Website ini adalah pindahan dari www.dialogimani.wordpress.com (website komunitas dialog imani RRI Bandar Lampung)
Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid'ah. Tampilkan semua postingan

Tanya:
Apakah hukum membaca sholawat badar? (Budi, Padang Ratu)

Jawab:
Sholawat badar adalah salah satu bentuk sholawat yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Di dalam sholawat tersebut banyak terdapat lafadz-lafadz tawassul yang bid’ah, yaitu tawassul kepada ahli badar, mereka para sahabat yang meninggal dunia ketika perang Badar. Para Ulama telah menjelaskan bahwa tawassul dengan orang yang meninggal dunia adalah bentuk tawassul yang dilarang. (Lihat Kitabut Tauhid, Syaikh Sholih Fauzan)

Oleh karena itu tidak boleh kita membaca sholawat Badar ini,apalagi sampai meyakini keutamaan-keutamaan tertentu jika membaca sholawat badar, ini adalah keyakinan yang sama sekali tidak ada dasar dan tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Dan kalau kita ingin membaca sholawat maka bacalah sholawat Ibrahimiyah, sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam kepada ummatnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut :

عَنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata: “Kaab bin Ujrah bertemu denganku lalu berkata: “Maukah engkau aku beri hadiah  yang aku dengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam ?” “Mau hadiahkanlah untukku,” jawabku. Ia berkata: “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah, kami berkata: “Hai Rasulullah, bagaimana lafadz bersholawat kepadamu para ahli bait, karena sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana mengucapkan salam atasmu, Beliau bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian: “Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad… innaka hamidun majid” (Artinya) Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari No 3190)

Tanya:

Apakah yang disebut dengan bid'ah dalam aqidah dan bid'ah amaliah (dalam ibadah)?

Jawab:

Secara bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya sebelumnya.

Sedangkan secara istilah bid'ah adalah segala tata cara yang baru dalam beribadah kepada Allah Ta'ala yang menyimpang dari yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Bid'ah dalam urusan Dien dibagi menjadi dua yaitu bid'ah dalam aqidah dan bid'ah dalam amaliyah atau ibadah. (Lihat Kitabut Tauhid, Syeikh Shalih Fauzan : 81)

Tanya:

Apakah mayit perlu di azankan di liang kubur?

Jawab :

Tidak ada tuntunannya mengadzankan mayit diliang kubur, karena adzan adalah panggilan untuk melaksanakan sholat. Dan tindakan ini merupakan bid'ah, perkara yang baru dalam persoalan dien yang harus kita tinggalkan. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 9/22)

Tanya:
Apakah hukum membaca sholawat badar? (Budi, Padang Ratu)

Jawab:
Sholawat badar adalah salah satu bentuk sholawat yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Di dalam sholawat tersebut banyak terdapat lafadz-lafadz tawassul yang bid’ah, yaitu tawassul kepada ahli badar, mereka para sahabat yang meninggal dunia ketika perang Badar. Para Ulama telah menjelaskan bahwa tawassul dengan orang yang meninggal dunia adalah bentuk tawassul yang dilarang. (Lihat Kitabut Tauhid, Syaikh Sholih Fauzan)

Oleh karena itu tidak boleh kita membaca sholawat Badar ini,apalagi sampai meyakini keutamaan-keutamaan tertentu jika membaca sholawat badar, ini adalah keyakinan yang sama sekali tidak ada dasar dan tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam. Dan kalau kita ingin membaca sholawat maka bacalah sholawat Ibrahimiyah, sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam kepada ummatnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut :


عَنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ



“Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata: “Kaab bin Ujrah bertemu denganku lalu berkata: “Maukah engkau aku beri hadiah  yang aku dengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam ?” “Mau hadiahkanlah untukku,” jawabku. Ia berkata: “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah, kami berkata: “Hai Rasulullah, bagaimana lafadz bersholawat kepadamu para ahli bait, karena sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana mengucapkan salam atasmu, Beliau bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian: “Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad… innaka hamidun majid” (Artinya) Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari No 3190)

Tanya:
Mana yang lebih baik dzikir sambil menangis atau biasa saja tidak menangis, dan ada yang berpendapat dzikir fana itu yang mendapat hidayah dan yang tidak fana tidak mendapat hidayah? (081808747XXX)

Jawab:
Dzikir yang baik adalah dzikir yang dengannya dapat menjadikan seseorang semakin dekat dengan Allah Ta'ala, semakin mengakui akan kebesaran-Nya dan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya.

Dzikir yang baik adalah dzikir yang dapat menjadikan hatinya tenang, pikirannya jernih, perasaannya nyaman dan jiwanya tentram.

Apabila ketika ia sedang melantunkan lafadz-lafadz dzikir secara refleks ia menitikkan air matanya dan menangis, maka mudah-mudahan inipun menjadi tanda kebaikan seseorang. Asalkan tangisan tersebut tidak direkayasa atau dibuat-buat. Apalagi jika hal itu dilakukan untuk menaruh simpati dari orang lain, maka ini menjadi perbuatan yang tercela, karena ada unsur-unsur riya didalamnya.

Jadi, dzikir yang paling baik adalah dzikir yang dapat menjadikan diri seseorang itu tenang dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta'ala, baik ia melakukannya sambil menangis karena terlalu menjiwai lafadz-lafadz dzikir yang ia ucapkan ataupun tidak sambil menangis, karena toh tidak setiap kali Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam berdzikir beliau melakukannya sambil menangis, demikian pula dengan para sahabat beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam.

Namun demikian ada dalil yang membenarkan berdzikir sambil menangis, yaitu hadits shahih yang menceritakan adanya tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah Ta'ala pada hari Kiamat, diantaranya adalah point yang menyebutkan:




وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

"Dan laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan menyendiri lalu berlinanglah air matanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda:


عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ  رواه الترمذي

"Dua mata yang tidak tersentuh api Neraka: Mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang melek berjaga dijalan Allah." (HR. Turmudzi dan dishahihkan oleh Albani dalam Misykatul Mashabih 2/371)

Adapun mengenai pernyataan bahwa dzikir fana itu yang mendapat hidayah, ini adalah pernyataan yang rancu dan tidak benar sama sekali. Dzikir hingga fana adalah bentuk dzikir yang diamalkan oleh orang-orang shufi. Dari sisi maknanya saja sudah tidak benar, bagaimana tidak, lafadz "dzikir" artinya adalah ingat, sedangkan "fana" artinya hilang atau istilah yang lebih populer adalah "fly."  Dzikir fana adalah dzikir yang menjadikan seseorang itu lupa dengan apa yang ia lakukan. Ini adalah amalan dan perbuatan yang tidak masuk diakal, tidak rasional, karena dzikir mestinya menjadikan seseorang ingat kepada Allah, bukan justru menjadikan ia lupa dengan-Nya. Na'udzubillah min dzalik.

Ini adalah kerancuan berfikir orang-orang shufi, dan yang pasti dzikir semacam ini tidak pernah ada dan tidak dilakukan oleh Rasulullah  Shallallahu 'alaihi Wasallam dan para sahabat beliau, demikian pula para tabiin dan tabiut tabiin serta para imam dari kalangan salafus shalih. Wallahu a'lam bish showab.

Tanya:
Apa hukumnya berjabat tangan setelah sholat fardhu?

Jawab:
Syeikh Bin bazz Rahimahullah (Lihat Fatawa Muhimmah 50-52) mengatakan bahwa pada dasarnya berjabat tangan adalah disyariatkan ketika seorang muslim berjumpa dangan muslim lainnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa menyalami para sahabatnya saat berjumpa dengan mereka dan para sahabatpun jika berjurnpa dengan sesama mereka saling berjabat tangan. Dan diantara keutamaan berjabat tangan ini adalah sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  :


مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا


"Tidaklah dua orang muslim yang berjumpa lalu saling berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah. "(HR. Tirmidzi No 2651)


تَصَافَحُوا يَذْهَبِ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبِ الشَّحْنَاءُ


"Berjabat tanganlah kalian karena (berjabat tangan itu) dapat menghilangkan kedengkian dan saling memberi hadiahlah kalian niscaya akan menimbulkan rasa saling mencintai dan menghilangkan permusuhan. " (HR. Malik No : 1413)

Akan tetapi mengkhususkan berjabat tangan setelah sholat tidak ada dasarnya sama sekali dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan amalan yang langsung dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  begitu beliau sholat adalah beristighfar lalu berdzikir, bukan menyalami para sahabat yang ada disekitar beliau. Hal ini sebagimana disebutkan dalam sebuah riwayat:


عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ


"Dari Tsauban ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bila selesai melakukan sholat beliau beristighfar tiga kali kemudian membaca: (Artinya) "Ya Allah, Engkaulah Maha Pemberi Keselamatan dan dari-Mu keselamatan. Maha Suci Engkau wahai Yang Maha Agung dan Maha Mulia. " Walid berkata:    "Aku bertanya kepada Al-Auza'i: "Bagaimana (lafadz) istighfar itu?" ia menjawab: "Engkau ucapkan Astaghfirullah, Astaghfirullah. "(HR. Muslim No 591)

Tanya :
Apakah hadits-hadits yang menyatakan bahwa yasinan itu boleh adalah lemah?

Jawab :
Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu kita definisikan terlebih dahulu apa sebenarnya yang disebut oleh sebagian umat Islam dengan istilah "Yasinan."

Yasinan berarti membaca surat yasin, lazimnya dibaca bersama-sama pada malam tertentu dan pada acara tertentu. Ritual Yasinan ini biasanya dilakukan pada malam jum'at, dalam rangka kematian, atau kelahiran anak, kirim doa pada arwah Fulan, dalam rangka berangkat menunaikan haji dan lain-lain. Hampir seluruh kegiatan yang didalammnya terdapat doa bersama biasanya terdapat yasinan ditambah dengan tahlilan dan hadarah.

Ini semua adalah perbuatan bid'ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam   , tidak parnah dilakukan oleh para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan para imam madzhab yang terpercaya.
Dan semua riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan surat Yaasiin berkisar antara lemah dan palsu, tidak ada yang shahih.
Namun kendatipun demikian bukan berarti lalu kita tidak boleh membaca surat Yaasiin sama sekali. Membaca surat Yasiin kita posisikan sama seperti membaca surat-surat dalam Al-Qur'an lainnya yang semuanya perlu kita baca. Hanya saja kita tidak boleh meyakini adanya keutamaan tertentu berkaitan dengan Surat Yasiin ini lantaran semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaannya tidak ada yang shahih.
Berikut ini sebagaian riwayatnya. (Dan untuk lebih lengkapnya lilakan lihat dan baca lampiran "TANYA JAWAB DIENUL ISLAM JILID 4”)



مَنْ قَرَأَ يس اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَاقْرَؤُوهَا عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

"Barangsiapa membaca surat Yasin demi mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka bacakanlah surat Yasin ini atas orang-orang yang mati diantara kalian. "



Keterangan:Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu'abul Iman. Lihat Dlaif Jami' Ash-Shaghir No 5785 dan Al­ Misykat No 2178.



مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ أَوْ مَرْضَاتِهِ غُفِرَ لَهُ

"Barangsiapa membaca surat Yasin pada malam hari demi mengharap wajah Allah atau keridlaan Allah, niscaya dosa-dosanya akan diampuni. "

Keterangan: Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi 2/548 dan Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath.



قَلْبُ القُرْآنِ يس لاَ يَقْرَأُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ الله وَالدَّارَ الآخِرَةَ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ اقْرَؤُوهَا عَلَىمَوْتَاكُمْ

"Jantungnya Al-Qur'an adalah surat Yasin. Tidaklah seseorang membacanya demi mengharap keridlaan Allah dan kampung Akhirat melainkan akan diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah ia (Yasin)ini atas orang-orang yang mati diantara kalian. "



Keterangan: Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/26 dan Abu Daud 3121. Ibnu Hajar berkata: "Hadits ini Gharib." Dan menurut Dar Qutni lemah. Lihat Talkhishul-Habir 2/104.



مَنْ سَمِعَ سُوْرَةَ يس عَدَلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ دِيْنَاراً فِي سَبِيْلِ اللهِ وَمَنْ قَرَأَهَا عَدَلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ حَجَّةً وَمَنْ كَتَبَهَا وَشَرِبَهَا أُدْخِلَتْ جَوْفَهُ أَلْفُ يَقِيْنٍ وَأَلْفُ نُوْرٍ وَأَلْفُ بَرَكَةٍ وَأَلْفُ رَحْمَةٍ وَأَلْفُ رِزْقٍ وَنُزِعَتْ مِنْهُ كُلُّ غِلٍّ وَدَاءٍ

"Barangsiapa mendengarkan surat Yasin maka pahalanya sama dengan bersedekah dengan dua puluh dinar dijalan Allah. Dan barangsiapa membacanya maka pahalanya sama dengan dua puluh kali haji. Barangsiapa menulisnya kemudian meminumnya, berarti telah masuk ke dalam perutnya seribu yaqin, seribu cahaya, seribu barakah, seribu rahmat dan seribu rizki dan dicabut darinya segala kedengkian dan penyakit. "
Keterangan: Hadits ini palsu. Lihat Kitabul Maudluat (Kumpulan Hadits­-Hadits Palsu) karya Ibnul Jauzi 1 / 178, Al-lali'ul Mashnu'ah 1/233, Tanzihusy-Syariah 1/382 dan Al-Fawa'idul Maj'muah 300.

Tanya :
Bagaimana kalau kita di undang untuk yasinan, dan kita datang sebagai bentuk penghormatan kita kepada mereka, kemudian kita membaca sebagaimana kita membaca dengan bacaan biasa tanpa niat yasinan, apakah hal ini di hukumi berdosa? (Bapak Basuki)

Jawab :

Sebenarnya kalau kita ingin membaca al Qur'an sebaiknya adalah di rumah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda:




عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا

"Dari Abu Hurairah ia berkata: "Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan." (HR. Abu Daud No 2042)

Para ulama menjelaskan bahwa maksud menjadikan rumah seperti kuburan apabila didalamnya tidak terdengar ayat-ayat Al Qur'an dibacakan dan tidak pernah ditegakkan sholat-sholat sunnah didalamnya.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam riwayat berikut ini:



عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ
قَالَ لَا تَتَّخِذُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا صَلُّوا فِيهَا

"Dari Zaid bin Khalid Al Juhani dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , beliau bersabda: "Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sholatlah kalian didalamnya." (HR. Ahmad dalam Musnad No 16582)

Dan kalau kita ingin menghormati tetangga maka tidak harus dengan mengorbankan sunnah Rasul dan terjebak dalam ritual bidah, insya Allah ada cara yang lain dengan cara yang baik. Karena kalau kita mengikuti acara mereka, berarti kita mengikuti dan ikut andil dalam melestarikan bid'ah.

Oleh karenanya, apabila kita datang maka kita harus dapat memperingatkan mereka, dan kalau kita tidak bisa untuk memperingatkan mereka, maka demi menyelamatkan keyakinan kita hendaknya kita jangan hadir dalam acara itu, karena acara tersebut tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  .

Bukankah suatu amal baru dikatakan amal shalih dan mendapat pahala dari Allah ta'ala apabila dikerjakan ikhlas karena Allah ta'ala dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Apabila tidak memenuhi dua syarat ini maka amalan    tersebut tertolak sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  :



مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim No 1718)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ



"Dari Aisyah Radhiyallhu anha ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda: "Barangsiapa yang membuat tata cara yang baru dalam urusan kami (Dien ini) yang tidak ada contohnya darinya maka amal perbuatan yang baru tersebut tertolak." (HR. Bukhari No 2697)

Wallahu Ta'ala a°lam bish showab

Tanya:
Apakah yang disebut dengan bid'ah dalam aqidah dan bid'ah amaliah (dalam ibadah)?

Jawab:
Secara bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya sebelumnya.

Sedangkan secara istilah bid'ah adalah segala tata cara yang baru dalam beribadah kepada Allah ta’ala yang menyimpang dari yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bid'ah dalam urusan Dien dibagi menjadi dua yaitu bid'ah dalam aqidah dan bid'ah dalam amaliyah atau ibadah. (Lihat Kitabut Tauhid, Syeikh Shalih Fauzan : 81)
Bid'ah dalam aqidah artinya adalah keyakinan-keyakinan yang menyimpang yang berbeda dengan keyakinan yang di yakini oleh Rasulullah sh dan para sahabatnya.

Bid'ah dalam aqidah yang paling berbahaya adalah kesyirikan.

Memang, nampaknya secara langsung kita tidak mendapatkan ada seorang muslim yang nyata-nyata menyembah berhala, sujud kepada patung, atau menyembah pohon dan batu besar yang dianggap keramat. Namun ada beberapa fenomena yang secara sekilas tampaknya tidak menyimpang, akan tetapi pada hakekatnya hal itu hukumnya sama seperti menyembah patung, dalam arti termasuk perbuatan syirik, seperti mengakui adanya kekuatan lain selain Allah ta'ala , mengganti bukum Allah ta'ala dengan hukum buatan manusia, memasang sesaji, jimat dan mempercayai seseorang yang mengaku memiliki ilmu ghaib serta mengkultuskan para hamba­-hamba Allah yang shalih. Semua ini mengakibatkan rusaknya tauhid dan aqidah kita lantaran syubhat-syubhat tersebut.

Sisi lain yang termasuk dalam bid'ah dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti Mu'tazilah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah dan aliran-aliran menyimpang lainnya. Masing-masing aliran keagamaan ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat. Dan untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil-dalil dari Al-Qur'an As-sunnah dan mencocokkannya dengan pemikiran dan    hawa nafsu mereka, yang sesuai dengan hawa nafsu mereka mereka ambil, sementara yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.

Inilah diantara bid'ah-bid'ah yang berbahaya dibidang aqidah, dan tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengikuti aliran­aliran tersebut berarti mereka telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar, ajaran yang dipahami dan diamalkan oleh Nabi ; para sahabat beliau, para tabiin, tabiit-tabiin dan para imam yang terpercaya.

Diantara bid'ah-bid'ah yang dilontarkan dan dipropagandakan oleh firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang menyimpang tersebut adalah sebagai berikut:

Mu'tazilah, mereka terlalu mendewakan akal, tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah, menta'wilkan ayat ayat tentang sifat Allah ta'ala  dan berpendapat bahwa Al-Qur'an itu makhluk.

Syi'ah, mereka mengkafirkan sebagian besar sahabat termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat besar lainnya, meyakini bahwa Al-Qur'an yang dimiliki mereka berbeda dengan Al-Qur'an yang dimiliki oleh orang-orang Sunni pada umumnya, membolehkan nikah mut'ah (kawin kontrak) dan masih banyak lagi ajaran-ajaran mereka yang menyimpang.

Khawarij, mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan membolehkan keluar dari Imam jamaah kaum muslimin.
Qadariyah, mereka menyatakan bahwa manusia adalah pencipta seluruh apa yang diperbuatnya, sedikitpun mereka tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa-apa yang dilakukan manusia.
-  Jabariyah, mereka berpendapat bahwa    manusia tidak memiliki kehendak sedikitpun, menurut mereka manusia itu ibarat robot yang gerak-geriknya dikendalikan Allah ta'ala .

Jahmiyah, mereka tidak mengakui keberadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala.

Demikianlah beberapa contoh bid'ah dalam bidang Aqidah.
Dan agar kita selamat dari fitnah ini, maka marilah kita berpegang teguh kepada aqidah yang benar, aqidah yang diyakini oleh Rasululllah shallallahu 'alaihi wasalam , para sahabat beliau, para tabi'in dan tabiit tabiin serta para    imam-imam yang terpercaya. Dalam hal ini Allah ta'ala telah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}


"Katakanlah: Inilah jalan (dien)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (Surat Yusuf : 108)



Kata-kata: "Bashirah" menurut Imam Thabari dalam tafsirnya berarti "Keyakinan dan ilmu" (Lihat Tafsir Thabari 7/315)

Dan seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Mas'ud radiallahu 'anhu berkata:

إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعَلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَالتَّنَطّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ



"Sesungguhnya kalian akan mendapati sejumlah kaum yang mengklaim bahwa mereka menyeru kalian kepada Kitabullah, padahal mereka mencampakkannya dibelakang punggung mereka. Maka hendaklah kalian berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bid'ah, janganlah kalian berlebih-lebihan dan jangan kelewatan dan hendaklah kalian berpegang teguh kepada pendapat orang orang terdahulu (yakni kaum salafus shalih)" (Syarh Ushuli'I-I'tiqad, Imam AI-Lalika'iy)
Adapun bid'ah yang kedua adalah bid'ah dalam bidang ibadah.
Bid'ah ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan bentuk bid'ah yang pertama, karena bid'ah ini juga akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan.

Pengertian bid'ah dalam bidang ibadah adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah.

Orang yang terjebak dalam kubangan fitnah ini atau dengan kata lain orang yang melaksanakan bid'ah amaliah ini berada pada posisi yang sangat berbahaya, karena lantaran  syubhat yang ada padanya, ia tidak merasa bersalah atas apa-apa yang ia lakukan, sehingga tidak mungkin ia bertaubat darinya, padahal apa yang dilakukannya itu bertentangan dengan sunnah Rasululah shallallahu 'alaihi wasalam, dan tidak ada tuntunannya dari beliau.

Oleh karenanya, fitnah syubhat dalam bentuk ini lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang. Sebagaimana diungkapkan oleh Sufyan Ats-Tsaury Rahimahullah:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا


"Perbuatan bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena orang yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya." (Syarh ushuli'I-I'tiqad, Al-Lalika'iy 1/132)



Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka otomatis ia merasa tidak perlu untuk bertaubat darinya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut.

Dan satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bi'dah tersebut, maka Allah ta'ala akan semakin jauh darinya. Hal ini dituturkan oleh    seorang ulama salaf yang bernama Ayyuub As­-Sikhtiyani rahimahullah beliau berkata:

مَاازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةْ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً


"Tidaklah seseorang yang melakukan bid'ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid'ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah. "(AI-Amru bi'I-Ittiba' wa'n-Nahyu 'ani'I-Ibtida', Imam As-Suyuthi : 66)



Walhasil, bid'ah dengan semua macamnya adalah fitnah syubhat yang harus kita hindari agar ibadah kita kepada Allah ta'ala benar-benar murni dan bersih dari noda-noda yang mengotorinya, karena semua jenis bid’ah dalam dien adalah sesat meskipun menurut pandangan kita adalah baik.

Dalam hal ini Abdullah bin Umar radiallahu 'anhu berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً  (المدخل إلى السنن الكبري للبيهقي رقم 191 )


"Setiap bid'ah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandangnya hal itu tampaknya baik." (Al-Madkhal ila's­Sunani'l-Kubra, Imam Baihaqi, No 191)

Tanya:
Apakah yang disebut dengan bid'ah dalam aqidah dan bid'ah amaliah (dalam ibadah)?

Jawab:
Secara bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya sebelumnya.

Sedangkan secara istilah bid'ah adalah segala tata cara yang baru dalam beribadah kepada Allah ta’ala yang menyimpang dari yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bid'ah dalam urusan Dien dibagi menjadi dua yaitu bid'ah dalam aqidah dan bid'ah dalam amaliyah atau ibadah. (Lihat Kitabut Tauhid, Syeikh Shalih Fauzan : 81)
Bid'ah dalam aqidah artinya adalah keyakinan-keyakinan yang menyimpang yang berbeda dengan keyakinan yang di yakini oleh Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam dan para sahabatnya.

Bid'ah dalam aqidah yang paling berbahaya adalah kesyirikan.

Memang, nampaknya secara langsung kita tidak mendapatkan ada seorang muslim yang nyata-nyata menyembah berhala, sujud kepada patung, atau menyembah pohon dan batu besar yang dianggap keramat. Namun ada beberapa fenomena yang secara sekilas tampaknya tidak menyimpang, akan tetapi pada hakekatnya hal itu hukumnya sama seperti menyembah patung, dalam arti termasuk perbuatan syirik, seperti mengakui adanya kekuatan lain selain Allah ta'ala , mengganti bukum Allah ta'ala dengan hukum buatan manusia, memasang sesaji, jimat dan mempercayai seseorang yang mengaku memiliki ilmu ghaib serta mengkultuskan para hamba­-hamba Allah yang shalih. Semua ini mengakibatkan rusaknya tauhid dan aqidah kita lantaran syubhat-syubhat tersebut.

Sisi lain yang termasuk dalam bid'ah dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti Mu'tazilah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah dan aliran-aliran menyimpang lainnya. Masing-masing aliran keagamaan ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat. Dan untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil-dalil dari Al-Qur'an As-sunnah dan mencocokkannya dengan pemikiran dan hawa nafsu mereka, yang sesuai dengan hawa nafsu mereka mereka ambil, sementara yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.

Inilah diantara bid'ah-bid'ah yang berbahaya dibidang aqidah, dan tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengikuti aliran­aliran tersebut berarti mereka telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar, ajaran yang dipahami dan diamalkan oleh Nabi shallalahu 'alaihi wasalam; para sahabat beliau, para tabiin, tabiit-tabiin dan para imam yang terpercaya.

Diantara bid'ah-bid'ah yang dilontarkan dan dipropagandakan oleh firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang menyimpang tersebut adalah sebagai berikut:

Mu'tazilah, mereka terlalu mendewakan akal, tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah, menta'wilkan ayat ayat tentang sifat Allah ta'ala dan berpendapat bahwa Al-Qur'an itu makhluk.

Syi'ah, mereka mengkafirkan sebagian besar sahabat termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat besar lainnya, meyakini bahwa Al-Qur'an yang dimiliki mereka berbeda dengan Al-Qur'an yang dimiliki oleh orang-orang Sunni pada umumnya, membolehkan nikah mut'ah (kawin kontrak) dan masih banyak lagi ajaran-ajaran mereka yang menyimpang.

Khawarij, mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan membolehkan keluar dari Imam jamaah kaum muslimin.
Qadariyah, mereka menyatakan bahwa manusia adalah pencipta seluruh apa yang diperbuatnya, sedikitpun mereka tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa-apa yang dilakukan manusia.
- Jabariyah, mereka berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kehendak sedikitpun, menurut mereka manusia itu ibarat robot yang gerak-geriknya dikendalikan Allah .

Jahmiyah, mereka tidak mengakui keberadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala.

Demikianlah beberapa contoh bid'ah dalam bidang Aqidah.
Dan agar kita selamat dari fitnah ini, maka marilah kita berpegang teguh kepada aqidah yang benar, aqidah yang diyakini oleh Rasululllah shallahu 'alaihi wasalam , para sahabat beliau, para tabi'in dan tabiit tabiin serta para imam-imam yang terpercaya. Dalam hal ini Allah ta'ala telah berfirman:


قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}

"Katakanlah: Inilah jalan (dien)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (Surat Yusuf : 108)

Kata-kata: "Bashirah" menurut Imam Thabari dalam tafsirnya berarti "Keyakinan dan ilmu" (Lihat Tafsir Thabari 7/315)

Dan seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata:

إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعَلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَالتَّنَطّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ



"Sesungguhnya kalian akan mendapati sejumlah kaum yang mengklaim bahwa mereka menyeru kalian kepada Kitabullah, padahal mereka mencampakkannya dibelakang punggung mereka. Maka hendaklah kalian berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bid'ah, janganlah kalian berlebih-lebihan dan jangan kelewatan dan hendaklah kalian berpegang teguh kepada pendapat orang orang terdahulu (yakni kaum salafus shalih)" (Syarh Ushuli'I-I'tiqad, Imam AI-Lalika'iy)
Adapun bid'ah yang kedua adalah bid'ah dalam bidang ibadah.
Bid'ah ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan bentuk bid'ah yang pertama, karena bid'ah ini juga akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan.

Pengertian bid'ah dalam bidang ibadah adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah.

Orang yang terjebak dalam kubangan fitnah ini atau dengan kata lain orang yang melaksanakan bid'ah amaliah ini berada pada posisi yang sangat berbahaya, karena lantaran syubhat yang ada padanya, ia tidak merasa bersalah atas apa-apa yang ia lakukan, sehingga tidak mungkin ia bertaubat darinya, padahal apa yang dilakukannya itu bertentangan dengan sunnah Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam, dan tidak ada tuntunannya dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam .

Oleh karenanya, fitnah syubhat dalam bentuk ini lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang. Sebagaimana diungkapkan oleh Sufyan Ats-Tsaury Rahimahullah:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا



"Perbuatan bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena orang yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya." (Syarh ushuli'I-I'tiqad, Al-Lalika'iy 1/132)

Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka otomatis ia merasa tidak perlu untuk bertaubat darinya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut.

Dan satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bi'dah tersebut, maka Allah ta'ala akan semakin jauh darinya. Hal ini dituturkan oleh seorang ulama salaf yang bernama Ayyuub As­-Sikhtiyani rahimahullah beliau berkata:




مَاازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةْ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً

"Tidaklah seseorang yang melakukan bid'ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid'ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah. "(AI-Amru bi'I-Ittiba' wa'n-Nahyu 'ani'I-Ibtida', Imam As-Suyuthi : 66)

Walhasil, bid'ah dengan semua macamnya adalah fitnah syubhat yang harus kita hindari agar ibadah kita kepada Allah ta'ala benar-benar murni dan bersih dari noda-noda yang mengotorinya, karena semua jenis bid’ah dalam dien adalah sesat meskipun menurut pandangan kita adalah baik.

Dalam hal ini Abdullah bin Umar radiallahu 'anhu berkata:


كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً (المدخل إلى السنن الكبري للبيهقي رقم 191 )

"Setiap bid'ah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandangnya hal itu tampaknya baik." (Al-Madkhal ila's­Sunani'l-Kubra, Imam Baihaqi, No 191)

Daftar Isi Dialog

Pilihan Menu

Dialog Terbaru

Dialog Terpopuler

Komentar Anda

Jumlah Pengunjung Dialog

.