاسْتِحْبَابِ الدُّخُولِ فِيهِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Bab Disunnahkan Menikah dan Menikahkan (Seseorang) di Bulan Syawwal serta Disunnahkan Menggauli (istrinya) Di Bulan Tersebut.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Dan setelah menyebutkan bab tersebut beliau membawakan riwayat berikut:&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Dari Aisyah ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan mengumpuliku (juga) pada bulan Syawal, dan tidak ada istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang kecintaan beliau kepada mereka melebihi kecintaan beliau kepadaku.” (HR. Muslim No 1423, Turmudzi No 1093, Nasai No 3236 dan Ibnu Majah No 1990)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Riwayat lain yang menginformasikan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahi istri beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada bulan Syawal adalah:&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ أُمَّ سَلَمَةَ فِي شَوَّالٍ وَجَمَعَهَا إِلَيْهِ فِي شَوَّالٍ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;“Dari Abdul Malik bin Harits bin Hisyam dari bapaknya bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menikahi Ummu Salamah di bulan Syawal dan mengumpulinya juga di bulan Syawal.” (HR. Ibnu Majah No 1991)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Riwayat-riwayat di atas jelas menunjukkan bahwa menikah pada bulan Syawal adalah sebuah amalan sunnah yang tidak perlu diragukan lagi keabsahannya.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Jika ada seorang ustadz yang melarang menikah pada bulan Syawal dengan alasan putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menikah pada bulan tersebut meninggal dunia, maka statement atau pernyataan ustadz ini sama sekali tidak benar dan tidak dapat digunakan sebagi hujjah, karena setiap manusia itu pasti akan mengalami kematian baik yang menikah di bulan Syawal atau di bulan lainnya atau bahkan yang belum menikah sekalipun jika sudah tiba ajalnya maka ia akan meninggal dunia. Ini merupakan sesuatu yang sudah menjadi ketetapan Allah ta'ala sebagaimana  difirmankan-Nya dalam Al Qur’an :&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Surat Ali Imran : 185)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;"Tiap-tiap umat itu mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat menundanya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”  (Surat Al A’raf : 34)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;Disamping itu, tidak benarnya pernyataan ustadz tersebut karena bertentangan dengan sunnah fi’liyah (perbuatan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena beliau menikah di bulan Syawal sebagaimana dijelaskan dalam riwayat diatas. Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5963041986844651492?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5963041986844651492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/12/adakah-larangan-nikah-di-bulan-syawwal.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5963041986844651492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5963041986844651492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/12/adakah-larangan-nikah-di-bulan-syawwal.html' title='Adakah Larangan Nikah Di Bulan Syawwal?'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4034261847573199182</id><published>2008-11-20T17:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T08:15:04.592-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat jumat wanita'/><title type='text'>Sholatnya Wanita Pada Hari Jum'at</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari jum’at kaum muslimah cukup mengerjakan sholat jum’at atau sholat dhuhur? (08154183XXX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Shalat Jum'at tidak diwajibkan bagi kaum wanita, akan tetapi jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam shalat Jum'at maka shalatnya sah, namun jika ia melaksanakan shalat seorang diri di rumah maka ia harus melaksanakan shalat Zhuhur sebanyak empat rakaat, shalat Zhuhur itu dilaksanakan setelah masuknya waktu shalat atau setelah matahari condong ke barat, dan tidak boleh bagi seorang wanita untuk melaksanakan shalat Jum'at seorang diri.[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4148]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4034261847573199182?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4034261847573199182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/sholatnya-wanita-pada-hari-jum.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4034261847573199182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4034261847573199182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/sholatnya-wanita-pada-hari-jum.html' title='Sholatnya Wanita Pada Hari Jum&amp;#39;at'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3482062846674276022</id><published>2008-11-20T16:44:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Takbirotul ihram'/><title type='text'>Membaca Surat An-Naas Sebelum Takbiratul Ihram</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah ada dalilnya sebelum takbiratul ihram dalam sholat kita dianjurkan untuk membaca surat An-Naas terlebih dahulu? (Ismail A. Syukur, Lampung Utara)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;	Tidak ada tuntunannya sebelum seseorang melakukan sholat atau sebelum melafadzkan takbiratul ihram ia membaca surat an –Naas, karena tidak ada satupun dalil yang shahih tentang hal ini. Seandainya perbuatan ini benar tentunya terdapat riwayat yang menuntunkan akan hal tersebut. Oleh karenanya perbuatan ini termasuk amalan yang bid’ah. Demikian disampaikan oleh Syeikh Bakar Abu Zaid dalam kitab beliau “Tashih Ad-Du’a” (Edisi Indonesia: Koreksi Dzikir Dan Doa Sehari-hari : 424). Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3482062846674276022?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3482062846674276022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/membaca-surat-naas-sebelum-takbiratul.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3482062846674276022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3482062846674276022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/membaca-surat-naas-sebelum-takbiratul.html' title='Membaca Surat An-Naas Sebelum Takbiratul Ihram'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-7751067309273716092</id><published>2008-11-16T16:19:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jamaah sholat jumat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Jumlah Jamaah Sholat Jum'at</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya :&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah pada sholat jum’at jamaahnya harus mencapai jumlah 40 orang?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak termasuk syarat sahnya jum'at adalah jumlah jamaahnya mencapai 40 orang, namun jikalau jumlah jamaah jum'atnya banyak maka lebih baik, berdasarkan keumuman hadits berikut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dan sholatnya seorang laki-laki bermakmum dengan seorang laki-laki lebih utama daripada ia sholat sendirian. Sholatnya seorang laki-laki bermakmum dengan dua orang laki-laki lebih utama daripada ia sholat bersama seorang laki-laki. Dan semakin banyak jumlah jamaahnya semakin dicintai Allah Azza Wa Jalla.” (HR Abu Daud No 554 dan Nasai No 843, dihasankan oleh Albani).&lt;br/&gt;&lt;!--moreJawaban Selengkapnya...--&gt;&lt;br/&gt;Akan tetapi seandainya hanya ada tiga orang jamaah yang berkumpul disuatu masjid maka sudah sah bagi mereka untuk menegakkan sholat jum'at ditempat tersebut. Hal ini berdasarkan keumuman riwayat berikut ini:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Dari Abu Said Al Khudri ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda: "Jika mereka terdiri dari tiga orang maka hendaklah salah seorang dari mereka ada yang menjadi imam. Dan orang yang paling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur'annya." (HR. Muslim No 1077)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Inilah pendapat yang terkuat (yang rajih) dari para ulama, jadi tidak harus bilangan jamaahnya berjumlah 40 orang. Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Ikhtiyarat Al  Ilmiyyah : 119-120, juga merupakan salah satu pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal (lihat Al Ihkam Syarah Ushulul Ahkam, Abdurrahman bin Al Qasim 1/442-444), dan demikian pula pendapat Syeikh Abdul Aziz bi Bazz (lihat Sholatul Mukmin, Syeikh Saad Al Qahtani 2/802).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-7751067309273716092?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/7751067309273716092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/jumlah-jamaah-sholat-jum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7751067309273716092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/7751067309273716092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/jumlah-jamaah-sholat-jum.html' title='Jumlah Jamaah Sholat Jum&amp;#39;at'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4619116303329728965</id><published>2008-11-16T16:09:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bersin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Mengucap "Hamdalah" Ketika Bersin Dalam Sholat</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa boleh mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin dalam sholat?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam sholat, seseorang tidak boleh mengucapkan hamdalah. Seandainya ada orang yang mengucapkannya, maka yang mendengarkannya tidak perlu menjawabnya, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingkari Muawiyah bin Hakam radhiallahu 'anhu ketika ia mengucapkan "Yarhamakallah" ketika ia mendengar  ada orang yang bersin ketika sedang sholat, sebagaimana dituturkan dalam riwayat berikut:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ مُعَاوِيَةَ ابْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--moreJawaban Selengkapnya...--&gt;&lt;br/&gt;“Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami ia berkata: “Ketika aku sedang sholat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  tiba-tiba ada seorang laki-laki yang bersin. Lalu akupun mengucapkan “Yarhamukallah.” Maka orang-orangpun mengarahkan pandangan mereka kearahku. Akupun berkata: “Celakalah aku, apa yang membuat kalian memandangiku?” Merekapun lalu menepukkan tangan mereka ke paha-paha mereka. Tatkala  aku melihat mereka mengisyaratkan padaku agar aku diam akupun dim. Dan ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  selesai sholat –sungguh aku tidak mendapati seorang pendidik sebelum dan sesudah beliau yang lebih baik cara mendidiknya daripada beliau shallallahu 'alaihi wasallam - Beliau tidak langsung melarangku, tidak bermuka masam kepadaku, tidak memukulku, da tidak mecelaku, tapi beliau berkata: “Sesungguhnya sholat ini tidak boleh disisipi sesuatupun dari perkataan manusia, sholat ini berisi tasbih, takbir dan qiraatul Qur’an.” (HR. Muslim No 537, Nasai No 1218, Ahmad No 23250 dan Darimi No 1502)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4619116303329728965?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4619116303329728965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/mengucap-ketika-bersin-dalam-sholat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4619116303329728965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4619116303329728965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/mengucap-ketika-bersin-dalam-sholat.html' title='Mengucap &amp;quot;Hamdalah&amp;quot; Ketika Bersin Dalam Sholat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8603513351764255739</id><published>2008-11-03T17:14:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.510-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat wanita'/><title type='text'>Sebaik-baik Sholat Wanita</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mana yang lebih banyak pahalanya bagi wanita, sholat sendirian dirumah atau berjamaah dimasjid?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sholat kaum wanita dirumahnya meskipun sendirian itu lebih baik daripada sholat mereka dimasjid meskipun berjamaah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat berikut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--moreJawaban Selengkapnya...--&gt;&lt;br/&gt;“Dari Ummu Humaid istri Abu Humaid as-Sa’idi ia datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  seraya berkata: “Hai Rasulullah, aku senang sholat bersamamu.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda: “Aku tahu bahwa engkau senang sholat bersamaku tetapi shalatmu di ruang khusus dirumahmu lebih utama daripada shalatmu di kamarmu. Dan shalatmu di kamarmu lebih utama daripada shalatmu diruang terbuka di rumahmu.dan shalatmu di rumahmu lebih utama daripada shalatmu di masjid kaummu dan shalatmu di masjid kaummu lebih utama daripada shalatmu di masiidku.” (HR. Ahmad No 26550, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya; dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin AI-AIbani di dalam Jilbab Mar’ah Muslimah, hal. I55)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mengomentari hadits di atas, Syaikh Albani hafidhahullah berkata: Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi: “Shalat di masjidku lebih utama seribu shalat dibandingkan dengan shalat di masjid-masjid yang lainnya.” Hadits ini tidak menafikan bahwa shalat-shalat mereka (para wanita) di rumahnya lebih utama bagi mereka, sebagaimana tidak dinafikannya pula keutamaan shalat sunnah di rumah bagi laki-laki dibandingkan dengan jika dilakukan di masjid. Akan tetapi jika dia (laki-laki) shalat di salah satu masjid yang tiga (Mekah, Madinah dan Aqsha), maka mereka mendapat keutamaan-keutamaan dan kekhususan-kekhususan· Demikian pula halnya bagi wanita.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat dikamarnya. Dan shalatnya diruang khusus dalam rumahnya lebih utama daripada shalatnya di rumahnya". (HR. Muslim No 570 dan Abu Dawud, hadits no. 566 dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Beliau shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebaik-baik masjid bagi wanila adalah di dalam rumah-rumah mereka. (HR. Ahmad (6/301), Ibnu Khuzaimah (3/92) dan Baihaqi)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dari riwayat-riwayat di atas, para ulama mengambil istimbath (kesimpulan) hukum bahwa shalat wanita di dalam rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid. (Lihat Syeikh Mustafa Al-Adawi di dalam kitab Ahkamu An-Nisa hal. 299, Imam Nawawi Syarh Muslim 2/73, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Imam Syaukani dalam Nailul Authar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Majmu’atu Durusil Fatawa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8603513351764255739?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8603513351764255739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/sebaik-baik-sholat-wanita.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8603513351764255739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8603513351764255739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/sebaik-baik-sholat-wanita.html' title='Sebaik-baik Sholat Wanita'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8500303037032623825</id><published>2008-11-03T17:05:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tuntunan sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Buku Tentang Tuntunan Sholat</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tolong informasikan buku tuntunan sholat dan buku doa dan dzikir yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ? (Sugeng, Tanjung Bintang)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diantara buku buku yang berisi tuntunan Sholat adalah: Shifat sholat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karya Syeikh Muhammad Nashiruddin Albani, Shifat Sholat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karya Syeikh Jibrin, Sholatul Mukmin (Edisi Terjemahan: Panduan Sholat Lengkap) karya Syeikh Said bin Ali Wahaf Al Qahthani, shifat sholat Nabi karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dan lain-lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8500303037032623825?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8500303037032623825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/buku-tentang-tuntunan-sholat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8500303037032623825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8500303037032623825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/buku-tentang-tuntunan-sholat.html' title='Buku Tentang Tuntunan Sholat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-9179429908530481574</id><published>2008-11-03T17:03:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.495-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid quba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Keutamaan Sholat Di Masjid Quba</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah ada haditsnya bahwa sholat di masjid Quba pahalanya sama dengan mengerjakan umrah satu kali?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, didalam Sunan Ibnu Majah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan tentang keutamaan tersebut. Adapun lafadz riwayatnya adalah sebagai berikut:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Sahal bin Hunaif ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda: “Barangsiapa yang bersuci dirumahnya kemudian ia mendatangi masjid Quba lalu sholat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala melakukan umrah.” (HR. Ibnu Majah No 1412, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-9179429908530481574?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/9179429908530481574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/keutamaan-sholat-di-masjid-quba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/9179429908530481574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/9179429908530481574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/keutamaan-sholat-di-masjid-quba.html' title='Keutamaan Sholat Di Masjid Quba'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-661529797081352107</id><published>2008-11-02T16:13:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.475-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='posisi imam wanita'/><title type='text'>Posisi Imam Wanita Dalam Sholat Berjamaah</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana posisi imam wanita yang benar dalam sholat berjamaah, karena ada yang mengatakan imam berada didepan dan ada pula yang mengatakan imam sejajar dengan makmumnya? (Iza)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Jika kaum wanita mengerjakan sholat berjamaah dan imam mereka adalah seorang wanita maka posisi sang imam adalah ditengah-tengah shof yang pertama. Jadi bukan berada didepan seperti jika imamnya seorang laki-laki. (Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazam 3/172 dam Musnad Imam Asy-Syafii 6/82)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:left;"&gt;Hal ini sebagaimana dipraktekkan oleh Ummu Salamah Radliyallahu anha ketika ia menjadi imam sebagaimana dikisahkan oleh Hujairah binti Hushain:&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ حُجَيْرَةَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَتْ : أَمَّتْنَا أُمُّ سَلَمَةَ فِي صَلاَةِ الْعَصْرِ قَامَتْ  بَيْنَنَا&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;!--moreJawaban Selengkapnya...--&gt;&lt;br/&gt;“Dari Hujairah binti Hushain ia berkata: “Ummu Salamah mengimami kita dalam sholat ashar, beliau berdiri diantara kita.” (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf No 5082 (3/140), Ibnu Abi Syaibah II/131 dan Dar Quthni I/404)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan dalam sebuah atsar Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu berkata:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;تَؤُمُّ الْمَرْأَةُ النِّسَاءَ تَقُوْمُ فِي وَسَطِهِنَّ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Seorang wanita (bila) menjadi imam bagi kaum wanita maka ia berdiri ditengah-tengah mereka.” (HR. Abdurrazaq No 5083)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demikian pula Aisyah Radliyallahu anha apabila mengimami kaum wanita beliau berdiri ditengah-tengah mereka. (Lihat Mushannaf Abdurrazaq 3/140)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan apabila jamaahnya hanya satu orang maka posisi sang imam sejajar dengan makmumnya. Sang makmum berada disebelah kanan imam. Posisi ini sama seperti jika seorang laki-laki berjamaah dengan seorang laki-laki. (lihat Al Kaafi, Ibnu Qudamah 1/434, Syarah Al Mumti’ , Syeikh Utsaimin 4/389, Majmu Fatawa Bin Bazz 12/131).&lt;br/&gt;Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-661529797081352107?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/661529797081352107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/posisi-imam-wanita-dalam-sholat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/661529797081352107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/661529797081352107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/posisi-imam-wanita-dalam-sholat.html' title='Posisi Imam Wanita Dalam Sholat Berjamaah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-275091299648315657</id><published>2008-11-02T16:06:00.000-08:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sholat sunnah sebelum asar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Sholat Sunnah Sebelum Ashar</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Sholat sunnah sebelum ashar yang benar 4 rakaat dua kali salam atau dua rakaat satu kali salam? (Ibu, Hamba Allah)&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Sebelum melaksanakan sholat ashar memang seseorang dibenarkan untuk melaksanakan sholat qabliyah sekalipun para ulama menggolongkan sholat qabliyah ashar ini dalam kelompok sholat rawatib yang ghairu muakkad (yang tidak ditekankan). (Lihat Sholatul Mukmin [Edisi Indonesia: Panduan Sholat Lengkap], Syeikh Said bin Ali Wahaf Al Qahthani : 227)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun pelaksanaannya bisa dikerjakan dua rakaat sekali dalam atau empat rakaat dengan dua kali salam. Keduanya boleh dikerjakan karena memiliki sandaran hukum dari hadits-hadits nabi yang shahih.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan diantara dalil yang menjelaskan bahwa sholat qabliyah ashar ini dikerjakan sebanyak empat rakaat adalah:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا&lt;br/&gt;&lt;!--moreJawaban Selengkapnya...--&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang melakukan sholat empat rakaat sebelum ashar.” (HR. Turmudzi No 430 dan dihasankan oleh AlBani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari ‘Ashim bin Dhamrah dari Ali ia berkata: “Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  mengerjakan sholat empat rakaat sebelum ashar.” (HR. Tirmidzi No 429 dan dihasankan oleh AlBani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa para salaf berbeda pendapat dalam teknis pelaksanaanya ada yang berpendapat empat rakaat satu kali salam seperti Ishaq bin Ibrahim. Dan ada yang berpendapat empat rakaat dengan dua kali salam. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad. (Lihat Sunan Tirmidzi No 429).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang kedua yang menyatakan bahwa jika sholat qabliyah ashar dilakukan sebanyak empat rakaat maka dengan dua kali salam. Ini berdasarkan keumuman riwayat:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  beliau bersabda: “Sholat malam dan siang itu dua-dua.” (HR. Turmudzi No597, dishahihkan oleh Syeikh Albani )&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil yang menyatakan bahwa sholat qabliyah ashar ini dilakukan sebanyak dua rakaat adalah:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Ali radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  melakukan sholat dua rakaat sebelum ashar.” (HR. Abu Daud No 1272 dan dihasankan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi seseorang dipersilahkan untuk memilih antara mengerjakan sholat qabliyah ashar dua rakaat atau empat rakaat. Namun jika memungkinkan diutamakan untuk melakukan yang empat rakaat dikarenakan akan mendapat keutamaan khusus sebagaimana dijelaskan dalam hadits diatas yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi No 430  bahwa Allah ta'ala akan memberi rahmat kepada orang yang mengerjakan sholat qabliyah ashar sebanyak empat rakaat. Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-275091299648315657?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/275091299648315657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/sholat-sunnah-sebelum-ashar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/275091299648315657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/275091299648315657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/11/sholat-sunnah-sebelum-ashar.html' title='Sholat Sunnah Sebelum Ashar'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3404296076767798275</id><published>2008-10-22T18:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tata cara tidur menurut sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Tata Cara Tidur Menurut Sunnah</title><content type='html'>Tanya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana tata cara tidur menurut sunnah?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada beberapa perkara yang hendaknya diperhatikan oleh seseorang yang hendak beranjak tidur sehingga tidurnya bernilai ibadah disisi Allah ta’ala dan mendapatkan balasan kebaikan dari-Nya, bahkan dapat memperoleh manfaat kebaikan dunyawi dan ukhrawi dari tidurnya tersebut. Syeikh Abdul Aziz bin Bazz menjelaskan adab-adab tidur yang seyogyanya diperhatikan oleh orang-orang yang beriman, diantaranya:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1.	Berintrospeksi diri / muhasabah sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.&lt;br/&gt;&lt;!--moreSelengkapnya...--&gt;&lt;br/&gt;2. Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallaahu anha&lt;br/&gt;كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِ آخِرَهُ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Bahwasanya beliau (Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam) tidur pada awal malam dan menghidupkan akhir malamnya (dengan melakukan shalat).” (HR. Muslim No 739)&lt;br/&gt;3. Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.&lt;br/&gt;Al-Bara’ bin `Azib radhialahu ‘anhu menuturkan: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَن&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan...” (HR. Bukhari No 244)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4.  Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah ia mengambil potongan kain dan mengirapkannya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Bukhari No 5961).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5.   Makruh tidur tengkurap.&lt;br/&gt;Abu Dzar radhiallanhu ‘anhu menuturkan :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda: ”Wahai Junaidib (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah No 3724 dan dinilai shahih oleh Al-Albani).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ قَيْسِ بْنِ طِخْفَةَ الْغِفَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَصَابَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ مَا لَكَ وَلِهَذَا النَّوْمِ هَذِهِ نَوْمَةٌ يَكْرَهُهَا اللَّهُ أَوْ يُبْغِضُهَا اللَّهُ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Qais bin Thighfah al Ghifari dari bapaknya ia berkata: “Rasulullah r mendapatiku sedang tidur tengkurap dimasjid. Lalu beliau membangunkanku dengan kakinya seraya berkata: “Mengapa engkau tidur dengan cara begini, ini adalah cara tidur yang dibenci atau dimurkai Allah.” (HR. Ibnu Majah No 3723)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَوْكِئُوا السِّقَاءَ وَأَكْفِئُوا الْإِنَاءَ أَوْ خَمِّرُوا الْإِنَاءَ وَأَطْفِئُوا الْمِصْبَاحَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ غَلَقًا وَلَا يَحِلُّ وِكَاءً وَلَا يَكْشِفُ آنِيَةً وَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى النَّاسِ بَيْتَهُمْ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Dari Jabir radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tutuplah pintu, tutuplah bejana dan tempat minum kalian, dan padamkanlah lampu karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka (sesuatu yang tertutup), tidak bisa melepas ikatan dan tidak dapat membuka bejana. Dan sesungguhnya tikus dapat menyebabkan rumah seseorang terbakar.” (HR. Turmudzi No 1812, dishahihkan oleh Syeikh Albani).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7.   Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8.   Membaca do'a-do'a dan dzikir sebelum tidur yang shahih dari Rasulullah, seperti:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan membaca:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;بِاسْمِكَ اَللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup." (HR. Al Bukhari).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9. 	Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّياَطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari kemurkaan-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari gangguan-gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10.  Hendaknya apabila bangun tidur membaca :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(Lihat: Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3404296076767798275?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3404296076767798275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/tata-cara-tidur-menurut-sunnah.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3404296076767798275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3404296076767798275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/tata-cara-tidur-menurut-sunnah.html' title='Tata Cara Tidur Menurut Sunnah'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2507575649142848614</id><published>2008-10-22T17:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.355-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menghadiahkan pahala'/><title type='text'>Mendoakan Orang Lain Dengan Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur'an
Untuknya</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Apa hukumnya mendoakan orang lain dengan cara menghadiahkan pahala membaca Al Qur’an untuknya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Mendoakan orang lain adalah suatu amalan yang mulia dan sangat dianjurkan oleh syariat, namun tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan menurut syariat pula. Jika kita mendoakan orang lain dengan cara menghadiahkan pahala membaca Al Qur'an untuknya, maka hal semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabat beliau serta imam-imam yang terpercaya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apalagi kalau kita kaji pendapat Imam Syafii dalam hal ini, beliau berpendapat bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al Qur'an kepada orang lain yang telah meninggal dunia pahalanya tidak akan sampai kepadanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karena itu jika kita menghendaki untuk mendoakan orang lain, maka doakanlah dengan cara yang sesuai dengan yang dituntunkan oleh syariat, tidak dengan menghadiahkan pahala bacaan Al Qur'an kepadanya.&lt;br/&gt;&lt;!--moreJawaban Selengkapnya--&gt;&lt;br/&gt;Diantara doa-doa yang dapat kita amalkan untuk mendoakan saudara-saudara kita adalah:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Wahai Rabb-ku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan”. (Surat Nuh : 28)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Wahai Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (Surat Ibrahim : 41)&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Surat Al Hasyr : 10)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2507575649142848614?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2507575649142848614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/mendoakan-orang-lain-dengan.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2507575649142848614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/2507575649142848614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/mendoakan-orang-lain-dengan.html' title='Mendoakan Orang Lain Dengan Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur&amp;#39;an&#xA;Untuknya'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3660935318779038085</id><published>2008-10-08T06:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.314-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengadzankan mayit di liang kubur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah'/><title type='text'>Mengadzankan Mayit Di Kuburan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah mayit perlu di azankan di liang kubur?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak ada tuntunannya mengadzankan mayit diliang kubur, karena adzan adalah panggilan untuk melaksanakan sholat. Dan tindakan ini merupakan bid'ah, perkara yang baru dalam persoalan dien yang harus kita tinggalkan. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 9/22)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3660935318779038085?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3660935318779038085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/mengadzankan-mayit-di-kuburan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3660935318779038085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3660935318779038085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/mengadzankan-mayit-di-kuburan.html' title='Mengadzankan Mayit Di Kuburan'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3967494831919749832</id><published>2008-10-08T06:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.306-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='minum air zamzam'/><title type='text'>Doa Khusus Ketika Minum Air Zamzam</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Apakah benar ada doa khusus ketika kita minum air zam zam?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Kalau doa akan meminumnya sama dengan doa akan makan atau minum pada umumnya, hanya ketika kita akan minum air zamzam kita diperbolehkan meniatkannya untuk apa saja yang kita kehendaki, seperti kita minum memohon kepada Allah ta'ala agar disembuhkan dari penyakit, atau dimudahkan untuk menghapal dan lain sebagainya. Hal ini sebagiamana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;"Air zamzam tergantung pada apa yang diniatkan oleh peminumnya." (HR. Ibnu Majah No 3053)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3967494831919749832?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3967494831919749832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/doa-khusus-ketika-minum-air-zamzam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3967494831919749832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3967494831919749832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/doa-khusus-ketika-minum-air-zamzam.html' title='Doa Khusus Ketika Minum Air Zamzam'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5907725031372638085</id><published>2008-10-08T05:53:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.296-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibadah yang baik'/><title type='text'>Kriteria Ibadah Yang Baik</title><content type='html'>Tanya :&lt;br/&gt;Bagaimanakah ibadah yang baik itu menurut Islam ?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab:&lt;br/&gt;Ibadah yang baik menurut Islam adalah ibadah yang dalam pelaksanaannya telah memenuhi dua syarat yaitu:&lt;br/&gt;Ikhlash, maksudnya ibadah yang dikerjakan semata-mata diperuntukkan hanya bagi Allah ta'ala saja, tidak untuk yang lain-Nya. &lt;br/&gt;Mutaba'ah, maksudnya ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dua syarat ini mutlak harus ada, kalau hanya ada satu saja diantara keduanya maka ibadahnya belum diterima oleh Allah sampai kedua syarat tersebut benar-benar dapat dipenuhi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5907725031372638085?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5907725031372638085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/kriteria-ibadah-yang-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5907725031372638085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5907725031372638085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/kriteria-ibadah-yang-baik.html' title='Kriteria Ibadah Yang Baik'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8618225105004776499</id><published>2008-10-08T03:47:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hutang'/><title type='text'>Cara Melunasi Hutang Kepada Orang Yang Tidak Kita Ketahui Tempat
Tinggalnya</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana kalau kita punya hutang kepada seseorang sementara kita tidak tahu di mana orang yang menghutangi kini berada karena rentang waktu yang begitu lama? (Abu Usamah, Way Halim )&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Para Ulama mengatakan bahwa apabila kita mempunyai hutang kemudian kita tidak tahu di mana orang yang menghutangi kita, maka hendaknya kita menginfaqkan uang sebesar yang dihutangkan dengan niat pahalanya untuk orang yang menghutangi , dan apabila orang itu kembali/bertemu lagi maka kita sampaikan padanya perihal uangnya yang telah diinfaqkan atas namanya.&lt;br/&gt;Namun jika ia memintanya kembali, maka hendaknya kita menggantikan uang yang telah kita infakkan tersebut dari uang peribadi kita lalu kita berikan kepadanya. &lt;em&gt;Wallahu Ta’ala A’lam Bis Showab.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8618225105004776499?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8618225105004776499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/cara-melunasi-hutang-kepada-orang-yang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8618225105004776499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8618225105004776499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/10/cara-melunasi-hutang-kepada-orang-yang.html' title='Cara Melunasi Hutang Kepada Orang Yang Tidak Kita Ketahui Tempat&#xA;Tinggalnya'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-4862999493638735402</id><published>2008-09-25T00:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='adzan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hukum Iqamah Bagi Wanita</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana hukumnya iqomah bagi wanita?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Iqomah Shalat bagi wanita hukumnya mubah selama tidak keras (tidak memakai pengeras suara atau mix) dan semua jama’ahnya adalah wanita. Wallahu Ta’ala A’lam Bis Showab. (Lihat Majmu Fatawa wa Rasaail, Syeikh Muhammad Shalih Al Utsaimin 12/160).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-4862999493638735402?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/4862999493638735402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/hukum-iqamah-bagi-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4862999493638735402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/4862999493638735402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/hukum-iqamah-bagi-wanita.html' title='Hukum Iqamah Bagi Wanita'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3387260765116432618</id><published>2008-09-24T23:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.246-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='adzan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Doa Setelah Adzan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ketika membaca doa setelah adzan apakah kita dituntunkan untuk membacanya hingga “Innaka Laa Tukhliful Mii’ad” atau hanya sebatas “Wa attah” saja? (Budi, Padang Ratu)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; menuntunkan kepada kita bahwa setelah kita mendengarkan adzan kita hendaknya membaca sholawat kepada Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;. Setelah itu kita membaca doa :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، [إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Ya Allah, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan, Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. [Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji].”&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;(HR. Al-Bukhari 1/152. Untuk kalimat: Innaka laatukhliful mii’aad, menurut riwayat Al-Baihaqi 1/410, Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar, hal. 38).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi diperbolehkan bagi orang yang membaca doa setelah adzan hingga kata-kata “Innaka Laa Tukhliful Mii’ad” , dan juga dibenarkan jika hanya sebatas kata  “Wa attah” saja, karena kedua riwayat tentang hal ini masing-masing sanadnya hasan dan shahih. Wallahu A’lam Bish Showab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3387260765116432618?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3387260765116432618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/doa-setelah-adzan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3387260765116432618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3387260765116432618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/doa-setelah-adzan.html' title='Doa Setelah Adzan'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5392574747652096283</id><published>2008-09-23T23:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Hikmah Dibalik Penciptaan Setan Dan Jin</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Apa faidah Alllah Ta'ala menciptakan setan dan jin? (Yusdi Rizal, Bandar Lampung)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Didalam Al Quran Allah Ta'ala menjelaskan bahwa Allah Ta'ala menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh karena itu ketika Allah Ta'ala menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Nah, jika kita telah mengetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lebih rinci, di antara hikmah diciptakannya setan ialah :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah Ta'ala dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah Ta'ala.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Allah Ta'ala menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah Ta'ala dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan mampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Dan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Al Jazairi dalam Minhajul Muslim-nya bahwa salah satu bentuk jihad adalah jihad melawan setan. Ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat bagi orang yang beriman dalam mempertahankan komitmen keimanannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Allah Ta'ala hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah Ta'ala.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah Ta'ala.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka.  (diadaptasi dari swaramuslim). Wallahu Ta’ala A’lam Bish Showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5392574747652096283?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5392574747652096283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/hikmah-dibalik-penciptaan-setan-dan-jin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5392574747652096283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5392574747652096283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/hikmah-dibalik-penciptaan-setan-dan-jin.html' title='Hikmah Dibalik Penciptaan Setan Dan Jin'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-5729356350154887972</id><published>2008-09-23T15:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.218-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Berinfaq Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal Dunia</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bolehkah kita berinfaq lalu pahalanya kita berikan kepada orang tua yang sudah meninggal dunia? (081540889XXX)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berinfaq atas nama orang tua yang sudah meninggal dunia termasuk amalan mulia dan disyariatkan dalam Islam, baik sedekah tersebut dalam bentuk uang maupun barang atau benda yang bermanfaat bagi orang banyak, semisal membuat sumur, mewakafkan buku-buku agama, mushaf Al Qur'an, meja belajar, peralatan sholat dan lain-lain. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 9/25).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun dalil diperbolehkannya bersedekah atas nama orang  tua yang telah meninggal dunia adalah:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ سَعْدًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوصِ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;"Dari Ibnu Abbas bahwa Saad bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan tidak berwasiat, apakah aku boleh bersedekah atas namanya?" Beliau menjawab: "Ya."&lt;/em&gt; (HR. Nasa'i No 3654, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan sedekah atas nama orang tua yang meninggal dunia ini akan bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia tersebut berdasarkan ijma' (kesepakatan) para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 9/27). Jika sedekah ini tidak bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia maka tidak ada manfaatnya Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; memerintahkan Saad bin Ubadah  untuk bersedekah atas nama ibunya sebagaimana dikisahkan dalam hadits diatas, padahal setiap tuntunan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; pasti memiliki manfaat dan tidak mungkin sia-sia belaka. Wallahu A'lam Bish Showab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-5729356350154887972?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/5729356350154887972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/berinfaq-untuk-orang-tua-yang-sudah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5729356350154887972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/5729356350154887972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/berinfaq-untuk-orang-tua-yang-sudah.html' title='Berinfaq Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal Dunia'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-8616969753331708122</id><published>2008-09-23T15:07:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.175-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Perihal Mentalkinkan Mayat Di Kuburan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tanya:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Larangan mentalqinkan mayit setelah dikuburkan itu terdapat disurat apa dan ayat berapa? (Suwito, Way Abung)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Mengenai larangan mentalqinkan mayit setelah dikuburkan tidak terdapat di dalam al Qur'an, dan juga secara tekstual juga tidak kita dapatkan dalam hadits-hadits Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt;. Namun larangan mentalqinkan mayit setelah dikuburkan ini merupakan kesimpulan para ulama yang didasarkan pada amaliyah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dalam memprosesi jenazah sejak meninggal sampai dikuburkan, dimana tidak didapati bahwa Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; melakukan hal tersebut padahal ini merupakan ibadah dan ibadah tidak boleh kita lakukan kecuali ada tuntunannya dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Maka ketika kita tidak mendapati adanya tuntunan dari Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; tentang mentalqinkan mayit setelah dikuburkan berarti ini termasuk amalan yang tidak boleh dilakukan. Jika tetap dilakukan maka ini termasuk perbuatan bid'ah yang diada-adakan dalam Dien. Sementara setiap bid'ah adalah sesat sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/em&gt; dalam sabda beliau :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;َإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham (kalian). Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang baru (dalam persoalan agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.&lt;/em&gt;” (HR. Abu Daud No 4607, dishahihkan oleh Syeikh Albani)&lt;br/&gt;(Lihat Fatawa Arkanil Islam, Syeikh Utsaimin : 404)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-8616969753331708122?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/8616969753331708122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/perihal-mentalkinkan-mayat-di-kuburan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8616969753331708122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/8616969753331708122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/perihal-mentalkinkan-mayat-di-kuburan.html' title='Perihal Mentalkinkan Mayat Di Kuburan'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-3462989085492645847</id><published>2008-09-21T00:07:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shodaqoh melebihi kadar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shodaqoh'/><title type='text'>Bershadaqoh Melebihi Kadar Zakat</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Bagaimana jika seseorang bershodaqoh melebihi kadar zakat yang semestinya harus dikeluarkan, apakah ia masih harus mengeluarkan zakat lagi? (Sugiman, Lampung Barat)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Jika seseorang ketika mengeluarkan harta dengan niat sebagai infaq atau shodaqoh, maka jatuhnya harta yang ia keluarkan tersebut adalah infaq atau shodaqoh, bukan zakat, meskipun kadarnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kadar zakat yang harus ia keluarkan. Maka ia harus mengeluarkan harta lagi dengan niat khusus sebagai zakat dengan kadar yang telah ditentukan oleh syariat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini dikarenakan setiap amalan itu tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari No 1)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-3462989085492645847?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/3462989085492645847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/bershadaqoh-melebihi-kadar-zakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3462989085492645847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6720977781269618612/posts/default/3462989085492645847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dialogimani.blogspot.com/2008/09/bershadaqoh-melebihi-kadar-zakat.html' title='Bershadaqoh Melebihi Kadar Zakat'/><author><name>Irfani, S.Pd.I</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04233403013611168881</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8E8K1fpJ9p8/SsqQRTpf-QI/AAAAAAAAABg/DoObCLnxdBo/S220/IMG0662A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6720977781269618612.post-2191917645111749451</id><published>2008-09-21T00:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T00:38:18.148-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zakat mal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zakat'/><title type='text'>Zakat Mal Untuk Masjid</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Apakah sebagian zakat mal saya  dapat diberikan ke masjid? (Samsul Arif, Bandar Lampung)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Ketika ditanya demikian Syeikh Sholeh Utsaimin menjelaskan: Pembelanjaan (penyaluran) zakat tidak boleh dilakukan kecuali kepada delapan golongan yang telah disebutkan oleh Allah, karena Allah menyebutkan hal itu dengan pola pembatasan yakni dengan ‘innama’, Allah ta'ala  berfirman:&lt;br/&gt;&lt;p style="text-align:right;"&gt;&lt;br/&gt;إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {60}&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah ; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [At-Taubah : 60]&lt;br/&gt;Sehingga tidak boleh dibelanjakan untuk pembangunan masjid dan semacamnya lantaran pembangunan masjid tidak masuk dalam lingkup kandungan makna firman Allah Subahanhu wa Ta’ala ‘wa fi sabilillah’ , karena makna yang dipaparkan oleh para mufasir (ahli tafsir) sebagai tafsir dari ayat ini adalah jihad fi sabilillah. Karena jika kita katakan, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dari fi sabilillah adalah semua yang mengarah kepada kebaikan maka pembatasan pada firmanNya:&lt;br/&gt;“Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir….”&lt;br/&gt;menjadi tidak ada gunannya, padahal sebuah pembatasan seperti yang diketahui adalah penetapan hukum pada hal yang disebutkan dan menafikan selainnya. Apabila kita katakan, ‘Sesunnguhnya ‘wa fi sabilillah’ adalah semua jalan kebaikan, maka ayat itu menjadi tidak berguna, berkenaan dengan asal kata ‘innama’ yang menunjukan adanya pembatasan.&lt;br/&gt;Kemudian, sesungguhnya di dalam kebolehan pembelanjaan zakat untuk pembangunan masjid dan jalan-jalan kebaikan lainnya terdapat penelantaran kebaikan, karena sebagian besar manusia dikalahkan oleh kekikiran dirinya. Apabila mereka melihat bahwa pembangunan masjid dan jalan-jalan kebaikannya boleh dijadikan tujuan penyaluran zakat, maka mereka akan menyalurkan zakat mereka ke sana, sedangkan orang-orang fakir dan miskin tetap dihimpit kefakiran selamanya (lantaran mereka tidak mendapatkan bagian dari zakat).&lt;br/&gt;[Lihat kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, (edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah), Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka Arafah]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6720977781269618612-2191917645111749451?l=dialogimani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dialogimani.blogspot.com/feeds/2191917645111749451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='rep
